
Keduanya menoleh sekilas ke arah suara, lalu kembali saling menatap. Tak lama mereka melepaskan diri namun sayang pintu lift justru kembali tertutup sebelum mereka sempat keluar.
"Sial!"
"Anjim! Malah naik lagi." gumam Cecilia yang menatap lauar kecil berkerlap kerlip dengan tanda panah ke atas. "Ngapain jadi ke atas."
Irsan menghela nafas, dengan kedua tangan dia masukkan kedalam saku celana. "Kau pasti sengaja kan!"
Cecilia menoleh ke arah belakang, "Ngapain juga kesini! Kalau aku mau. Aku bisa ke unitmu langsung, atau menarikmu ke unitku. Ngapain kesini. Ribet amat. Kau tahu aku kan?"
"Dasar nakal!
"Emang! Udah deh, jangan ngajak ribut bisa kan? Mood ku lagi gak bagus nih!" terangnya lalu keluar dari lift pada saat pintu lift baru saja terbuka.
"Hey ... Mau kemana! Lebih baik kita turun saja! Disini anginnya besar. Kau mau masuk angin."
"Udah biasa! Kalau kau mau turun. Turun aja, aku mau di sini dulu." ucap Cecilia dengan merentangkan kedua tangan ke udara, angin malam yang berhembus memang lebih kencang. Terlebih di tempat paling atas Apartemen itu terbuka, kita juga melihat kesekeliling. Bangunan bangunan yang tidak kalah tinggi juga pemandangan langit yang terhampar luas.
Irsan mengedarkan pandangannya, selama dia tinggal di apartemen itu. Tidak pernah sekalipun dia pergi ke tempat itu, tidak punya waktu dan juga tujuan untuknya pergi ke sana.
"Hm ...! Seger."
"Segar apanya! Kau hanya akan masuk angin saja sepulang dari sini." tukas Irsan yang sudah merasa angin malam mulai menusuk nusuk tubuhnya.
Cecilia terkekeh, dia justru membuka mulutnya lebar lebar yang mengeluarkan udara panas yang terlihat seperti kepulan asap ke udara. "Bedalah, kau kan udah tua."
"Lalu kenapa kau selalu menggoda pria pria tua? Padahal kau bisa mendapat pria yang sepantaran denganmu."
Cecilia menoleh ke arahnya, lalu mengulas senyuman. "Dokter mau tahu?"
"Karena uang mereka?" tebak Irsan, karena itulah yang jadi alasan yang paling masuk akal.
"Nah itu tahu!"
"Kau jujur sekali! Apa kau tidak pernah memikirkan orang lain yang akan merasa sakit hati karena ucapanmu itu Cecilia?"
"Enggak tuh, siapa yang bakal sakit hati. Dokter?"
Irsan tidak menjawabnya, dia melangkah maju dan mensejajarkan tubuhnya dengan Cecilia, menatap kemerlap kemerlap lampu dari jalanan ataupun rumah rumah yang tengah menyala.
"Cowo kok sakit hati! Cowok itu harusnya sakit pinggang, ini malah sakit hati." Cecilia mengerdikkan bahunya sedikit.
Sementara Irsan mengernyit mendengar ucapannya, lalu menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kau selalu bicara semaumu begitu!"
"Kenapa? Bukankah kau juga suka?" Cecilia yang sejak tadi mood nya berantakan dan kini mulai mencair. "Lagian ya, pria yang lebih tua itu lebih berduit dari pada pria sepantaran yang cuma ngandelin duit orang tua."
Deg
Ritme jantung Irsan semakin tidak karuan karena ucapan gadis yang dia mulai sukai itu terlalu blak blakan, membicarakan pria pria lain dan soal uang secara terang terangan kepadanya.
"Apa kau masih ingin bermain main denganku?" ucapnya, namun setelah mengucapkannya, dia merasa sedikit menyesal. Bodoh, untuk apa aku menanyakan hal itu padanya, dia memang hanya ingin bermain main saja denganku kan.
Cecilia menoleh ke arah wajah datarnya dan terkekeh. "Aku kan sudah bilang, aku akan membuat hubunganmu dan pacarmu berantakan, sekalipun kau menghapus foto seksimu itu, aku masih punya salinannya."
"Kau!!"
Cecilia mengedipkan mata lalu mengecup pipi Irsan dan melenggang pergi. Dia kembali masuk kedalam lift dengan mengulas senyuman ke arahnya. Irsan jelas terperanjat. Namun dia juga melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift.
Cecilia tentu saja membalas pagutannya, saling merasai lagi dan lagi, membuat decakan demi decakan bergema di kotak besi yang membawanya kembali turun.
Cecilia melenguh, mengeluarkan desahaan dengan nafas yang kian memburu hebat. Merangsek leher kemeja Irsan dan mencecapnya sesekali hingga pria itu semakin menarik tubuhnya lebih erat. Hingga lift terbuka di lantai lima dan keduanya tersentak kaget dan melepas pagutannya saat satu suara memanggil.
"Irsan?"
"Mati gue!" gumam Cecilia. Dia melangkah hendak keluar namun Irsan mencekal lengannya dan menggenggamnya.
Ines berdecak dengan kepala yang dia gelengkan, tetap berdiri didepan pintu lift menunggu mereka berdua.
"Bukankah kau ingin membuat hubunganku dengannya berakhir?"
"Ya ... Tapi aku belum persiapan nih! Kalah ke gep duluan. Salinan foto itu juga adanya di laptop. Mana aku gak bawa lagi."
"Kau tidak memiliki cara lainnya?" Ujarnya menarik Cecilia keluar dari lift.
Dan ini mereka berdua berdiri di depan Ines yang masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat, menatap keduanya dengan bergantian lalu berakhir pada Irsan.
"Apa kalian berhubungan di belakangku?" Tanya Ines pada keduanya dengan melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Ak---"
"Kalau iya memangnya kenapa?" sela Cecilia lebih cepat dari Irsan.
Pria itu mengulas senyuman tipis sembari menatap ke arah Ines. Lakukan sesuatu Nes.
"Oh ya? Waw ...!"
"Kau tidak percaya kalau pacarmu menduakanmu kan? Kau bahkan melihat kami berciuman tadi, So sorry! Tapi aku menyukainya dan dia menyukaiku."
"Ya aku melihatnya, dan aku tahu kau selalu datang menggodanya, dan membuatnya bisa menyukaimu dengan mudah karena selalu kau goda kan?"
"Enggak. Lebih tepatnya kami saling menggoda. Benarkan Sayang?" Cecilia mengulas senyuman dengan menyandarkan kepalanya di bahu Irsan.
Ines menghela nafas, dengan mengibaskan tangan. "Terserahlah!" ujarnya lalu mengenadahkan tangan ke arah Irsan. "Kunci mobil! Mobil itu milikku kan?"
Tanpa kata Irsan memberikan kunci mobil pada Ines, membuat Cecilia terbelalak karena Irsan menurutinya begitu saja.
"Nah gitu dong! Itu baru Fear. Aku titip dia ya." ucapnya menepuk bahu Cecilia lalu melengos pergi.
"Heh ... Kurang ajar!" kata Cecilia dengan melangkah menyusul Ines yang sudah berjalan masuk ke dalam lift.
Irsan menarik lengannya, hingga dia tidak sempat masuk dan Ines melambaikan tangan ke arahnya.
"Heh ... Kok diem aja sih! Kau berikan mobilmu begitu saja padanya! Bahkan kau diam saja. Dia jelas jelas menitipkanmu. Itu artinya dia benar benar tidak tulus cinta kan? Dia sama aja sama gue."
"Biarkan saja. Itu mobil memang jadi miliknya sekarang." Irsan menarik kembali tangan Cecilia yang sepertinya sulit sekali melangkah, dia masih ingin mendamprat Ines karena kurang ajar pada Irsan dan tidak menghargainya seperti itu.
"Sudah ayo pergi! Kau mau mereka berfikir yang tidak tidak."
"Lepas! Gue mau susul tuh cewe sundel. Bisa bisanya dia menipumu selama ini, bukankah kau sudah bilang kalau dia tidak akan percaya dengan mudah kalau aku kasih tahu pun."
Irsan menoleh lalu tersenyum, wajahnya berseri menahan tawa dan juga terlihat menggemaskan.
"Kau benar! Berarti aku salah bicara."