I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.102(Cari tumbal lain)



Dengan langkah gontai Cecilia masuk ke ruangan. Suasana kampus masih sepi, teman teman satu kampusnya belum datang semua.


"Ini gue yang salah jadwal apa gue kepagian sih!" ujarnya sambil menguap.


Mabuk sebelum tidur memang jadi kebiasaannya selama ini, hanya dengan begitu dia bisa tidur nyenyak, namun sedikit berbeda semalam, dia merasa sangat kacau dan menimbulkan kepanikan orang orang yang tidak tahu menahu soal kebiasaan buruknya, sampai ada kejadian dimana Irsan memecahkan kaca mobil dan berfikir dirinya pingsan, juga Sila yang sama sama tidak tahu kebiasaan itu.


Nita masuk dan langsung terbeliak sempurna. Dia berjalan menghampiri dan duduk disampingnya, menyimpan modul miliknya diatas meja.


"Pantesan pagi pagi udah mendung, ternyata si ratu bolos dateng juga." ujarnya dengan kepala menoleh ke kiri dan ke kanan, "Gara gara lo dateng, anak anak yang lain pada gak mau masuk apa?"


"Diem lo! Mau congor lo gue sumpel." ketusnya dengan menelengkupkan kepalanya diatas meja, menggerutu tiada henti pada sahabatnya itu.


"Lah iya ... Gak ada angin gak ada hujan lo dateng sepagi ini, abis ibadah pagi lo?"


Cecilia kembali mengangkat kepalanya, ingga rambutnya sedikit berantakan. "Heh ... Tahu gak, gue ini lagi mumet, makin mumet denger ocehan lo. Lo nyindir gue didepan hidung gue sendiri. Emang sialan lo Nit, gak punya empati lo sama gue." ujarnya menggusel kedua pipi Nita hingga gadis itu meringis kesakitan.


"Cece ... Anjim lo! Sakit bego, mana gue baru tambal gigi lagi." Nita mengusap kedua pipinya lantas membuka tutup rahangnya.


"Pasang susuk lo ... Pasang gigi, emang gigi lo kenapa? Kebanyakan nye pong kan lo." Cecilia terkekeh,


Sedetik kemudian Nita menutup mulutnya dengan cepat, "Sialan congor lo Ce ...!"


Keduanya saling menoyor kepala, juga saling sikut menyikut. Kebiasaan yang selalu mereka ributkan ketika bertemu, selalu saja ada keributan dan juga perdebatan.


"Nit ... Gue mau mintol alias minta tolong dong sama lo. Bisa yaa bisa dong ... Bisa pasti, lo kan sahabat gue yang terbaik." kedua tangan Cecilia menangkup dengan memperlihatkan wajah memohon.


"Ada mau nya aja lo muji muji gue! Gimana gak yang terbaik, orang gue sahabat lo satu satunya kan." Nita menoyor kepala Cecilia lagi. "Dan gue pastiin masalah ini bukan masalah kecil, mana pernah lo minta tolong sama gue. Pasti ini masalah gede. Iya kan?"


Cecilia melingkarkan tangan dibahunya, "Lo emang sahabat gue ter the best, paling tahu lo. Gue ampir ketahuan nih sama bini si Reno gara gara rekapan rekening, lo jadi gue yaa."


Nita membulatkan kedua manik hitamnya, menepis tangan sahabatnya itu. "What ... Enggak Ce, ogah gue kalau masalah itu. Gue masih kontrak sama orang, lo tahu kalau ketauan, yang ada gue yang mampus. Lagian ya kalau cuma ketahuan mah lo kan udah biasa. Paling kena gampar doang kayak yang udah udah."


"Ini beda Nit ... Gue tahu bininya, dia kenal baik siapa gue, gue juga kenal baik siapa dia. Bisa perang ke 3 kalau dia tahu gue nipu dia habis habisan." cicit Cecilia dengan wajah yang kebih memohon lagi. "Please, lo boleh minta apa aja deh sama gue. Ya ... Ya ...."


"Ogah Ce ... Lo cari yang lain aja buat tumbal lo. Gue gak mau."


"Nitaaa...." rengeknya dengan kedua kaki yang dia hentak hentakkan, merengek bak anak kecil yang meminta uang jajan.


"Ogah Cece ...!" Nita acuh, merogoh ponsel dari tas dan juga head set yang dia pasang ke lubang telinganya, "Gue gak mauuu...!" ujarnya dengan mulut berkerucut.


Cecilia mendengus kasar, kalau Nita tidak mau. Itu artinya dia harus mencari orang lain yang bisa dia jadikan tumbal agar semuanya kembali berjalan normal. Namun sampai detik ini Irene tidak juga menghubunginya, bahkan wanita paruh baya itu juga tidak menanyakan keberadaan Sila yang kini ada di apartemennya dan tidak mau pulang dengan dalih takut di usir.


Nita juga menghela nafas panjang, dia tidak bisa tenang begitu saja saat sahabat yang sudah dia anggap saudara itu memiliki masalah besar, hatinya was was juga khawatir. Diam diam dia meliriknya dengan ujung mata dan melihat Cecilia tengah diam dan dipastikan ada sejuta fikiran yang tengah rusuh di kepalanya.


"Lo cari dulu tumbal lain, kalau gak ada sama sekali. Baru gue." gumamnya tanpa menoleh sama sekali.


"Nita ... Serius lo?"


Cecilia memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat, lalu menciumm pipññinya bertubi tubi. "Aaahh ... Lo emang sahabat gue, gue pasti bakal kasih apapun yang lo mau Nit. Lo mau apa? Tas hermos, prida atau L V. Bilang sama gue. Atau lo mau gue bayarin sewa apart lo selama setahun kalau ini berhasil."


"Lo punya duit sebanyak itu?" Nita mendorong tubuh sahabatnya agar menjauh, dia juga mengelap pipinya yang hampir basah karena ciumaan Cecilia.


"Enggak sih!" Cecilia tertawa, "Sekarang belum ada, tapi lo lihat nanti, gue bakal punya banyak duit."


"Elah ... Laga lo Ce."


Hampir satu jam dosen bicara di depan layar proyektor, menerangkan tentang filsafat ilmu dan logika, sebagian dari mata kuliah wajib fakultas psikologi. Namun tidak ada juga yang bisa dicerna dengan baik oleh otak Cecilia yang sedang melanglang buana entah kemana.


"Kalian faham?"


"Ya ...!"


Serentak suara suara mahasiswa prodi psikologi di depan Cecilia terdengar, hanya dirinya lah yang tidak menjawab, hingga dosen berkaca mata itu menunjuknya. "Hai kau. Apa kau mahasiswi pindahan?"


Semua orang hampir tertawa, dosen saja tidak mengenalinya karena dia jarang sekali masuk pada mata kuliahnya. Dengan malas dia berdiri. Melihat ke arah teman temannya lalu beralih lurus ke depan.


"Maaf Pak ... Aku bukan mahasiswi pindahan, tapi aku memang jarang sekali masuk pada mata kuliah anda karena cara penyampaian anda yang membosankan." ujarnya lalu menyambar tas miliknya dan berjalan keluar.


Riuh tepuk tangan terdengar saat diringa keluar dengan puas, pasalnya itu memang kenyaatannya, dosen itu terlalu membosankan sampai membuatnya mengantuk. Dan dia memilih pergi ke kantin dan menunggu Nita di sana.


"Si Cece sekalinya masuk cuma bikin gara gara doang!"


Drett


Dreet


Kini ponselnya berdering, Cecilia yang berjalan menuruni tangga itu merogoh ponselnya di dalam tas. Dan menempelkannya pada daun telinga saat melihat nomor kontak Sila tertera dilayar putih itu.


'Kenapa Sil?'


'Buruan deh lo balik, ada yang nyariin lo?'


'Siapa?'


'Pokoknya lo balik dulu, ini penting banget.'


Tut


Sambungan telefon terputusa begitu saja, Cecilia berlari ke arah tempat parkir udan mencari mobilnya seperti orang bodoh. Namun sedetik kemudian dia menepuk jidatnya sendiri.


"Sial ... Gue kan gak bawa mobil."