
Pagi pagi sekali Cecilia sudah berpakaian rapi, wajahnya segar dengan kedua pipi kemerahan, rambut panjangnya terurai basah, menambah kesan segar di pagi hari dengan semangat membara, bukan apa. Hari ini dia ingin membuktikan bahwa dirinya layak sebagai asisten dosen di hari kedua dan mematahkan cemoohan teman temannya. Dan tentu saja untuk bertemu Nita dan meminta maaf pada sahabatnya itu. Gadis berambut panjang itu keluar dari kamar dengan bersenandung kecil, melangkah menuju meja makan setelah melihat sebuah piring dengan sarapan sudah tersaji sempurna.
Semalam Irsan pergi setelah memastikan dirinya terlelap, bisa dipastikan jika pria itu kembali ke rumah sakit untuk mengurus semua hal agar bisa mengambil cuti.
"Huft!"
Cecilia menghembuskan nafasnya dengan kasar, tidak ada siapa-siapa di unitnya. Sepi dan hanya suara denting jam yang menggantung di dinding. Belum cukp lama padahal keduanya tinggal bersama lalu semakin dekat, namun rasanya seluruh hidup Cecilia telah bergantung pada Irsan. Bahkan sudah beberapa kali kebiasaan buruknya terlewati karena Irsan yang menemaninya. Paper bag pemberian Embun juga masih tertata rapi di atas sofa tanpa enggan dia bereskan. Dia hanya mengerdik saat melihatnya, lalu menarik kursi meja makan dan menghempaskan tubuhnya di sana.
Senyumnya terulas tipis saat melihat note kecil berwarna merah terselip ditengah tengah sandwich tiramisu di sebuah piring cantik.
Makanlah, karena cantik saja tidak cukup, kau harus manis semanis tiramisu yang kau makan pagi ini. gumamnya saat membacakan tulisan yang cukup jelas di dalam note tersebut. "Apaan sih ini kocak banget! nggak ada gitu kata-kata yang lain, itu kata kata biasa, kayaknya tuh dokter nyontek goggle deh." ucapnya dengan berdecak, namun juga menggelitik dengan membulak balikan secarik kertas kecil itu.
Hap!
"Orang cantik dan manis."
Kelakarnya saat Cecilia memasukkan Sandwich ke dalam mulut sampai penuh, dia langsung bangkit dengan terburu-buru dan kerepotan dengan berbagai macam barang bawaan. Khususnya benda benda yang akan dia pakai nanti, tidak lupa laptopnya juga modul yang diperlukan.
Tanpa sengaja dia melihat Carl yang keluar dari unit yang tidak jauh darinya. Gadis itu mengernyit menatap pria tegap yang berjalan ke arahnya.
"Heh ... kenapa kau ada di sini?" tanyanya dengan memicingkan mata penuh curiga.
"Aku tinggal di sini, lebih tepatnya hanya berjarak 3 unit saja denganmu." Carl terkekeh dengan kedua alis yang turun naik. "Butuh bantuan?" ujarnya lagi karena melihat Cecilia yang kerepotan.
"Cih ... Jadi benar, kau pasti jadi mata-mata kan?"
"Untuk apa aku memata mataimu. Yang aku mata-matai adalah Irsan bukan kau."
Cecilia mendengus kesal, bisa diperkirakan jika Embunlah yang menyuruhnya, "Awas aja kau berani macam macam lagi! Kupukul kau."
"Justru aku mempermudah jalanmu cantik."
"Iya ... Dengan memperalat Nita yang bego."
"Siapa yang bilang dia bego? Dia itu cantik dan menarik! Dia juga menyenangkan."
Cecilia membola, benar dugaannya jika mereka selama ini dekat, tapi sedekat apa dia belum tahu. "Ku peringatkan ya ... Jangan main main denganku, atau berani mempermainkan sahabatku!"
"Aku ini penyayang dan welas asih, tidak akan berani mempermainkan wanita, mereka makhluk lemah yang harus di kasihi, dan aku tidak berminat padanya, aku lebih suka wanita dewasa dan keibuan, seksi dan aduhaiii...."
"Iihhhh!!" Cecilia menginjak kaki terbalut sepatu pentopel pria yang terus berceloteh itu dengan kesal.
"Awwww... Kenapa kau menginjak kakiku!" teriaknya kesakitan, menghindar dengan mundur dua langkah ke belakang.
"Baru kaki yang aku injak! Belum yang lain, rasakan itu nanti kalau kau berani macem macem sama Nita." ujar Cecilia langsung melengos pergi. "Kubuat burungmu gak bisa berdiri!" desisnya pelan dengan menoleh kembali ke arah belakang dimana Carl tengah meringis dengan mengelus kakinya.
"Gadis itu, ahh ... Injakannya kuat sekali! Irsan benar benar mendapatkan gadis sebar bar dia." gumamnya dengan menggelengkan kepala. "Astaga siapa juga yang mempermainkan temannya. Aku bahkan tidak terlalu dekat dengannya, dia memang menarik dan cantik, menyenangkan pula. Tapi aku tidak suka gadis dengan jarak usia yang jauh. Seperti Irsan dan Zian yang menyukai gadis di bawah umur." Gidik Carl mengingat kedua temannya yang sama sama memiliki hubungan dengan perbedaan usia yang cukup jauh.
Cecilia terus mendumel dalam hati, sikap Carl yang jelas jelas terlihat seperti pria penggoda mengganggu fikirannya, jangan sampai Nita sahabatnya masuk perangkap pria seperti itu. Terlebih Nita masih memiliki kontrak kerja.
"Ngeselin banget!" ujarnya dengan menendang udara kosong, tidak ada siapa siapa di dalam lift selain dirinya, hingga dia bisa puas menggerutu tanpa ada orang yang akan pusing mendengarnya.
Tak lama pintu terbuka, gadis itu segera melangkah keluar dan menuju lobby, sampai seseorang memanggil namanya.
"Cecilia?"
Cecilia menoleh ke arah suara, sedikit kaget namun juga mengangguk kecil.
"Kau sudah akan pergi kuliah?"
"Iya bu!"
"Maafkan Ibu ya, tapi kau mau kan nerima barang itu."
"Barang yang ibu kasih masih diatas." sahutnya datar, entah dia harus mengatakan apa pada Embun atas kesalah fahaman dihari kemarin. "Apa ibu marah padaku? Maaf ... Aku kemarin terlalu emosi bu."
"Tidak ... Ibu tidak marah! Kau benar, ibu yang terlalu egois."
Cecilia masih mengerjapkan kedua matanya tak percaya, Embun bersikap baik bahkan sangat lembut dengan tersenyum manis.
"Kau suka tiramisumu?"
"Hah?"
"Tiramisu itu buatanku, aku sengaja membuatnya untukmu."
Mampus, gue kira dari Irsan, ternyata dari Ibunya, pantesan tulisannya gak jelek jelek amat. Masih bisa di baca. Gue udah kegeeran aja dan mikir itu dari anaknya.
"Ma---makasih bu!" Cecilia menganggukkan kepalanya sedikit, benar benar tidak menyangka jika Embun berubah baik, atau masih berpura pura baik dia juga tidak tahu.
"Kunci mobilmu! Kali ini terima ini sebagai perminta maafan ibu selama ini karena pernah bersikap buruk padamu." Embun menyodorkan kunci mobil yang sempat Carl berikan padanya tempo hari namun dia tolak. "Kali ini Ibu tidak ingin ada penolakan, kau tidak suka perhiasan bukan? Jadi mobil lebih baik."
Lagi lagi Embun tersenyum dengan hangat, perubahan yang semakin membuat Cecilia sulit membedakan antara kepalsuan atau tidak.
"Tapi Bu ...!"
"Ambil ini dan pergilah, kau akan terlambat." Embun memberikan kunci mobil dengan paksa pada kepalan tangan Cecilia. "Tenang saja, rem dan persneling aman." imbuhnya lagi dengan terkekeh kecil.
Sungguh, kali ini Cecilia dibuatnya terpaku, tidak ada lagi kata kata yang bisa dia ucapkan pada Embun. Antara percaya dan tidak kalau wanita paruh baya itu berubah drastis.
"Kau masih tidak yakin padaku Cecilia?"
"Bukan gitu bu!"
"Terlihat sekali begitu, kau masih tidak yakin kalau aku benar benar sudah mulai bisa berdamai dengan semuanya sekarang."
"Ibu yakin?"