
"Siapa sih?"
Si Nita? Jelas gak mungkin, Dirga? Baru aja tadi ketemu dan dia sudah pasti langsung nemuin gue kalau butuh, Atau jangan jangan Reno? Tapi dia kan di rumah, kalau dia di rumah. Udah pasti gak bisa hubungi gue.
Cecilia sibuk dengan monolognya sendiri, bertepatan dengan bunyi bel di pintu. Dia pun kembali melempar ponselnya sembarangan tanpa ingin membalas pesannya.
Bunyi bel terus menerus, seolah seseorang tengah tidak sabar menunggunya.
"Bentar kenapa sih!" ucapnya dengan berjalan ke arah pintu. "Gak sabaran banget!" ujarnya lagi saat membuka pintu.
Kedua matanya terbelalak sempurna saat melihat orang yang kini berdiri didepannya dengan tersenyum, seorang wanita berjalan masuk walau Cecilia belum mengatakan apa apa. Dia terkesiap dan mengikutinya serta tidak lupa menutup pintu.
"Apa kabar Cecil?"
"Tan--tante Irene? Kok tahu apartemen ini?" Tanyanya heran, dengan menatap ke arah pintu lagi.
"Aku datang sendiri! Kau sibuk?"
"Enggak kok tante, tapi aneh aja. Kok tante Irene bisa tahu aku tinggal di sini, padahal aku tidak kasih tahu tante kan."
Ada perasaan heran yang bercampur dengan dugaan dugaan buruk yang kerap terjadi saat dia menjalin hubungan dengan seorang Daddy, yaitu ketahuan.
Wanita dengan wajah berseri dan tampak elegan itu duduk di sofa walau Cecilia belum mempersilahkannya, begitu juga dengan tatapannya yang menyapu seluruh ruangan dengan kepala terangguk angguk.
"Apartemen ini sangat nyaman, kau betah di sini Cecilia?"
Pertanyaan yang mengandung jebakan, dia mengangguk dan berusaha men stabilkan fikiran dan otaknya. Kenapa tante Irene bisa datang kesini, apa Reno ketahuan. Apa dia juga tahu kalau Apartemen ini Reno yang kasih.
"Tante Irene ma--mau minum apa?"
"Tidak usah repot repot, aku kemari hanya ingin menawarimu pekerjaan." ujarnya dengan datar, dia menatap Cecilia dengan menelisik.
Bak di curigai karena menjalin hubungan dengan suaminya atau hanya ketakutannya belaka, Cecilia beringsut duduk. Dengan wajahnya yang lugu namun penuh kewaspadaan.
"Pekerjaan? Maksudnya tante?"
"Aku tidak ingin berbasa basi, jadi aku akan langsung pada inti masalahnya saja." ujar Irene dengan tegas, sudah pasti dia tidak lemah seperti apa kata Reno padanya. "Aku tahu siapa kamu Cecil!" ujarnya menohok.
Uhuk!
Cecilia tersedak salivanya sendiri, bagaimana Irene tahu siapa dirinya, apa Reno benar benar ketahuan dan dia datang dengan tujuan mengambil semua fasilitas yang diberikan Reno padanya.
"Aa--aku!?"
Irene mengangguk pelan, "Sejak kapan itu terjadi, aku tidak akan bertanya padamu---"
Sial ... Beneran ketahuan, gawat ini! Ayo Ce mikirlah ...Cepetan.
Irene menjeda perkataannya, dia mengelus lengan Cecilia dengan lembut. Membuat gadis berambut pirang itu terkesiap.
"Yang jelas, hidupmu pasti sangat berat sampai kamu melakukan hal itu." lanjutnya lagi.
"Hah?!"
"Asisten suamiku yang bercerita semuanya padaku, kalau kamu---"
Cecilia menggelengkan kepalanya lirih, "Enggak kok! Itu karena...."
Sialan tuh asisten, dia benar benar brengsekk bocorin hubungan gue sama Reno. Awas aja kalau ketemu.
Untuk sesaat Irene terdiam, sesekali hanya helaan nafas panjang yang terdengar berat. Membuat Cecilia semakin penasaran dan juga bertanya tanya apa yang akan Irene lakukan padanya.
"Suamiku memiliki wanita lain selain aku," ujarnya tiba tiba lalu menghela nafas, "Aku tahu ini sangat konyol disaat usia kami tidak lagi muda. Tapi ... Aku hanya ingin hidup tenang di sisa usia ku ini. Dan jujur saja, ini sangat menggangguku akhir akhir ini."
Cecilia merekatkan jemari tangannya, dia siap siap menerima makian dan juga hinaan halus bahkan mungkin tindakan kekerasan dari istri daddynya itu.
"Aku ingin kau bantu aku menemukan wanita itu. Wanita yang mengganggu suamiku." celetuknya dengan menatap Cecilia.
Cecilia mengerjapkan kedua matanya, dia tidak mengerti Irene tengah bertindak atau mengulur waktu saja, berpura pura tidak tahu atau menunggunya yang mengatakannya sendiri.
"Ma---"
"Seperti yang asistennya bilang! Wanita itu memanfaatkan suamiku, walaupun dia tahu pria itu beristri bahkan berusia lanjut. Aku tidak mengerti."
"Maksudnya tante Irene belum tahu siapa wanita itu?" tanya Cecilia dengan hati hati, dengan keringat mulai membuatnya tidak nyaman.
"Ya ... Kalau aku tahu ... Pasti aku tidak akan datang ke sini dan meminta kamu membantuku Cecil."
Lebih sial sih ini, kalau emang bener tante Irene gak tahu siapa wanita itu dan justru minta gue buat cari tahu. Bakal bener bener anjim sih ini.
"Emangnya tahu dari mana tante Irene kalau suaminya punya wanita lain! Atau hanya perasaan tante aja kali."
"Perasaan seorang istri itu tidak bisa di bohongi! Aku bisa tahu dari gelagat Reno, juga beberapa hal lainnya." tukas Irene yang kembali menghela nafas.
"Terus Asistennya kenapa ngarahin tante ke aku? Emangnya ... Dia tahu apa tentang aku?"
"Dia bilang dia tahu kamu dan pasti bisa bantu! Itu saja...." sahutnya.
Lamat lamat Cecilia menatap Irene, dia ingin memastikan jika Irene memang datang meminta bantuannya.
"Tapi aku tidak punya informasi tentang wanita itu! Jadi aku ingin kamu mencari tahu tentang semua informasi yang aku butuhkan."
Cecilia terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa. Mengingat Irene yang hanya mengandalkan perasaannya yang kuat sebagai istri. Kendati begitu, Cecilia juga tidak bisa menolak permintaannya karena juga takut menimbulkan kecurigaan.
"Gimana?" tanya Irene dengan menggenggam tangan Cecilia, membuatnya semakin yakin jika Irene memang tidak tahu jika wanita itu adalah dia sendiri.
"Kenapa diam saja Cecil! Kamu tidak ingin membantuku?"
"A--aku hanya bingung harus mulai da--dari mana, atau mungkin aku harus mulai dari suami tante dulu? Ngobrol ngobrol sebentar sambil mencari tahu?"
Irene mulai berfikir dengan ide Cecilia, dia juga menganggukkan kepalanya pelan.
"Kalau begitu datanglah ke rumah, tapi ingat rahasiakan kalau aku kesini dan meminta bantuanmu."
Cecilia mengangguk, entah kenapa ide cemerlang itu muncul begitu saja, Oh god ... tahu aja kalau dompet gue udah tipis banget. Ini sih namanya tawaran menggiurkan.
"Jadi?" tanyanya membuyarkan lamunan Cecilia.
"Tapi sebelum itu, aku ingin ketemu dengan asisten suami tante bisa kan? Kali aja aku ingat dia pas ketemu orangnya."
"Boleh ... Dia ada di luar."
"Hah?"