I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.68(Belum di coba)



Cecilia membuka password unitnya dengan tangan gemetar, seolah dia yang tengah bersalah. Beruntung karena Irsan telah menjelaskan pada polisi tentang keadaanya.


Pintu terbuka, debaran jantung Cecilia semakin bertalu talu ditambah semua anggota merangsek masuk tanpa aba aba dan langsung menggeledah seisi ruangan. Perabotan bahkan semua laci lemari mereka buka. Mencari sesuatu yang bisa dijadikan bukti maupun penyimpanan Dirga yang di curigai sebagai pengedar. Mereka juga masuk kedalam kamar yang membuat keresahan Cecilia mencapai puncaknya.


Irsan mengambil segelas air putih dan memberikannya. "Minumlah dulu! Kau harus tenang. Atau mereka akan semakin yakin kalau kau terlibat."


"Bu--bukankah kau sudah jelaskan pada mereka kalau a--aku ... Aa--apa mereka me--menemukan sesuatu?" ucapnya saat melihat salah satu polisi membisiki temannya.


"Aku tidak tahu!" ujar Irsan yang langsung masuk namun dicegah oleh seorang polisi yang berada di ambang pintu kamar.


"Tunggu saja Dok!"


Irsan hanya bisa melihat mereka membongkar semua isi lemari pakaian Cecilia dan mengeluarkan semuanya, lalu satu polisi mengacak mngacak meja rias.


Sedetik kemudian terlihat wajah wajah menahan tawa disertai gelengan kepala dari polisi yang mengobrak abrik lemari pakaian saat menemukan sesuatu. Dan menyimpannya di atas meja rias, juga beberapa boks kecil berwarna merah yang telah kosong.


Irsan terbelalak sekaligus merasa malu sendiri saat dia juga melihatnya, dia menoleh ke arah Cecilia yang terduduk cemas dengan kedua lutut sama gemetarnya dengan tangan.


Sialan, kenapa dia benar benar nakal! Irsan membatin, tak lama dia meraup wajahnya dan kembali berjalan ke arah kursi dan duduk di hadapan Cecilia.


"Gimana? Ada." tanyanya. Sudah pasti dia lupa jika menyimpan sesuatu yang membuat Irsan terus geleng kepala.


Dia sangat sempurna, paras yang cantik, tubuh yang indah, pintar kalau dia rajin, apa dia tidak cukup bermain main dengan yang asli. Sampai dia juga memiliki benda itu. Apa yang asli tidak membuatnya puas. Dia benar benar sudah gila. Sampai kegilaannya melebihi batas normal. Memalukan saja. Irsan kembali membatin dengan terus melihat ke arahnya.


Irsan menggelengkan kepalanya, "Tidak. Tunggu sampai mereka selesai."


Semua polisi telah keluar dari kamar, tanpa mendapat bukti apa apa, membuat Cecilia bisa sedikit bernafas lega begitu juga dengan Irsan.


"A---apa udah selesai?" tanyanya pada Irsan saat melihat semua polisi keluar dari kamarnya.


"Belum ... Mereka pasti akan pergi setelah semuanya selesai." jawab Irsan yang kembali datar.


Cecilia mengangguk kecil, namun sedetik kemudian raut wajahnya berubah menjadi tegang dengan kedua mata terperanjat saat mengingat jika benda sialan yang diberikan Reno tempo hari berada di dalam lemari pakaiannya dan sudah pasti jika mereka akan menemukannya.


"Kenapa. Kau baru ingat sesuatu?" Tanya Irsan yang seolah membaca fikirannya hanya dari perubahan wajahnya saja. "Apa kau lebih puas saat memakai barang palsu dibandingkan barang yang asli?" Tanyanya lagi benar benar menohok.


Cecilia memejamkan matanya, seumur umur dia hidup sebagai sugar baby sampe detik ini. Baru sekarang dia merasa malu.


Sialan emang! Gue bener bener lupa. Harusnya itu udah gue kasih si Nita kemaren, gue bener bener bego. Mana malu banget lagi ketahuan sama Irsan. Kalau sama orang lain sih gue bodo amat lah. Lah ini sama dia. Mau ditaro dimana muka gue. Batin Cecilia.


"Apa kau selalu tidak puas selama ini Cecilia. Itu benar benar memalukan." gumam Irsan padanya tepat saat polisi terlihat saling mengulum senyuman dengan melirik gadis cantik yang kini tertunduk malu.


"Udah deh gak usah dibahas! Lagian belum aku coba kok! Jadi aku gak tahu tingkat ke puas an nya sampe mana."