
"Apakah ini masalah besar?" tanya Siska penasaran, sampai sampai bolpoin di tangannya terus dia gerak gerakan di sela jarinya. "Bicaralah Cecilia, aku Ďokter yang sudah di sumpah untuk menjaga kerahasiaan dan juga data data pasien," ujarnya lagi menerangkan.
Lamat lamat Cecilia menarik kursi yang tengah dia duduki sampai jaraknya lebih dekat pada Siska. Keduanya matanya pun beredar ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada suster yang mendengarkannya bicara.
Gadis berusia 20 tahun itu mencondongkan tubuhnya setengah lalu berbisik lirih. Siska yang mengikuti gerakannya dengan mencondongkan kepalanya. Kedua alisnya bertautan, tak lama kemudian kedua maniknya melebar dengan pupil sempurna.
"Kau serius?" Siska menarik tubuhnya agak kebelakang dengan wajah kaget.
"Aku serius!"
"Tapi ... !" Siska terdiam sejenak, "Kau salah Dokter Cecilia." lirihnya kemudian.
"Hah?"
"Ya ... Kau salah, yang kau temui harusnya dokter bedah plastik. Bukan Obygn." terang Siska yang lambat laun terkekeh juga. "Apakah itu penting?"
"Jadi aku salah daftar dong?"
"Ya Cecilia, kau salah daftar, kalau kau mau memeriksa kandunganmu, saluran indung telur mu, saluran kemihmu, konsultasi kehamilan atau cek kesuburan. Kau tepat dengan datang ke dokter ini. Tapi kalau kau ingin operasi Hymenoplasty, kau harus datang ke dokter bedah."
Brak!
Pintu terbuka lebar, membuat keduanya kaget dan sontak melihat ke arah pintu di mana sesosok pria berjas putih berdiri dengan tatapan tajam.
"Apa yang kau lakukan? Hymenoplasty?"
"Sayang, kenapa kau kemari?" Cecilia bangkit dalam keadaan kaget bukan main melihat suaminya datang, terlebih dia mendengar ucapan Siska.
"Untuk apa kau melakukan Hymenoplasty Cecilia?"
Cecilia menoleh ke arah Siska yang tersenyum lebar, "Heh ... Aku aja gak tahu arti istilah itu, aku hanya ingin me---"
"Ya itu sama saja, yang aku katakan istilah kedokteran!" sela Siska cepat agar tidak terjadi kesalah fahaman yang akan membuatnya terseret.
Irsan menghela nafas, sejurus kemudian dia menarik tangan Cecilia dan membawanya pergi tanpa kata dan tanpa ucapan pada Siska. Sementara Siska hanya mengurut dada saat teman satu perjuangannya sejak dulu terlihat marah dan juga kesal.
"Astaga ... Bisa bisa dia marah besar karena soal itu."
***
Cecilia dibawany masuk kedalam ruangan prakteknya, tidak lupa dia juga mengunci pintu agar tidak ada satupun orang yang bisa masuk. Persetan dengan para suster yang tengah berkumpul di station nurse memperhatikan mereka.
"Saya---" Cecilia baru sjaa membuka mulutnya hendak bicara.
"Itukah sebabnya kau tidak mau aku sentuh Cecilia?" suara berat Irsan membuat mulutnya yang hendak terbuka kembali memgatup rapat.
Cecilia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dengan wajah tersenyum malu. "Kan aku juga ing---"
"Apa aku menuntutmu untuk melakukan hal itu, hm?" tanyanya datar. "Astaga Cecilia, kau benar benar konyol." Irsan meraup wajahnya, tapi juga seperti menahan tawa. "Astaga ...!" ulangnya terus menerus.
"Ya emang salah, itu gak salah kan?"
"Apa ...!"
Cecilia memang hanya mengerti satu hal, dia bisa memperbaiki elastisitas selaput daraa yang sudah robek miliknya menjadi lebih baik dengan operasi keperaaawanan.
"Dengar Cecilia, Operasi Hymenoplasty itu ...!" Irsan terdiam sejenak, entah harus menjelaskan seperti apa pada Cecilia. "Aku tidak mengijinkannya."
"Tapi aku mau ... Toh itu juga untukmu kan!" terang Cecilia tanpa ragu, sementara Irsan saja tidak bisa mengatakannya secara gamblang.
"Akan sangat berbeda Cecilia, bahkan dinegara lain itu tidak di wajibkan, semua ada resikonya, lagi pula itu tidak mengembalikan keperawaananmu." akhirnya tercetus sudah dari mulutnya. "Operasi itu hanya akan memperbaiki kulit tipis diselaputt daramu saja, apa yang kau fikirkan saat berfikir ingin melakukannya."
"Kamu!" jawabnya enteng, "Aku kan udah bilang, aku ingin melakukan hal terbaik untukmu, itu salah satunya. Aku tidak mau me---"
"Aku tidak membutuhkannya Cecilia, aku menerimamu apa adanya, terlepas robek atau tidaknya selaputt daramu, atau apapun itu yang kau bicarakan!" Irsan melangkah ke arah meja kerja. "Bahkan kau menggodaku saat kau sudah tidak perawaan! Apa yang salah dengan hal itu, aku bahkan tidak protes dan tidak menganggap itu sesuatu hal yang penting lagi." sambungnya lagi.
Ah masa bodo dengan selaputt dara yang ingin dia rombak seperti semula, Cecilia berhambur memeluk Irsan yang begitu menerimanya dengan apa adanya dia. Dengan kedua manik yang berkaca kaca.
"Aku hanya malu, benci dan ngerasa gak pantes buat jadi istrimu Mas."
Irsan membalikkan tubuhnya, menatap manik hitam yang kini berbinar hampir menangis.
"Kalau perasaanku saja bisa menyesuaikan kehadiranmu dengan begitu hebat, apalagi maumu Cecilia?" terang Irsan dengan merengkuh kedua pundaknya dan memeluknya. "Fikiranmu terlalu dangkal, kau fikir aku menuntut kegadisanmu?"
"Ya ... Aku hanya berfikir apa yang bisa aku lakukan untukmu, kamu nerima aku apa adanya, melakukan semua yang terbaik. Aku juga mau melakukannya."
"Bodoh! Aku tidak ingin kau melakukan yang terbaik, itu tugasku, kau hanya harus menerimanya tanpa berfikir dua kali untuk membalasnya. Cukup. Itu saja!"
"Aaahhahah .... So sweet banget sih kamu!" Cecilia merekatkan pelukannya pada Irsan, merasa jadi wanita paling beruntung mendapatkan pria sebaik Irsan.
Walaupun sering kali istilah mengatakan jika pria baik hanya untuk wanita baik, begitu pula sebaliknya. Tapi entah apa yang dia lakukan di kehidupan sebelumnya hingga bisa mendapatkan pria sebaik Irsan pada kehidupannya sekarang.
Tuhan memang adil, begitu fikir Cecilia, menghadirkan pria baik untuknya agar lebih baik dari dirinya yang sebelumnya. Membawanya ke arah lebih baik bahkan merubah segala pemikiran pemikirannya selama ini.
"Tapi aku sekarang jadi malu karena Dokter Siska tahu,"
"Kenapa juga kau melakukan hal itu tanpa berkompromi denganku, aku ini suamimu sekarang Cecilia. Bicaralah denganku apapun itu." terangnya dengan pelukan yang semakin erat.
Cecilia mengangguk, mengenadahkan kepala ke atas menatapnya. "Aku gak tahu harus bilang apa lagi saat kamu hadir di hidupku Mas."
Irsan mengulas senyuman, mencapit dagu Cecilia dan mengeecup bibirnya lembut.
"Ayo kita pulang."
.
.
Cece belegug ih kamu ... Othor aja dibikin ngakak coba sama lo, untung Mas tiang uwuuuuu banget kan. Sweet banget kan.
Ahh hampir lupa, othor mau bilang makasih buat yang udah bela belain ke tetangga sebelah buat nengok Nita. Lope lope badag buat kalian. Ketauan gak sih kalau ada update terbaru di sana.