
"Kau!! Memang gadis gila!"
Irsan menarik lengannya kembali hingga tubuhnya menabrak dada bidangnya, meraup bibir sensual miliknya yang menuntut untuk disentuh. Entah kenapa Irsan tidak bisa menolaknya bahkan dia melakukannya dengan memejamkan kedua mata, merasai pagutan yang semakin lama semakin lembut itu. Kedua tangannya merekat di sela leher Cecilia, begitu juga dengannya yang mengalungkan kedua tangan di leher Irsan.
Cukup lama mereka saling merasai, ciumaan yang membuat keduanya terbuai, sangat berbeda saat ciumaan panas di koridor apartemen, pagutan kali ini membuat jantung keduanya bertalu talu.
Tak lama Irsan menghentikan aksinya, dia menyapu bibir seksi nan merona dengan ibu jarinya, mengulas senyuman yang membuat Cecilia juga tersenyum. Dada yang sama sama turun naik mengatur oksigen yang telah bercampur disekitar mereka.
"Kenapa kau nakal sekali Cecilia!" ucapnya dengan suara serak.
"Kau tahu jawabannya dokter! Hati ku perlu obat." jawabnya dengan setengah berbisik. Suaranya sangat lembut dan membuat Irsan kembali meremang.
Entah siapa yang memulainya lagi, pagutan mereka kembali bertaut, kali ini lebih panas dari sebelumnya, bahkan Irsan merekatkan tangan dipinggang Cecilia dan menariknya lebih rapat, begitu juga dengan Cecilia, yang baru merasakan ciumaan memakai perasaan. Logikanya bahkan tidak bisa berfungsi sama sekali, tidak ada uang dan uang yang berputar putar saat melakukannya dengan pria yang menolaknya berkali kali itu dengan hati yang kian menghangat.
Irsan menggiring tubuhnya ke atas sofa, menariknya hingga Cecilia terhempas begitu saja dibawah kungkungannya, pria itu juga kehilangan kendali tubuhnya, otak dan hatinya tidak selaras, dia tidak bisa membohongi dirinya, bahwa dia pun benar benar terlena.
Cecilia meloloskan suara lenguhan lembut, saat Irsan mendaratkan kecupan di ceruk lehernya, tanpa sadar posisi mereka saat ini berada di salah satu ruangan rumah sakit.
Dada yang kian membusung naik turun membuat Irsan semakin tidak punya tenaga untuk menolaknya, desahaan manja yang keluar begitu saja membuatnya semakin hilang kendali. Dengan lembut Cecilia berhasil membuka dua kancing kemeja Irsan, menyentuh dada bidangnya tanpa sadar. Namun sedetik kemudian Irsan menghentikan pergerakan tangannya.
"Pergilah sebelum ada orang lain yang sadar kalau kau bukan suster." ujar Irsan bangkit lalu terduduk, merapikan kemeja yang dikenakannya.
Cecilia ikut terduduk, membenahi roknya yang sudah tersingkap, rambutnya juga sudah tidak karuan dangan topi suster yang terlepas begitu saja. Tidak ada jawaban dari Cecilia, seolah dia tengah berfikir semua yang baru saja dilakukannya diluar kendali. Dia juga merasa terbuai.
"Lagi pula kenapa kau bisa memiliki pakaian ini." ucap Irsan menarik kerah baju suster yang dikenakan Cecilia.
Entah sadar atau tidak, nada bicara Irsan telah berubah, bukan lagi menyentak bahkan membentaknya keras, kali ini dia benar benar lembut.
"Itu rahasia!" Cecilia terkekeh, memegang tangan kekar yang masih berada di kerah bajunya, kedua saling menatap
Irsan menghela nafas, saat sadar apa yang baru saja dia lakukan, dan melepaskan tangannya.
"Kenapa? Kau tidak menyukaiku?" tanya Cecilia.
Irsan menggelengkan kepalanya, dia bangkit dan duduknya dan berdiri membelakanginya. Seolah olah baru sadar jika dia sudah melewati batas.
"Pergilah!"
"Jawab dulu pertanyaanku baru aku pergi!"
"Aku tidak menyukaimu! Pergilah."
Cecilia terhenyak, dia beranjak bangkit dan berjalan ke hadapan Irsan, gadis itu berdecih, "Kau tetap tidak menyukaiku Dokter! Setelah apa yang kita lakuin barusan? Lucu banget!"
"Aku memang tidak menyukaimu!" ujarnya lagi dengan kembali mengayunkan kedua kakinya ke arah meja.
"Oke baiklah! Apa ini karena pacarmu yang tadi?"
Irsan hanya menatapnya saja, dia tidak menjawabnya sedikitpun. "Oke, aku anggap itu jawaban! Kau tidak menyukaiku, kau menolakku, tapi kau juga menciummku dan melakukannya dengan lembut! Kau benar benar melakukannya dengan baik!"
Gadis berambut pirang itu mendekatinya, kedua tangannya memegang kedua besi yang berada di samping kiri dan kanan kursi yang di duduki Irsan, tubuhnya pun sedikit mencondong ke arahnya. Menatap pria di depannya dengan pandangan menelisik.
"Apapun itu aku tidak peduli. Aku anggap gak dengar apapun. Aku tetap tidak peduli kau punya pacar atau istri sekalipun." ucapnya mengedipkan mata, lalu berjalan ke arah pintu. "Jangan bohong! Katakan suka kalau kau benar benar suka! Karena aku bisa bedaain mana yang pakai perasaan mana yang nafsu belaka! Ingat itu sayang!" ujarnya lagi lalu menghilang di balik pintu.
Irsan menghela nafas, dia menengadahkan kepala dan menatap langit langit, rasanya mustahil menyukai gadis macam Cecilia. Terlebih usianya sudah tidak mungkin untuk bermain main dengan gadis seumurannya. Tapi dia tidak bisa menolaknya, hatinya berdebar debar saat melihatnya.
Tak lama pintu kembali terbuka, Irsan menatapnya karena takut Cecilia kembali masuk. Bisa bisa fikirannya lebih kacau lagi.
Dan bernafas lega saat melihat dokter Aji yang datang.
"Kenapa kau ini? Aku lihat akhir akhir ini kau resah sekali."
"Tidak apa apa!"
"Kau habis sarapan?"
Irsan menggelengkan kepalanya, "Teh ku bahkan belum sampai kemari."
Dokter Aji menarik kursi lalu duduk di depannya, "Terus bibirmu kenapa. Di gigit tawon? Ujarnya dengan menunjuk bibir Irsan yang sedikit bengkak karena aksinya yang cukup lama bersama Cecilia.
Aji terkekeh, "Bukan sembarang tawon sepertinya. Apa itu yang membuatmu resah?"
"Brengsekk! Pergi dari sini kalau kesini hanya untuk bicara omong kosong."
Aji berdecak, "Kau memang seharusnya sudah move on dari sejak lama, temukan kebahagianmu sendiri."
Irsan hanya berdecak saja. Dia kembali menengadah dan menatap langit langit dari pada mendengar ocehan rekan sejawat sekaligus sahabatnya itu.
Melihat Irsan yang hanya diam, akhirnya Aji bangkit dari duduknya.
"Dia sudah bahagia dengan pilihannya, sedangkan kau? Ck ck ck ... Kasian kau Irsan!" cibirnya lalu keluar dari ruangan.
Irsan terdiam, bukan karena ucapan Aji semata mata benar, melainkan sosok Cecilia dengan segala kenekatan dan keberaniannya. Sikap blak blakannya dalam bicara membuatnya heran.
"Kenapa dia mudah sekali mengatakannya." gumamnya sendiri saat mengingat Cecilia mengatakan dia menyukainya secara terang terangan.
Sementara Cecilia keluar dari toilet rumah sakit dan sudah kembali berganti pakaian, tidak sia sia dia merubah haluan saat berkendara, dia tidak bisa diam saja saat Irsan memamerkan kemesraan dengan pacarnya.
"Kita lihat saja, apa kau masih bilang tidak suka padaku setelah ciuman tadi? Kalau iya benar benar dia si tiang listrik."
.
.
Tiga bab untuk hari ini plus. Wkwk semoga gak nyangkut di review kek kemaren. Like dan komen biar othor tahu kalau cerita ini seru. Jangan ragu ragu yaa buat komen, othor pasti baca walaupun telat balas. Wkwkwk