
Cecilia keluar dari gedung apartemen, dia kembali masuk ke dalam taksi yang kebetulan ada di sana dan tengah menurunkan penumpang. Dia sudah putuskan akan menemui Reno bagaimana pun caranya.
Alih alih pergi menemui Reno dirumahnya, gadis dengan kenekatan yang kini berada di level 100 pergi ke kantor milik pria berusia 60 tahun itu. Perusahaan yang bergerak di bidang batu bara terbesar ketiga di dalam negeri. Bisnis yang dijalankannya bukan kaleng kaleng, dan pasti akan terjadi kericuhan besar jika dia membuat sedikit masalah di kantornya.
"Jalan xxx pak," ujarnya saat masuk ke dalam taksi.
Supir taksi mengangguk dan melaju dengan kencang menuju tujuan, dia juga menghubungi Nita agar menjemput Sila dan membawa barang barang miliknya. Dia juga berkirim pesan pada Reno, umpatan kekesalan yang di kirimkan tidaklah sedikit, namun tidak ada satu pun pesannya yang dibalas oleh Reno, padahal kata kata yang dia kirim sangat kasar.
"Anjim nih aki aki. Bikin gue emosi."
Tak lama taksi yang dia tumpangi berhenti di sebuah perusahaan, gedung yang cukup tinggi dan dipastikan Reno kini berada di dalam.
Setelah keluar dari taksi, dia bergegas masuk ke dalam kantor, dia juga menghampiri resepsionis yang tengah bermain ponsel di meja kerjanya.
"Apa Reno ada?"
Wanita yang berada dibalik meja resepsionis itu pun mendongkak, kedua alisnya mengernyit dengan tiba tiba. Baru kali ini ada yang mencari bos besar dengan hanya namanya saja.
"Buruan ... Ada gak?"
Wanita itu berdiri, menatap Cecilia dari atas sampai bawah lalu berdecih. "Ada urusan apa? Tuan Reno sedang keluar menghadiri rapat penting."
"Urusan gue juga penting!" sahutnya dengan ketus, padahal wanita resepsionis itu tidak tahu apa apa mengenai masalahnya. "Dia di ruangannya kan?"
"Tidak ada! Sudah aku bilang dia sedang keluar kantor."
Brak!
Cecilia menggebrak meja resepsionis lalu berjalan masuk ke arah lift. Resepsionis itu mengejarnya dan berteriak pada seorang security agar mencegahnya untuk naik.
"Cegah dia pak! Jangan sampai dia pergi ke ruangan bos."
Ucapan Resepsionis itu membuatnya bertambah yakin jika Reno tidak pergi keluar, melainkan ada di ruangannya. Cecilia yang pernah datang sekali jelas tahu dimana ruangan Reno berada. Dengan menyunggingkan senyuman dia melambai pada security tepat di saat pintu lift tertutup.
"Kalian kira gue bakal diem aja." ujarnya dengan membuka ikatan rambut yang bergelung di atas rambutnya.
Rambutnya kini terurai, Cecilia merapikan rambutnya dengan ke lima jarinya sendiri. Sampai lift terbuka dan dia melenggang keluar dan melangkahkan kedua kakinya menuju ruangan Reno.
Asisten Reno yang sudah mendapat informasi jika ada seorang gadis naik mencari bosnya itu keluar dari satu ruangan dan langsung melihat Cecilia yang semakin berjalan mendekat.
"Ooh ... Kau rupanya yang datang!"
Bugh!
Cecilia menendang menggunakan lutut yang dia tekuk tepat pada senjata di sela paha miliknya, hingga pria dengan kepala plontos itu meringis kesakitan. "Gak usah banyak bacot. Minggir ... gue mau ketemu Reno."
Namun dengan cepat pria itu mencekal tangannya, sementara tangan yang satu masih memegangi senjata miliknya yang terasa ngilu itu.
"Tidak bisa! Beliau sudah tidak mau menemuimu lagi."
Cecilia menepisnya kasar, "Tapi gue harus ketemu dia. Lepas!"
Brak!
Cecilia yang sudah tidak bisa mengendalikan amarahnya mendorong pintu ruangan dengan keras, lalu dia masuk ke dalam, sementara asisten itu mengikutinya dan menghalau langkahnya lagi.
"Minggir! Gue mau bicara sama bos lo."
"Biarkan dia Jo. Kau keluarlah." ujar Reno dengan melambaikan tangan ke arah Asistennya itu.
Dengan dada naik turun Cecilia menatapnya sengit, sementara Reno hanya menatapnya dengan kedua tangan yang dia rekatkan.
"Mau apa kau kemari hem?"
"Daddy ... Kenapa daddy tega lakuin itu sama aku!" Nada bicara yang keluar dari mulut Cecilia berbanding kebalik dengan tujuan awal kedatangannya. Entah kenapa dia berubah secepat itu. "Daddy udah gak sayang sama aku? Daddy tega ambil semua yang udah Daddy kasih sama aku."
Reno jelas tertawa mendengarnya, dia melambaikan tangan agar Cecilia mendekat, bak seekor kucing jinak. Gadis itu pun mendekatinya.
"Apa kau sedang main main denganku?"
Cecilia mendekat, "Gak! Untuk apa aku main main? Yang ada Daddy yang bikin aku sengsara, udah lama aku harus nahan rindu karena gak ketemu Daddy, tapi tiba tiba daddy rampas semua barangku."
"Bukankah kau memiliki pria lain yang menghangatkan tubuhmu itu, dia pasti membayarmu tinggi. Kau fikir aku tidak tahu. Berapa dia membayarmu hah?" sentak Reno dengan marah.
Cecilia semakin mendekati meja lalu menggelengkan kepalanya. "Dia hanya selingan ... Dia gak punya apa apa, bahkan dia gak kasih aku apa apa, dia miskin."
Reno tertawa lagi, "Benarkah. Tapi kau melayaninya juga?"
"Itu karena aku merindukan Daddy, Daddy fikir aku bisa menahan diri, aku kesepian selama dua bulan gak ketemu daddy. Daddy sih enak, ada istri. Aku kan juga normal dad."
Reno tertawa lagi, dia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Cecilia. "Kau yakin dengan apa yang kau katakan?"
"Sangat yakin Dad ... Untuk apa aku dengan orang yang jelas jelas gak bisa kasih aku apa apa kayak daddy. Inget dad ... Aku ini bekerja sesuai kontrak, i'm sugar baby." terang Cecilia berkacak pinggang dengan manja meyakinkan Reno,
"Jadi ...!" Reno mendekatkan wajahnya menghirup rambut Cecilia dalam dalam, "Kau tidak punya hubungan dengannya?"
Cecilia membalikkan tubuh menjadi menghadapnya, lalu dengan lembut tangannya menyusuri dada Reno. Menyentuhnya perlahan hingga pria yang sudah 2 bulan tidak mendapatkan kepuasan itu mendesir.
"Aku gak bohong dad ... Cuma daddy seorang, aku juga gak mungkin macam macam dan mengingkari kontrak kita, aku tahu konsekwensi dalam pekerjaanku ini. Inget Daddy ... Aku ini profesional."
"Kau benar honey! Kau akan rugi besar dan menanggung akibatnya jika kau berani macam macam." ujar Reno mencuil dagu Cecilia, pria itu kemudian merengkuh bahunya dan memeluknya, menciumii wajahnya dengan rakus dan berakhir pada bibir basah milik Cecilia.
Baru pertama kalinya Cecilia merasa jijik akan ciumman itu, dalam ingatannya terbayang sosok Irsan yang menatapnya. Sampai dia harus memejamkan kedua matanya agar bayangan Irsan hilang dari benaknya.
Pagutan itu terhenti begitu saja, dia memukul dada Reno dengan keras dan merengek bak anak kecil.
"Daddy jahat!" Ujarnya dengan menghapus bibirnya dengan punggung tangan. "Daddy jahat sama aku."
"Kau ingin apa hm? Kau ingin aku kembalikan semua fasilitasmu? Tapi kau harus janji dulu padaku satu hal."
"Apa?"
"Tinggalkan pria itu dan tinggallah bersamaku. Aku akan menceraikan Irene."
Kedua mata Cecilia terbelalak sempurna saat mendengarnya.
"What?"
.
.
Adudududuuu ... Apaan sih ini, yang bener dong Ce .. Lo kadang kadang iih ... Tapi bener juga, Si tiang listrik kan cuma nyetrum dikit sama lo mana gagal mulu lagi, mana gak kasih apa apa ye kan Ce... Wkwkwk... Kaburrrr aaaah....