I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.42(Gak bisa diremehin)



Nita terus mengetuk ngetukkan jemari pada setir kemudi, menatap ruas jalan sambil menunggu Cecilia yang tengah terdiam mencerna ucapannya. Gadis itu mengangkat segaris tipis bibirnya keatas, sedangkan Cecilia lamat lamat mengendurkan tubuhnya dan bersandar di seat mobil.


"Kenapa! Lo gak mau?"


"Bukan ... Tapi gue gak bisa mikir! Kalau gue kerja, nanti gue susah kemana mana. Belum lagi kalau kalau kerja itu pasti bakal cape, lo fikir Irsan bakal disana seharian? Enggak. Kan dia dokter, pasti lebih banyak di rumah sakit." ujarnya dengan lirih, kedua manik hitamnya membola ke arah sahabatnya dengan spekulasinya sendiri.


"Astaga! Lo mikirin kerjaannya bukan mikirin Irsan? Kesempatan lo bertemu Irsan lebih banyak dari yang lo fikir bego! Dia bakal tertarik sama lo bukan karena lo yang datang godain dia, tapi karena lo berbeda. Gak faham lo. Bego ahk!"


Fikiran keduanya jelas berbeda tujuan, walaupun Nita sudah menjelaskannya berkali kali. "Sekarang gini aja, lo ikutin apa kata gue. Udah!"


Cecilia menghela nafas, dia akhirnya menuruti apa yang sudah sahabatnya rencanakan. Walaupun dia tidak yakin dengan rencananya akan berhasil atau tidak.


Mobil kembali melaju kencang dikemudikan Nita, dia tidak ingin Cecilia kembali ragu dan berubah fikiran. Dia sangat yakin jika Irsan akan melihatnya secara berbeda jika Cecilia berubah.


Tak lama mobil memasuki basement mall dimana gerai coffe shop milik Irsan berada, keduanya keluar dari mobil dan langsung berjalan ke tujuan.


Cecilia menghela nafas, saat Nita terus bicara apa yang boleh dan yang tidak boleh dia lakukan saat masuk nanti, namun tidak satupun ucapannya yang masuk ke dalam otaknya karena dia sendiri sibuk dengan fikirannya sendiri.


Gue gak pernah kerja, sekalipun itu part time. Apalagi kerja itu pasti cape, belum tentu juga gue bisa lihat gue setiap hari. Harusnya gue ngelamar jadi suster biar bisa ketemu Irsan setiap hari, kalau di sini! Gak pasti juga. Aahk ... Sialan si Nita emang.


"Dah sana masuk. Buruan."


"Tapi Nit, lo yakin kalau coffe shop ini butuh karyawan."


"Gue gak yakin sih!" Nita terkekeh, "Tapi lo coba tanya langsung ke yang jaga atau manager di dalem. Oke."


"Sialan lo! Gue fikir rencana yang lo buat udah oke! Kalau kayak ini mah lo sama aja bohong. Gue lagi sendirinyang berusaha." sewotnya dengan kedua mata terbeliak ke arah sahabatnya yang terus saja terkekeh. "Anjim lo Nit!"


"Udah sana! Gue yakin lo bisa."


"Gue udah pasti bisa! Tapi ..." Cecilia kesal bukan main, dia mencubit lengan sahabatnya itu dengan keras. "Gak gini juga caranya! Lo bilang apa kemaren, rencana spektakuler. Lo tadi bilaang apa ...Nita sialan lo."


"Aw ... Sakit Ce," ringis Nita dengan terus terkekeh. "Udah lo pokoknya pasti bisa! Dah sana masuk."


"Kurang ajar lo!"


Nita mendorong bahu Cecilia hingga gadis itu menabrak pintu masuk Coffe shop yang hari itu cukup ramai dari terakhir dia kesana. Dengan terpaksa dan juga ragu dia akhirnya masuk karena beberapa orang pegawai sudah melihat dan menyapanya.


"Selamat datang," sapaan biasa dari pegawai pada setiap pengunjung yang masuk sana.


Cecilia menghela nafas, menoleh sekilas ke arah Nita yang mengangguk memberinya semangat. Dia pun kembali melangkah lebih dalam.


Menghampiri meja tempat pemesanan dengan ragu ragu.


"Silahkan pesan disini." ujar pelayan menunjuk ke arah monitor yang berisi semua menu yang ada di sana.


"Maaf ... Apa kalian membuka lowongan pekerjaan?" ucap Cecilia pelan. Dia juga tampak ragu saat bertanya.


Pelayan itu mendongkak, lalu menoleh ke arah belakang. "Tunggu sebentar! Aku harus bertanya pada manager."


Pelayan itu memasuki sebuah pintu yang menghubungkannya dengan ruangan di dalamnya, dan tak lama keluar dari sana.


"Maaf ... Tapi kami tidak menerima pekerja lagi. Kami tidak membuka lowongan." terang pelayan itu dengan tersenyum.


Cecilia yang tidak pernah ditolak pun tampak kecewa, namun dia tidak kehilangan akal karena terlanjur masuk.


Pelayan itu kembali sibuk dengan pekerjaannnya, membuat Cecilia berdiam sejenak lalu kembali berbicara dengannya.


"Maaf ... Bisakah aku bicara dengan manager tempat ini?"


Pelayan pria itu mendongkak lagi, lalu menoleh ke arah belakang lagi. "Maaf, tapi sepertinya pak Manager sedang sibuk."


"Sebentar! Aku hanya ingin bicara dengannya sebentar."


"Maaf! Tapi aku juga gak bisa bantu."


Cecilia berdecak, dia merangsek masuk pada pintu pintu yang hanya setengah terbuka itu. Tidak peduli walaupun di depan pintu sudah bertuliskan staff only.


Nita yang sengaja masuk dan duduk di salah satu meja terkekeh saat Cecilia nekad masuk kedalam ruangan yang hanya bisa di masuki oleh karyawan.


"Gue juga bilang apa! Rencana gue emang udah pasti berhasil. Sorry Ce, rencana spektakuler ini emang harus lo buat sendiri."


"Pak manager! Bentar aja! Gue cuma mau kerjaan ini, gue kenal sama yang punya tempat ini." serunya saat pelayan laki laki itu menariknya paksa agar tidak masuk.


"Maaf gak bisa! Aku sudah bilang. Pak Manager tidak bisa di temui dan kita gak buka lowongan pekerjaan."


Mendengar keributan di luar, manager coffe shop tentu saja keluar dari ruangannya, dia berdehem sebentar sesaat melihat pegawainya sedang menarik Cecilia yang berusaha masuk.


"Pak ... Aku sudah bilang padanya! Tapi dia tetep ngeyel, tapi dia bilang dia kenal anda."


Cecilia melihat pria didepannya yang dia fikir Irsan namun ternyata bukan.


"Apa kau mengenalku?"


"Ti--dak ... Tapi aku bener bener butuh pekerjaan ini."


"Hm ... Begitu!" Pria itu mengangguk anggukan kepalanya, "Dimas, kembali ke depan!" Ujarnya pada pria yang menarik Cecilia. Hingga dia mengangguk dan kembali keluar.


"Kenapa kau membutuhkan pekerjaan ini?"


"Ya karena aku membutuhkannya saja!"


"Alasannya?"


Dengan bingung Cecilia berfikir alasan apa yang paling sering dikatakan orang lain saat melamar pekerjaan. "Ya karena aku butuh uang!"


Pria itu duduk di sebuah kursi, memandangi Cecilia dari atas sampai bawah.


"Punya pengalaman bekerja di coffe shop?"


"Tidak! Tapi aku yakin aku bisa bekerja dengan baik."


"Caranya?"


Sialan nih orang, ngadi ngadi kasih pertanyaan sama gue. Caranya gimana ya mana gue tahu, gue kan gak pernah kerja di tempat beginian.


"Kalau ingin tahu caranya bagaimana, berarti aku harus anda terima dulu dong! Biar anda tahu bagaimana caraku bekerja dengan baik itu seperti apa." jawabnya asal saja, karena hanya itu yang ada di fikirannya


"Cukup menarik!"