I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.140(Terus berusaha2)



"Kau tidak tahu dengan siapa kau berhubungan Dokter Irsan!"


Irsan jelas tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Irene, sampai Carl menyikutnya dan memberikan ponsel miliknya. Pria berusia 40 tahun itu terbelalak sempurna dengan apa yang dilihatnya saat ini, kedua manik hitam menyoroti layar pipih yang terus menyala, memperlihatkan angka angka perlahan terus merosot. Saham perusahaan batu bara yang kini di pimpin oleh Irene anjlok sampai harga paling rendah, dan lebih membuatnya tercengang lagi semua itu di sebabkan oleh beredarnya rekaman CCTV diruangan kantor secara luas.


"Apa ini?"


"Aku tidak tahu. Tapi kita akan segera mencari tahu siapa yang menyebarkannya!" sahut Carl yang langsung mengecek asal muasal video itu, sebagai seorang ahli IT jelas itu pekerjaan mudah baginya, dia mengotak ngatik ponsel dengan cekatan.


Divideo itu tampak jelas sekali Reno yang tengah menggoda Cecilia, wajah Cecilia juga terlihat jelas disana. Irsan bahkan memejamkan mata serta mengepalkan tangan saat Reno meremas bokongnya yang sintal.


"Tidak perlu susah payah mencari tahu! Dia sendiri yang menyebar luaskannya." seloroh Irene dengan lirih, jantungnya berdebar kencang saat ancaman Cecilia benar benar dibuktikannya sekarang dan bukan isapan jempol saja. Padahal hari belum larut malam seperti janji yang dikatakannya.


"Jangan asal bicara!" sentak Irsan yang tidak terima jika Irene menuduh Cecilia. "Untuk apa dia melakukannya, membuka aibnya sendiri."


Irene tergelak dengan wajah merah padam menahan marah. "Sangat jelas karena untuk membuatku semakin hancur dokter Irsan."


Irsan bahkan lebih tidak percaya lagi dengan pernyatannya. Tidak ada alasan bagi Cecilia melakukannya, dengan kata lain untuk apa dia mempermalukan dirinya sendiri dengan menyebar luaskannya secara terang terangan, apalagi membuat Irene hancur, dia ingat betul Cecilia selalu mengatakan jika Irene itu orang yang baik dan lemah lembut, dia selalu membelanya dan yakin akan hal itu. Dan tidak mungkin Cecilia setega itu, walaupun dirinya sangat tahu senekad apa gadisnya itu.


Ting


Pesan masuk ke dalam ponsel milik Irene, dengan malas dia membuka pesan yang ternyata dari Cecilia.


'Aku berubah fikiran, ah tidak ... Tidak, tante yang membuat fikiranku berubah. Itu karena tante sudah berani mempermalukan pria yang saat ini ada di depan tante kan. Ingat tante aku gak hanya ngasih tante ancaman atau gertakan belaka, aku juga gak harus nunggu sampai tengah malem. Aku bisa melakukan apapun. Tapi tenang aja, aku gak cuma kasih tante sedikit masalah sekarang, tapi aku juga bakal kasih solusi terbaik buat tante. Iklaskan semua tante, sekali pun suami tante tidak melakukannya denganku, dia pasti melakukannya dengan gadis lain.'


Irene menelan saliva dengan susah payah saat membacanya, sederet pesan yang cukup panjang dari Cecilia membuat tangannya bergetar dengan keringat dingin yang semakin bercucuran. Bukan hanya marah, namun dia juga kesal. Semua berimbas pada perusahaan yang dibangunnya.


Jo menghampirinya, memberikan segelas air putih agar dirinya tenang. Namun dia tepis begitu saja.


"Aku tidak membutuhkannya Jo, aku harus menyelesaikan masalah perusahaan." Irene bangkit dan segera keluar dari ruang meeting.


Sementara Irsan dan Carl ditinggal begitu saja, Jo menghampiri Irsan dan menepuk bahunya.


"Kau harus lebih sabar lagi! Cecilia sendiri yang menyebarkannya, dia juga mengancam Nyonya Irene dengan berani. Dia bukan gadis lemah seperti dugaanmu."


Setelahnya Jo keluar menyusul Irene, sementara Irsan terpaku di tempatnya berdiri, begitu juga dengan Carl.


***


Sementara dua gadis yang masih berada di dalam taksi tampak terdiam, sesejali saling menatap lalu menghela nafas. Sekali lagi, mereka memang bukan orang baik, tapi mereka berdua bukan orang jahat. Sebenarnya melakukan hal yang menyakiti Irene bukan kemauan Cecilia, tapi keadaan yang memaksanya, dia tidak suka digertak, terlebih terjadi pada orang orang di sekitarnya.


"Nit gue sebenernya kasian sama tante Irene."


"Ya ... mau gimana lagi! Gue juga kasian sama dia, tapi gue lebih kasian sama lo. Ngerti lo." tukas Nita. "Jadi sekarang kita kemana ini, kenapa gak nyampe nyampe. Jangan bilang lo mau kabur ya! Ini udah satu jam Ce dijalan, sebenernya kita mau kemana anjim, jangan bikin gue emosi juga lama lama." tukasnya lagi ketus.


"Kita bakal nemuin seseorang, dia bakal bantu kita!"


"Siapa?"


"Lo bakal tahu nanti."


"Ah anjim lo! Maen teka teki sama gue, dah tahu mikirin mata kuliah aja gue mumet. Apalagi beginian. Serah lo deh." Nita menghempaskan punggungnya di seat mobil, lalu melipat kedua tangan di depan dadanya sendiri.


Jarak yang ditempuh mereka memang cukup jauh, seseorang yang bisa membantu berada di kota lain, waktu tempuh kesana menghabiskan 2 jam lebih. Cecilia pun masih belum tahu siapa orang yang akan dia temui, dia hanya tahu berdasarkan alamat yang diberikan padanya.


"Tahu kalau jauh gini, kita bawa mobil kek, bawa cemilan kek, gue laper Cece!" Ketus Nita keluar dari taksi. "Mana ongkos taksi mahal! Gak ada diskon pula."


Gerutunya lagi sambil membenahi pakaiannya.


"Udah deh lo cerewet amat. Entar gue ganti duit lo!" Cecilia menarik tangannya dan berjalan kearah villa yang sudah sesuai dengan alamat yang dia pegang.


"Pacar lo tahu kita kesini?"


"Ya enggak lah! Gue gak sempet bilang apa apa sama dia. Ponsel kan sengaja gue matiin bego, kalau dia tahu mana mungkin dia ngamuk ngamuk di kantor tante Irene."


"Eeeh ... Iya juga! Tapi kita beruntung, lo sih lebih tepatnya. Punya om botak yang baik hati yang masih mihak lo padahal bisa aja dia mihak tante Irene kan harusnya?"


"Ya sih ... Mungkin karena dia suka sama gue!" Tukas Cecilia dengan bahu yang mengerdik, lalu bergidig.


"Pede lo ketinggian bego!" Nita menoyornya. "Eh cape nih gue, jauh amat nih tanjakan,"


"Ya kali ... Lo kan gak pernah olah raga! Olah raga lo cuma di kasur doang!"


Keduanya tergelak, selalu begitu setiap mereka bersama, tidak ada yang tidak bisa mereka tertawakan.


Mereka akhirnya sampai di depan pintu Villa, keduanya saling menyikut siapa yang harus menekan bel pintu. Perdebatan kecil yang seharusnya tidak terjadi kembali terjadi, hingga akhirnya Nita mengalah.


"Ya udah gue. Minggir lo!" sikutnya pada lengan Cecilia hingga sahabatnya itu terdorong ke samping.


Namun saat Nita hendak menekan bel di pintu, tiba tiba pintu terbuka dan seseorang berdiri tegak didepannya dengan sorot mata yang tajam.


"Siapa kalian?"


Nita menarik tangannya dari bel, lalu mengangguk ke arahnya.


"Kalian pasti mau mencuri!" tukasnya lagi membuat kedua gadis terbeliak. "Hah ... Ayo pergi dari sini!"


"Tunggu! Kami bukan mau mencuri Kek, eh daddy ... magsudnya Om!" seru Nita menjelaskan namun yidak juga jelas.


"Bohong! Mana ada pencuri yang mau mengaku! Kalian yang kemarin mencuri mangga di pohon itu." tunjuknya pada pohon mangga di arah samping Villa, dia juga membawa sapu yang siap melayang pada kedua gadis yang kini kocar kacir menghindar.


"Eeh!"


"Aww!"


Namun tiba tiba seorang datang dari arah belakang, dia segera keluar saat kegaduhan terjadi dan suara Cecilia dan Nita yang berteriak.


"Mr Orlan. Apa yang terjadi?"


.


Kenapa sih mereka. Wkwkwk


Hayolooo Cecelover, hari senin. Yuk bisa yuk Vote yuk. Hihihi.