
Siska mengangguk, dia membawa buku yang dia ambil lalu melewati Cecilia dengan sedikit tersenyum sebelum akhirnya keluar. Keyakinannya benar kalau diantara mereka pasti ada sesuatu yang terjadi karena melihat respon yang Irsan tunjukan.
"Kenapa?"
"Kenapa apanya? Apa aku salah karena melamar pekerjaan ditempatmu?" sahut Cecilia, wajahnya sangat datar, berbeda sekali dengan wajah saat mereka di rumah sakit.
Irsan kesulitan membedakannya, apa yang di rasakan Cecilia sampai mengejarnya sedemikian rupa.
Gadis yang merasa benar benar diremehkan itu berdecih "Apa kau berfikir aku kesini karena ingin mengerjarmu?"
"Ada alasan lain selain itu? Apa gadis sepertimu selalu mengejar sampai tujuanmu berhasil? Sampai kau rela melamar pekerjaan di sini hanya untuk mendapat perhatianku? Kau fikir aku bodoh, aku tahu semua akal busuk gadis sepertimu."
"Gadis sepertiku? Kau benar benar meremehkan! Apa yang kau tahu dari gadis sepertiku?"
"Sudahlah, lebih baik kau pergi saja! Aku tahu ini tidak akan berhasil, aku sudah katakan aku tidak menyukaimu sama sekali dan tidak akan pernah menyukaimu."ujarnya berbalik dan menyimpan buku ditempatnya lagi.
"Kau salah kalau berfikir aku akan menyukaimu sekalipun kau merubah penampilanmu sendiri! Kau menjijikan."
"Benarkah? Kau fikir aku kemari karena aku benar benar menyukaimu Dokter Irsan? Memandang rendah gadis sepertiku hanya karena kau tahu aku sering menggodamu? Juga menggoda orang lain?" Cecilia semakin berang karena bukan hanya remehkan saja, harga dirinya sudah dilukai, apa yang salah dengan dirinya, tangannya pun mengepal saking kesalnya pada Irsan.
Tujuannya datang memang untuk menarik perhatian pria yang terlihat menyukainya tapi tidak juga menerimanya. Namun setelah diremehkan dan harga dirinya tersinggung, dia hanya ingin membuktikan dirinya sendiri, bahwa gadis sepertinya pun layak untuk bekerja, bahkan bisa bekerja dengan baik. Tidak soal ranjang melulu dan rayu merayu.
"Kau salah besar Dokter Irsan, aku kemari karena memang butuh pekerjaan, dan aku fikir orang dengan pendidikan tinggi dan profesi mu yang udah kayak malaikat tanpa cela itu gak berhak merendahkan orang lain." Ujarnya tegas, dia menghela nafas berat sebelum mengeluarkan apa yang di fikirannya, "Sekalipun aku gadis rendahan! Kau tidak berhak bicara seperti itu. Kau tidak mengenalku, kau juga tidak tahu apa apa soal hidupku. Jadi jangan so Suci seolah derajatmu lebih tinggi dari ku." ujarnya menohok.
Cecilia berbalik dengan tangan memegang handle pintu, namun sedetik kemudian dia kembali menolehkan kepalanya.
"Sekalipun aku suka padamu, aku akan berhenti saat itu juga kalau tahu fikiranmu terlalu pendek Dokter. Permisi."
Cecilia keluar setelah mengungkapkan apa yang dia ingin ucapkan, kekesalannya membuncah hingga dia membuka apron dan melemparkannya begitu saja. Dia juga membuka kancing kemeja dan kemudian membuka pakaiannya. Dia keluar dengan hanya menggunakan tank top berwarna peach tanpa ingin peduli orang orang yang melihat ke arahnya.
Dimas melongo saat Cecilia melewatinya begitu saja, tanpa pamit, tanpa mengucapkan apa apa. Dia melangkah keluar dari coffee shop.
Terlihat Nita yang tengah menunggunya disalah satu kursi melambaikan tangan dengan kedua alis mengernyit karena Cecilia membuka atasan kemeja yang dikenakannya.
"Kenapa lo? Kusut amat!" tanyanya saat Cecilia menghampirimya, menyeruput es boba miliknya lalu terduduk.
"Gue kesel! Pake banget sama si Irsan."
"Iya kenapa? Dia nolak lo lagi?"
"Bukan cuma nolak Ce! Dia juga ngerendahin banget gue. Anjim banget tuh orang. Udah kayak manusia paling sempurna di muka bumi." dengusnya dengan kesal. Dia terus menyeruput minuman Nita sampai tidak bersisa sedikitpun.
"Kesel sih kesel! Tapi gak habisin minuman gue juga kali."
Cecilia melebarkan kedua matanya kesal pada sahabatnya, menyimpan cup es boba yang telah habis di meja dengan sedikit keras sampai penyok.
"Ini semua gara gara lo! Ide lo anjim banget! Gue udah sejauh ini dan gagal. Malah harga diri gue ikut dia singgung."
"Sorry Ce ... Gue fikir lo bisa handle."
Nita menghela nafas, semua rencananya ternyata gagal total dan malah membuat Cecilia berang. Dia menatap sekilas Coffee Shop milik Irsan lalu mengikuti langkah Cecilia.
Mereka berjalan ke arah lift dan masuk kedalamnya. Menekan nomor lantai dimana karoke berada.
"Lo yakin Ce lo bakal nyerah gitu aja?"
Cecilia bersandar di dinding lift, dia mengangguk lirih sebagai jawabannya. Kata kata yang dilontarkan Irsan benar benar membuatnya sakit hati.
"Dia gak berhak nilai gue seburuk itu! Dia gak tahu gimana perjuangan gue bertahan sampai bisa kayak sekarang." gumamnya pelan.
Nita mengelus bahunya lembut, merasa bersalah karana melakukan hal ini pada sahabatnya itu.
"Sorry Ce!!"
"Lo tahu kan segimana beratnya kita hidup dulu Nit? Gak punya apa apa bahkan hampir mati sengsara."
"Iya gue tahu Ce! Kita udah banyak ngalamin hal buruk dulu."
"Iya kan, bahkan saat orang orang kayak si Irsan menikmati hidupnya, gue sama lo harus merangkak cuma buat makan doang."
"Udah Ce! Lo jadi sentimentil banget! Lo bener bener suka sama Irsan? Biasanya juga lo gak peduli omongan orang lain yang bahkan gak tahu kita."
"Mulai sekarang udah enggak suka! Gue mending seumur hidup jadi sugar baby dari pada harus sama Si Irsan." Jawabnya dengan kesal, berjalan keluar dengan membuang atasan yang baru dia beli itu ketempat sampah, sampai membuat Nita menggelengkan kepalanya.
Mereka masuk ke tempat karoke dan menghibur diri. Selama dua jam mereka berada di dalam dan bersenang senang.
Sementara Irsan tidak beranjak dari tempatnya, memikirkan ucapan Cecilia yang terus berdengung di kepalanya.
"Sepertinya aku sudah keterlaluan! Apa benar dia kemari karena membutuhkan pekerjaan saja dan tidak ada yang lain." gumamnya sendiri.
Siska yang kembali masuk menghela nafas, dia sudah tahu jika Cecilia sudah dua jam training di tempat itu, dan menurut Andre Cecilia mendapatkan respon yang bagus dari pengunjung Coffee shop karena keramahannya, juga pekerjaannya yang baik.
"You ok?"
Irsan mengangguk pelan, dia menyandarkan punggungnya di kursi tanpa melihat ke arah Siska.
"Maaf! Aku tidak bermaksud melibatkanmu tadi!" ujarnya saat mengingat dia telah memeluk dan merengkuh pinggangnya tadi.
"It's ok! Sepertinya gadis yang melamar pekerjaan itu benar benar mengganggu fikiranmu. Apa kau juga berfikir begitu?"
"Tidak sama sekali! Dan berhenti membahasnya Siska."
Siska menarik kursi dan terduduk dihadapannya. "Kalau kau butuh bantuanku. Aku selalu siap membantumu termasuk soal ini. Kau bisa mengandalkanku."
"Thanks. But it's ok! Semua ini tidak penting. Aku hanya berfikir ucapanku terlalu keras padanya."