
"Hah?"
"Apa? Aku hanya akan menemanimu sampai kau tertidur." tukas Irsan membawanya masuk ke dalam kamar, tanpa menutup pintu kamar. Dia membiarkannya tetap terbuka walau sedikit.
"Ish!"
Cecilia naik ke atas ranjang, sementara Irsan duduk di sofa. "Sini kek! Aku malah makin gak bisa tidur kalau cuma diliatin begitu."
"Hanya tidur."
"Ya hanya tidur! Takut amat, padahal yang harusnya takut itu aku setelah malam kemaren kau serang aku segimana."
Irsan membelalak sempurna, "Tidak usah dibahas!"
"Ya ... iya, ayo sini! Kalau gak mau juga, ya biarkan aku minum aja."
Irsan akhirnya menghela nafas, pria berusia 40 tahun itu ikut naik ke atas ranjang, menjadikan lengannya bantal bagi Cecilia. "Tidurlah! Jangan banyak bicara lagi. Urusan kita besok akan semakin banyak."
"Hm ...!" Ujar Cecilia yang melingkarkan tangan pada pinggangnya, dia juga menenggelamkan kepalanya di dada Irsan.
Irsan menepuk nepuk punggung Cecilia dengan lembut, kemudian mengusap rambutnya juga dengan lembut. Semenjak kenal dengan gadis riang dan berani itu, sikapnya ikut berubah dengan perlahan. Dia semakin berani mengatakan apa yang ingin dia katakan, juga tidak ragu melakukan apa yang ingin dia lakukan.
"Apa kau tahu, aku makin ngantuk!"
"Tidur saja. Aku tidak akan kemana mana."
"Kenapa kau masih bertahan dengan gadis kayak aku yang begini ini."
"Begini apanya?"
"Ya kau tahu sendiri, aku keras kepala, aku juga bukan gadis baik baik. Sementara kau seorang dokter."
"Apa sekarang itu jadi masalah?"
"Enggak juga. Aku hanya takut kalau kau akhirnya pergi." Ujar Cecilia dengan mata yang semakin meredup.
"Bukankah kau tidak takut apapun?"
"Enggak ... Aku takut kamu pergi! Dunia kita beda,"
"Kalau begitu, kau tinggalkan duniamu dan tinggallah di duniaku."
"Gimana caranya aku ke duniamu? Apa aku harus jadi suster dulu biar aku bisa ke dunia mu dokter?" cicitnya asal dengan rasa kantuk yang benar benar menyerang Cecilia saat ini.
"Kau ini."
Tak lama suara nafas lembut mulai terdengar, Cecilia terlelap begitu saja dengan memeluk tubuh Irsan. Hangat dan menenangkan, membuatnya melupakan kebiasaan buruknya.
"Kamu selalu membuatku gila Cecilia. Mana mungkin aku pergi dari mu. Justru aku takut terjadi sebaliknya." gumamnya dengan pelan.
"Gimana kalau dia kembali!" desis Cecilia sangat pelan. Namun cukup terdengar di telinga Irsan.
Pria itu terdiam. Begitu juga Cecilia yang semakin terlelap, antara sadar atau pun tidak jika dia mengatakan hal seperti itu.
"Tidak usah memikirkan yang tidak mungkin terjadi." bisiknya pada telinga Cecilia.
Setelah memastikan Cecilia tidur dengan nyenyak, Irsan menggeser sedikit kepalanya agar bisa menarik lengannya, dua kali Cecilia tertidur tanpa harus meminum alkohol, dan Irsan yakin jika gadis itu bisa terlepas dari kebiasaan buruknya selama ini.
Pria berusia 40 tahun itu bangkit, tak lupa menarik selimut dan menutupi tubuh Cecilia hingga batas leher. Dia juga mengecup keningnya sekilas, tatapannya tertuju pada bibir sen sual berwarna pink, tanpa polesan dan sedikit terbuka. Rasanya pasti sangat manis dan menggoda. Irsan terdiam ragu. Cecilia menggeliat, membuatnya mundur seketika dan langsung beranjak keluar kamar dengan jantung berdebar debar. Nyatanya kali ini dia tergoda, walaupun Cecilia tidak melakukan apa apa.
"Astaga!"
Drett
Drett
Ponsel miliknya bergetar, tanda pesan masuk pun terus berbunyi. Irsan mengambil ponsel dan melihatnya. Beberapa pesan dari Carl dan juga Dokter Aji, ada satu nomor yang telah lama tersimpan di kontaknya namun tidak pernah dia hubungi.
Irsan menghela nafas, lalu meletakkan kembali ponsel nya diatas nakas. Mengambil air putih lalu menenggaknya dengan sekali tenggakan.
***
Suara bel di pintu membangunkan Irsan yang tengah tertidur nyenyak di sofa, dengan kaki menjuntai karena sofa tidak cukup untuk tubuhnya yang tinggi. Dia memang memilih tidur di sofa, karena takut jika tidak bisa lagi menahan diri kalau tidur bersama Cecilia.
Kedua matanya mengerjap, saat bel semakin nyaring berbunyi.
Dengan langkah gontai Irsan menuju pintu, dan membuka pintu.
"Ada apa? Ini masih pagi."
"Benarkah?"
"Hm ... Kau bisa tenang sekarang."
Senyuman terbit di bibir Irsan, dia bahkan memeluk Carl yamg kini terperangah dan langsung mendorongnya. "Apa apaan!"
"Thanks Carl!"
"Hei ... Aku bahkan tidak melakukan apa apa. Ini pasti karena pacarmu sendiri."
"Ah! Aku lupa." Irsan mendorong Carl kemudian melangkah ke arah sofa. Mencari ponsel miliknya. "Dia memang luar biasa."
"Hah?"
"Apa? Jangan berfikir yang bukan bukan. Tugasmu sudah selesai. Pergi lah bekerja."
Carl berdecak, dia menuju meja makan dan mengambil air sendiri. "Aku bahkan belum duduk! Kenapa bukan kau saja yang bekerja."
Irsan mendengus, "Sudah sana pergi! Tunggu apa lagi."
"Kau tidak berniat mengajakku sarapan? Aku sudah lama tidak makan masakanmu."
"Tidak sudah sana pergi."
Carl kembali berdecak, lalu mengayunkan langkahnya keluar pintu. "Padahal kita bisa merayakannya tuan Dokter yang terhormat."
"Tidak. Sana pergi, dan tidak usah melipir ke unit Ines atau aku akan menyeretmu!"
Carl akhirnya pergi dengan dongkol, bagaimana tidak. Dia selalu di usirnya sekarang, dan tidak diperbolehkan lama lama di sana.
"Dasar! Begini lah orang yang sedang jatuh cinta. Tidak ingin di ganggu sedikitpun."
Irsan masuk ke dalam kamar, tak sabar ingin mengatakan hal yang dia dengar dari Carl. Dia naik ke atas ranjang dan mendekap tubuh Cecilia yang masih terlelap memeluk guling.
"Ada kabar gembira! Bangunlah."
"Hm ... Apaan." Cecilia membalikkan tubuhnya mereka saling berhadapan.
"Irene sudah mencabut laporannya, kau tidak jadi di polisikan."
Kedua mata yang masih menyipit itu kini terbelalak sempurna. "Benarkah?"
"Hm ...!"
"Ya bagus deh. Itu artinya tante Irene sudah menerimanya dengan iklas, ditambah Mr Orlan pasti sudah menemuinya." Ujarnya dengan wajah bahagia. "Kau tidak ke rumah sakit?"
"Tidak. Hari ini aku libur. "
"Benarkah? Kalau gitu kamu bisa nemenin aku terus dong ya."
"Memangnya kau mau kemana hm?"
"Gimana kalau kita kencan, jalan jalan nonton atau. Ahk pasti gak mau."
"Kata siapa? Aku mau." Sahut Irsan dengan mengulas senyuman tipis.
Wajah Cecilia semakin ceria, kedua matanya berbinar indah. "Ah ... Iyakah? Apa aku masih mimpi. Sejak kapan kau menurut tanpa berdebat."
"Ya sudah. Aku berubah fikiran saja."
Cecilia semakin merekatkan pelukannya, "Ih ... Sensi banget! Aku cuma gak percaya aja kamu langsung bilang mau."
"Cepatlah bangun. Dan segera mandi."
"Gak mau nanti aja." Cecilia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Irsan. "Aku ingin main dokter dokteran dulu."
"Kau ini!"
Tanpa kata dan tanpa basa basi, Cecilia menarik kepala Irsan dan langsung melumatt bibirnya dengan lembut, Irsan pun terkesiap sesaat, namun juga membalas lumattan itu dan membelitkan lidahnya.
Keduanya hanyut dalam ciumaan yang semakin dalam, dengan dada yang semakin turun naik saja.
"I love you Dok!"
.