I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.123(Bukan pembuktian)



"Kalau kau tidak melakukannya, berarti kau memang belum bisa move on dari wanita itu. Siapa namanya ... Emmm." Cecilia menjentik jentikkan jarinya, "Alisa ... Ya Alisa ... Tante Alisa." ucapnya sampai terus di ulangi, dia ingin melihat reaksi Irsan saat nama itu di sebut.


Irsan mengulas senyuman sangat tipis, lalu menarik tangan Cecilia dan mendekapnya lagi dengan erat.


"Aku tidak perlu menciummu hanya karena ingin membuktikan kalau aku sudah move on. Kau bisa merasakannya Cecilia."


"Merasakan apa ... Orang kau itu fasif, gak peka, gak jelas, kalau ngomong belibet!" dengusnya pelan, namun senyuman tipis terukir manis di bibirnya serta dua tangan yang kini melingkar juga di pinggangnya. "Dasar tiang listrik!"


"Kenapa kau terus memanggilku begitu hm?"


"Ya karena kau begitu!" Cecilia terkekeh, semakin merekatkan pelukannya.


"Mungkin sekarang kau belum merasakan apa yang aku rasakan Cecilia ... Tapi percayalah, aku berharap banyak dari hubungan kita. Jadi, mencium atau tidak bukanlah hal yang bisa membuktikan jika seseorang sudah move on."


"Hilih ... Bilang aja kau em----," ucapannya terjeda saat Irsan justru menariknya keluar dari rumah, "Hey ... Aku kan belum selesai ngomong."


"Bukankah kau ingin pembuktian?" ujarnya terus membawa Cecilia berjalan, mereka melewati mobil, juga halaman depan rumah.


Irsan membawanya berjalan memutar ke area samping rumah, dan tepat disamping rumah itu terdapat taman dengan penuh bunga bunga beraneka warna.


"Apa apaan nih?" gumam Cecilia saat melihat taman indah di depan rumahnya. "Kau benar ... Kita tidak cocok berciuuman di sini." kekehnya kecil.


"Jadi?"


"Ya ... ya baiklah! Ciuman gak membuktikan kalau kau sudah move on atau belum. Aku pergi, aku geli melihatnya." gidik Cecilia menarik tangan Irsan.


Pria berusia 40 tahun itu terkekeh, mengikuti langkah Cecilia yang kini terbalik menariknya kembali.


"Jadi karena itu kau menjualnya?"


"Ya ...! Kau tidak keberatan kan?"


"Apa maksudmu ... Kenapa nanya aku? Aku gak ada hubungannya dengan rumah ini. Mau kau jual kek, kau runtuhkan kek ... Gak ada urusan aku." cibirnya dengan terus berjalan, kali ini Irsan berjalan di sampingnya, memegang tangan Cecilia. "Jadi dulu kamu bucin banget berarti ya?" lanjutnya dengan terkekeh.


"Bucin?"


"Ya itu lho ... Kalau anak jaman sekarang bilangnya bucin, kalau kamu mungkin bilangnya amat sangat cinta, love death kayaknya." terkekeh lagi, kali ini dengan menyenggol lengannya. "Iya kan ... Makanya sampe norak banget ada begituan tadi."


Irsan tergelak, "Ya mungkin, yang jelas semua hal yang dia inginkan aku wujudkan di dalam rumah ini, desain, ornamen, bahkan warna favorite nya."


Cecilia mendengus, menatap bangunan rumah yang cukup terbilang mewah dengan gaya eropa klasik. Irsn bersandar di depan mobil, menatap Cecilia yang tengah menatap bangunan.


"Aku terlalu bodoh sampai hanya memikirkannya keinginannya saja dan tidak peduli dengan keinginanku sendiri, sebagai penebus waktu yang telah dia habiskan untuk menungguku."


"Ya kau sibuk di rumah sakit?"


"Hmm." Jawab Irsan singkat.


"Tapi menurutku kamu gak bodoh, kamu hanya lambat saja, dia saja yang bodoh menyia nyiakanmu!"


"Benarkah?"


"Hm ... Biar aku tebak, dia pasti belum tahu kamu nyiapin rumah ini dan semua yang ada di dalam untuknya. Makanya dia milih pergi." Tukas Cecilia yang kini menghadap ke arahnya, menusuk nusuk lengan Irsan. "Iya kan?"


Irsan mengulas senyuman, "Kenapa kau bisa menebaknya?"


"Lah iya lah, pertama kau membuat taman disamping itu begitu bentuknya. Kedua, baju baju di dalem lemari segitu banyaknya dan semua baru. Ketiga...."


Tebakan Cecilia sangat tepat, raut wajah Irsan yang menatapnya lekat itu berubah. "Apa ketiga nya?" tanyanya lebih serius.


"Ketiga, aku tahu semua dari Bi Ira!" ujarnya dengan tergelak bahkan sampai terpingkal.


"Kau ini! Aku kira kau benar benar menebaknya, dan tebakannya sangat tepat pula."


Gadis yang masih mengenakan bathrobe itu terus tertawa, membuat Irsan menggelengkan kepalanya, "Dasar ... Kau selalu bisa membuatku tertawa." Desis Irsan yang kini terus menatap Cecilia dengan lekat, manik hitam tajamnya begitu meneduhkan.


"Ayo pulang, pemilik rumah yang baru akan segera datang." Irsan membuka pintu mobil, dan mempersilahkan Cecilia yang masih tertawa itu untuk masuk.


"Tumben banget dibukain."


"Aku sedang berdiri di sini, jadi ini kebetulan saja." tukasnya datar lagi.


Cecilia mencibirnya saja, lalu masuk ke dalam mobil. Sementara Irsan bergegas melangkah ke arah pintu kemudi.


"Kau yakin tidak akan ganti baju lebih dulu?" tanya Irsan saat duduk di belakang kemudi, melihat Cecilia yang duduk dengan kedua paha saling bertindih, saking pendeknya bathrobe dan membuat kedua pahanya terlihat.


"No ... Walaupun baju itu baru! Aku gak mau ... Kau akan ingat dia saat aku memakainya, nanti kau sedih." lagi lagi meledek Irsan, padahal dirinya sendiri pun tidak kalah emosi jika itu terjadi.


"Benarkah? Kenapa kamu gak bilang dari tadi, aku kan gak mesti pake ginian!"


"Apa kau mau kembali turun?" tanyanya datar saja.


Cecilia mendengus, benar benar heran kenapa ada pria sedatar itu, "Gak usah! Udah buruan ah!"


Mobil pun melaju, dengan Cecilia yang terus saja membicarakan masa lalu Irsan dengan wanita yang bernama Alisa, yang bahkan dia saja tidak tahu seperti apa rupa wajahnya.


"Tapi aku yakin ... Masih kalah cantik aku kemana mana kan?" tukasnya kesal sendiri.


"Kau ini kenapa Cecilia. Kenapa terus membicarakannya? Itu tidak penting lagi, dan semua wanita itu cantik, bukan hanya dia, tapi juga semua wanita di dunia tidak ada yang tampan."


"Hih ngeles aja, dia emang cantik. Tapi dulu kan? Sekarang sih udah tante tante." kekehnya lagi setelah merasa kesal sendiri.


"Ya terserah kau saja!"


"Aku penasaran gimana dulu hubungan kalian? Apa kau suka menciumnya. Mem---" Irsan menoleh dengan tajam, "Ya ... Ya, aku skip! Gak akan ngomong lagi."


Akhirnya Cecilia terdiam, dia tidak lagi mengungkit dan bertanya tentang wanita yang sudah pergi demi pria lain. Membuat Irsan bisa fokus menyetir tanpa suara Cecilia yang merecokinya gemas.


Mobil berhenti disebuah butik, Irsan mematikan mesin kendaraannya. "Pergilah cari baju. Kau bisa masuk angin jika terus memakai jubah mandi itu."


"Kamu gak ikut?"


"Apa harus?"


Cecilia tersenyum dengan kedua mata genitnya, "Temenin ... atau aku cium nih!"


"Cium saja kalau begitu!"


"Heh? Kenapa jadi mau sekarang?"


"Aku bercanda." Irsan membuka pintu lantas keluar.


Cecilia hanya menatap pergerakan Irsan dari dalam mobil. Dia mendengus pelan sambil mengikat lebih kencang tali di kain bathrobe yang di kenakannya.


"Candaannya bikin degdegan!"


Tak lama Cecilia ikut turun, dia menghampiri Irsan yang sudah berdiri menunggunya. Gadis itu siap masuk dengan melingkarkan tangan pada lengan Irsan, namun Irsan menampiknya.


"Kau malu aku gandeng?"


"Tunggu sebentar!" ujarnya lalu melepaskan jas yang di pakainya, lalu memakaikannya pada Cecilia. "Kurasa ini cukup, orang gak akan percaya kalau kau memakai batrobe mandi."


"Benarkah? Apa kau malu kalau aku memakai bathrobe ke dalam?"


"Tidak! Aku tidak peduli, justru aku peduli padamu. Didalam akan banyak wanita, dan kau tahu seperti apa wanita jika melihat saingannya." Irsan terkekeh dengan merapikan kancing jas yang kini menutupi bathrobe yang dikenakan Cecilia.


"Ututuuuuu ... Aku meleleh." bergelayut manja pada lengan Irsan. "Haruskah kau aku ciium juga di sini." ucapnya dengan gemas.


"Kau ini! Ayo masuk."


Mereka berdua masuk, Irsan yang tidak terlalu senang berada di tempat itu memilih melipir dan duduk menunggu di sofa, sementara Cecilia kesana kemari mencari pakaian yang dia inginkan.


Drett


Drett


Ponsel Irsan berdering, dering khas yang dia gunakan untuk panggilan darurat dari rumah sakit. Pria itu segera merogoh ponsel miliknya dan terkaget saat mendapat informasi darurat tentang pasiennya.


Dia segera mencari Cecilia di antara banyaknya pengunjung yang di dominasi kaum hawa itu, dan segera menariknya saat menemukannya.


Dia juga menyambar satu hanger dress yang paling depan lalu menuju kasir, mengeluarkan kartu debit miliknya dan menyerahkannya pada seorang wanita di meja kasir.


"Ada apa? Ini bukan baju yang mau aku be---"


"Kita harus ke rumah sakit! Reno anfal lagi."


.


.


Ce ... Jangan bikin malu bisa kan? Wkwkwk.