
Cecilia berjalan masuk kedalam kamar, sementara Irsan yang diibuatnya bingung itu hanya bisa menatapnya saja,
"Ternyata benar apamyang dikatakan Zian, kita tidak boleh menyela apalagi meladeni wanita yang sedsng kesal." gumam Irsan yang memilih masuk kedalam dapur.
Cecilia yang uring uringan itu justru semakin kesal karena Irsan tidak ikut masuk ke dalam kamar dan berusaha membujuknya.
"Tuh orang nyebelin banget, bukan ngebujuk istrinya malah anteng aja di dapur. Di rayu kek gimana ...!" dengus Cecilia yang beberapa kali menengok kearah luar kamar.
"Apaan nih gue, sensi banget padahal udah tahu dia begitu orangnya, jangankan membujuk merayu, udah lempeng begitu mau diapain lagi coba."
Cecilia yang kesal itu bermonolog dengan dirinya sendiri. Entah juga kenapa dirinya malah mempersoalkan hal hal yang tidak penting seperti ini.
Tak lama Irsan masuk kedalam kamar, dan mendapati Cecilia sudah terbaring dengan pulas, padahal dirinya saja belum makan malam.
"Sayang ... Ayo bangun! Kamu belum makan malam kan?" Irsan menyentuh pipinya dengan lembut.
Namun Cecilia tidak bereaksi sedikitpun, dia sudah berada di alam mimpi. Irsan kembali membangunkannya, kali ini meniup wajahnya dengan lembut pula, terlihat Cecilia mengerjap ngerjapkan kedua matanya.
"Cecilia ... Ayo kita makan."
"Aku gak mau ... Aku gak laper." cicitnya.
"Tapi kau belum makan sejak siang sayang,"
Dengan kedua mata yang masih rapat Cecilia menggelengkan kepalanya.
"Aku gak mau, kamu aja jahat!"
Merengek minta diperhatikan adalah sesuatu yang tidak mungkin Cecilia lakukan, dia tidak pernah berfikir dua kali jika sudah memiliki dan keinginan, tidak pernah basa basi dalam hal apapun. Tapi kali ini Cecilia bak anak kecil yang kurang perhatian.
"Aku minta maaf Cecilia, karena sudah membuatmu kesal seperti tadi." Irsan mengelus kepalanya, mengikuti arahan yang diberikan Zian tempo hari.
Cecilia membuka matanya dengan perlahan, ternyata sangat menyenangkan melihat Irsan begitu manis kali ini.
Cukup diam dan mengalah saja dan minta maaf walaupun kau merasa tidak salah sama sekali, jangan sekali sekali menimpalinya atau menyelanya bicara. Itu Akan bahaya kau tahu.
Irsan mengingat ucapan Zian saat membelai pipj Cecilia dengan lembut, dan saat melihatnya tersenyum. Sesuatu yang dia anggap berat itu ternyata tidaklah sulit.
"Aku gak dengar, kau bilang apa tadi?"
"Aku minta maaf karena membuatmu kesal."
"Benarkah? Kamu gak kepaksa, kenapa gak ngelakuinnya dari tadi coba?"
Irsan menggaruk tengkuknya, dia sudah sabar dan mengikuti jalan fikiran istrinya yang mendadak manja.
"Ya kenapa? Harusnya kan dari tadi." Cecilia kembali merengek. "Malah sengajakan?"
"Tidak ... Aku tidak sengaja melakukannya. Aku kan langsung memasak." Irsan mengulas senyuman sangat manis. Sementara Cecilia merengut kesal.
"Ayo makan dulu."
"Gendong!" ujar Cecilia yang entah kenapa semanja ini.
Irsan memicingkan kedua matanya, bukan sesuatu yang aneh baginya melihat kondisi seperti ini. Bahkan tanpa memeriksaan yang optimal pun dia bisa mengetahuinya.
Terlebih pada seorang gadis dengan kepribadian seperti Cecilia, yang akan marah ketika dia ingin marah, menangis saat dia ingin menangis, dan segala bentuk ekspresi yang dia akan tunjukan secara nyata, tidak di buat buat apalagi harus berpura pura.
Irsan tersenyum kembali, membalikkan tubuhnya agar Cecilia mudah untuk dia gendong di punggungnya, melihat hal itu tentu saja Cecilia senang. Gadis itu beringsut naik pada punggung Irsan, dan Irsanoun bangkit dengan memegang kedua kakinya bak anak kecil. Dua tangan Cecilia melingkari lehernya dengan dagu yang dia tempelkan di bahu kekar suaminya.
"Cecilia, kapan terakhir kau menstruasi?"
Tegas, lugas dan langsung pada inti, seperti halnya seorang dokter yang tengah praktek.
"Hah?"
"Aku rasa kau sedang hamil, sifat sifat yang mempengaruhi hormon ditubuhmu berubah dengan cepat." ujar Irsan yang realistis dengan ilmu kedokteran yang dia kuasai berpuluh tahun lamanya.
"Kamu bilang apa? Aku hamil. Emangnya kelihatan?"
"Tidak ... Karena kita belum memastikannya, tapi hormon berubah ubah di tubuhmu sepertinya sudah bekerja." terangnya dengan membawa Cecilia ke arah meja makan.
Irsan mendudukkannya di kursi makan, sementara dia masih dalam posisi merjongkok dengan satu lutut yang dia topang. "Apa kau merasa pusing?"
Cecilia yang tengah berusaha mencerna ucapan suaminya yang seorang dokter itu menggelengkan kepalanya.
"Kita aja baru menikah sebulan ini!" cicitnya.
"Tapi kita sudah melakukannya jauh sebelum menikah Cecilia. Bisa saja pembbuahan sel telur pada saat kamu dalam masa subur terjadi saat itu. Kita tidak tahu bukan?"
Cecilia mengernyit dengan bahasa kedokteran yang keluar dari mulut Irsan. Seolah dia sedang konsultasi dengan dokter kandungan. Dengan wajah bingung dan sulit berkata kata, Cecilia hanya menatap wajah Irsan dengan lekat.
"Kalau gitu .... Itu artinya... Aku akan jadi seorang ibu?"
.
.
Maaf Cecelover ... Othor lagi lagi keteteran kerjaan di RL ... Mohon sabar dan tetap setia yaa...