I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.137(Apa aku jahat)



Sementara Irene mengeratkan rahang juga gerahamnya dengan kesal saat memutar CCTV yang merekam semua kejadian di ruangan yang sekarang dia tempati, rekaman dimana Reno bersikap menjijikan pada Cecilia, pada rekaman itu terlihat Reno yang terus menggoda Cecilia, meremass bokongnya bahkan menciumii wajahnya dengan brutal, sementara Cecilia terlihat diam saja dan tidak bisa juga melawannya.


"Kau!" Irene mengepalkan tangan kemudian memukul meja dengan keras. "Selama ini aku fikir kau menderita karena harus terus menemaniku yang penyakitan dan tidak bisa memberimu keturunan. Tapi ternyata aku salah besar, kau bersenang senang di luar sana Mas." gumamnya dengan lirih.


Sebulir bening jatuh perlahan di pipinya, merasa bersalah karena tidak bisa memberikan keturunan, selalu merasa bersalah karena penyakitnya, dan tentu saja selalu merasa kecil hati karena menjadi wanita yang tidak sempurna. Semua hal yang sejak dulu tertanam di benaknya, namun semua rasa bersalahnya kini menjadi sia sia, tatkala melihat video kemesraan suaminya dengan perempuan lain, tempat tempat yang bahkan dia tidak pernah di ajaknya, hadiah hadiah bahkan sentuhan sentuhan mesra yang tidak bisa dia dapatkan secara sempurna karena penyakitnya.


Sakit, tentu saja.


Perih, sudah pasti. Namun apa yang bisa Irene lakukan saat ini, saat pria yang telah membuatnya kecewa tidak ada lagi, dia pergi untuk selamanya, bahkan untuk mendengar kekecewaannya saja dia tidak bisa. Pergi dan tidak akan pernah kembali, walau hanya untuk meminta maaf padanya.


Satu satunya cara hanya membalasnya pada wanita itu wanita yang selama ini diperlakukan seperti ratu, wanita yang menjadi obat suaminya sekaligus racun bagi dirinya sendiri, wanita yang diberikan kemewahan yang seharusnya miliknya. Dan juga wanita yang mendapatkan sentuhan hangat suaminya.


Pada siapa dia mengadu, apa pada rumput ilalang? Yang akhirnya dia injak sendiri? Dan ya, Irene seperti orang bodoh yang mengadukan semuanya pada Cecilia, namun kenyataannya, gadis itu sendirilah yang menjadi sumber kenestapaannya.


Irene menghela nafas, membaca dua surat kontrak yang dibubuhi tanda tangan suaminya, surat yang menjadi belenggu antara keduanya, entah apa yang di fikirannya saat Reno menandatangani surat itu. Apa Reno mengingat dirinya saat itu, apa Reno ingat surat resmi yang dia tanda tangani juga di catatan sipil puluhan tahun yang lalu.


Bulir bening kembali turun, perlahan bahunya menjadi naik turun saat semua kesedihannya tumpah. Irene menangis tergugu, sendirian dan tidak ada yang menopang. Diruangan yang menjadi tempat pertama saat berjuang sama sama, yang menjadi saksi cinta keduanya, sekaligus menjadi sembilu yang menyayatnya, menghujamnya begitu sadis tanpa ada kata maaf.


Sapu tangan tersodor dihadapannya, dalam genggaman tangan seseorang. Irene menengadahkan kepala, melihat Jo berdiri dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Jo." Lirihnya.


"Nyonya berhak menangis, tapi nyonya juga berhak menghapus semua tangisan nyonya dari mulai sekarang. Bangkitlah Nyonya, bangkit dengan kuat seperti nyonya Irene yang selama ini aku kenal. Lepaskan semua beban, Tuan Reno memang bersalah dan tidak bisa mempertanggung jawabkannya pada nyonya, tapi aku yakin ... Dalam kesakitannya, hati tuan Reno merasa sangat bersalah pada nyonya, tapi tuan tidak mendapat kesempatan untuk mengatakannya langsung." ujarnya dengan bijak, meletakkan sapu tangan di hadapan Irene dengan posisi tubuh yang sedikit dia condongkan.


"Apa yang harus aku lakukan Jo. Aku ini korban dan kenapa terlihat seperti aku yang jahat karena ingin membalas gadis itu? Bahkan dokter Irsan membantunya juga." Irene menyusut air mata yang terus jatuh tak terbendung di pipinya. "Wanita itu ... Ular berkepala dua, dia bahkan mengancamku Jo, dia yang jahat tapi aku yang tersudutkan."


"Aku mengerti Nyonya." Jo menundukkan kepala, dia juga merasa bersalah dalam hal ini, dia membantu Cecilia juga. "Maafkan aku Nyonya, aku tidak bisa menjaga tuan dengan baik, sampai akhir hayatnya. Tapi ijinkan aku menjaga Nyonya dengan baik dari sekarang, bahkan lebih baik dari aku menjaga tuan. Nyonya tidak perlu risaukan lagi apapun. Hiduplah dengan damai dan bahagia dari sekarang Nyonya Irene, lepaskan semua dan nikmati hidupmu sendiri."


"Jo!"


"Ya Nyonya."


"Apa aku sungguh jelek saat ini?" celetuk Irene dengan terus menyeka air matanya dengan sapu tangan yang diberikan Jo.


"Nyonya tidak pernah berubah, Nyonya tetap cantik walau apapun yang terjadi. Bersiap lah nyonya, 10 menit lagi kita ada rapat direksi."


"Jo ... katakan pada pengacara untuk membuat janji temu setelah rapat selesai." ujarnya dengan suara serak karena terus menangis.


Jo mengangguk, namun dia belum bisa tahu apa maksud dari Irene pada pertemuannya dengan pengacara, dia juga belum tahu apa yang akan dilakukan oleh Irene terkait kasus yang kini dilaporkannya.


"Apakah Nyonya akan terus menggugat nona Cecilia?"


"Kita fikirkan itu nanti Jo,"


Sementara Irsan yang sejak siang berada di rumah sakit hanya untuk meminta dokter Aji menggantikan jam praktek miliknya kini bergegas ke kantor milik Irene untuk menemuinya. Tentu saja tanpa sepengetahuan Carl yang dia tunjuk sebagai pengacaranya dengan bayaran yang sangat tinggi itu.


Mobil melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi menuju kantor milik Irene, Irsan sudah memperhitungkan apa yang harus dia lakukan untuk melindungi gadisnya itu, sekalipun dia harus kehilangan lisensi kedokteran maupun ijin prakteknya di rumah sakit. Sekalipun Carl melarangnya dan menentangnya, namun dia sudah memutuskannya.


Irsan memarkirkan mobilnya begitu saja di depan lobby, bahkan dia mengabaikan petugas keamanan yang memanggilnya untuk memarkirkan kendaraannya dengan benar.


Dia langsung masuk kedalam lift dan menuju ke ruangan dimana dia bisa bertemu dengan Irene.


Irene yang baru saja keluar dari ruangannya dan hendak menuju ruangan meeting pun tersentak kaget saat melihat Irsan yang baru keluar dari lift menghampirinya dengan gagah dan juga langkah cepatnya.


"Apa yang Dokter Irsan lakukan di sini?"


"Cabut laporanmu terhadap Cecilia! Dan aku akan bertanggung jawab untuk semuanya." sentaknya dengan kesal, kedua matanya tajam.


"Pertanggung jawaban. Seperti?" Irene mengulas senyuman, menyembunyikan semua kesedihannya dibalik senyuman palsu.


"Aku akan mengundurkan diri dari kedokteran, kau boleh ambil lisensi kedokteranku!" ujar Irsan menohok.


Irene terkesiap, namun tidak lama dia berdecak.


"Kau mengorbankan profesi kedokteranmu demi seorang gadis seperti dia? Kau juga mengorbankan banyak orang demi satu orang macam dia? Wah ...wah, benar benar luar biasa." Irene bertepuk tangan, rasa kaget dan juga tidak percaya, namun saat melihat kesungguhan di matanya dia juga merasa sedih. "Apa aku jahat karena apa yang aku lakukan saat ini Dokter?"


"Ya ... Kau tidak seharusnya melakukannya!"


"Lalu ... Apa dia tidak jahat dengan apa yang dia lakukan padaku Dokter Irsan?"