I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.84(Sama sama malu)



"Terus aku harus marah sama siapa. Sama setan?"


Irsan mencekal pergelangan tangannya lagi dengan tatapan memohon agar Cecilia tidak pergi begitu saja sebelum semua masalah beres dan tentu memaafkannya.


"Cecilia aku benar benar minta maaf--"


"Menurutmu gampang dengan hanya minta maaf. Akan selesai hanya dengan minta maaf? Maaf aku gak murah hati kayak di drama drama."


"Tapi tidak harus semarah ini bukan? Aku tidak bermaksud mempermainkanmu, aku hanya belum menjelaskannya padamu."


"Udahlah, kau sama munafikk nya dengan yang lain. Dengarnya Irsan, kau tahu apa yang aku lakukan hem? Tahu gak ... Enggak kan. Harga diriku emang gak setinggi kalian, tapi aku gak munafikk. Tindakanku berdasarkan apa yang aku lihat dan apa yang aku dengar. Sampai bertemu Ines pun kamu gak katakan apapun sama aku. Itu sama aja mempermainkanku brengsekk." ujarnya lalu kembali menepis tangan Irsan, dia kembali berjalan menuju unitnya dengan tersungut.


Gue ingin lihat segimana dia minta maaf, dasar tiang listrik. Segampang itu minta maaf, oke ini bukan masalah besar buat gue. Tapi tetep aja, mau ditaro dimana muka gue yang udah ngata ngatain Ines itu sundel padahal dia sepupuan, itu artinya dia juga bakal jadi sepupu gue. Kan anjim banget, baru kali ini gue ngerasa dipermainkan, malunya gak kebayang. Cecilia terus membatin seiring langkahnya pulang.


Irsan lagi lagi mengejarnya, ikut masuk ke dalam unit Cecilia saat gadis itu masuk.


"Udahlah apa lagi? Aku lagi marah, jadi lebih baik kau pulang."


"Tidak sebelum kau memaafkanku Cecilia."


Cecilia mendengus kasar saat Irsan memegang kedua pundaknya dan menatapnya nanar. "Please maafkan aku? Aku tahu tidak gampang dengan hanya minta maaf saja."


"Itu tahu! Tapi kamu malah sengaja." dengusnya lagi dengan memalingkan wajah ke arah lain.


"Iya aku tahu aku salah. Aku membiarkan hal itu sampai aku benar benar tahu perasaanku padamu begitu juga sebaliknya. Aku membiarkan kau tahu Ines kekasihku agar aku benar benar yakin dengan perasaanku."


"Udahlah penjelasanmu itu gak guna sekarang. Kau membiarkan aku berfikir hal itu berapa lama sampai kau menyadari perasaanmu. Katakan! Dasar plin plan." Kedua tangannya kini melipat di dada, dengan masih melihat ke arah lain dan tidak ingin melihat wajah Irsan apalagi tatapannya. Bisa bisa luluh begitu saja seperti drama drama korea.


"Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak lagi marah padaku Cecilia."


"Aku gak yakin kau mau melakukannya!"


"Katakan saja. Aku akan melakukannya."


Cecilia baru berani menoleh padanya, menatap wajahnya yang sungguh sungguh meminta maaf, tatapannya sendu yang bercampur dengan rasa panik.


"Kamu serius?"


"Aku selalu serius, kau tahu itu!"


"Oke ... Sekarang katakan siapa aku bagimu?"


Irsan menelan saliva, sudah tahu dia sangat susah mengungkapkan kata kata manis seperti itu. Cecilia justru sengaja. Ide konyol muncul begitu saja di otaknya.


"Ka--kau ingin mendengarnya lagi? Bukankah kau sudah tahu jawabannya. Hem."


"Aku emang udah denger, tapi yang lain belum."


"Maksudnya?"


Cecilia melepaskan kedua tangan Irsan dari pundaknya, berjalan melewatinya dan menuju pintu. "Kamu bilang ingin melakukan apa aja asal aku maafkan kan?"


Irsan menatapnya penuh curiga, menyesal dengan ucapannya sendiri saat melihat Cecilia membuka pintu.


"Jangan bilang kau ingin aku mengatakannya pada semua orang."


"Bener banget! Emang itu yang aku mau."


"Benar benar kau ini."


"Kau tidak mau melakukannya? Ya udah kalau gitu, aku gak akan maksa. Lagi pula kemarahanku ini gak ada artinya buatmu. Jadi sekarang lebih baik kau pergi." Cecilia berdiri diambang pintu yang sedikit terbuka, bersandar dengan melipat kedua tangan di dadanya. Tatapannya tertuju pada Irsan dengan nyalang.


Irsan menghela nafas. "Baiklah, asal kau mau memaafkan ku dan tidak lagi marah."


"10 orang, gak banyak." Cecilia bersorak di dalam hatinya, dia tidak benar benar marah. Dia hanya malu pada Ines.


Kedua alis Irsan bertautan, mengatakan pada satu orang saja tidak mudah apalagi 10 orang, dan gadis itu lagi lagi mempermainkannya. Cecilia lalu keluar unitnya sendirian, sementara Irsan masih terpaku ditempatnya


"Ayo! Katanya ingin aku gak marah lagi. Ini udah sedikit turun, jadi kau harus menurunkannya lagi."


"Heh ... Memangnya kau ingin aku katakan pada siapa?" kecurigaannya benar, Cecilia sengaja mempermainkannya.


Cecilia menunjuk ke arah lift dan mengulum senyuman yang tentu saja Irsan tidak mengetahuinya. Pria berusia 40 tahun itu meraup wajahnya kasar.


"Astaga! Aku salah ucap! Harusnya aku tidak melakukannya, dia akan membuatku malu." gumamnya.


Dengan langkah malas dia keluar dan mengikuti Cecilia yang sudah berjalan lebih dulu menuju lift. Gadis berusia 20 tahun itu mengulum senyuman.


"Bisakah kau menyuruhku melakukan yang lain saja?" tawarnya pada Cecilia.


"Apa. Oh ... Atau kau ciuum aku pas pintu lift terbuka ya. Mau itu aja ok?"


"Tidak ... Tidak!! Itu akan merusak lisensi kedokteranku." jawabnya dengan cepat.


"Ya udah, 10 orang gak lebih." ketusnya, namun terselip senyuman tipis di bibirnya.


Irsan menghela nafas, menunggu lift terbuka dan orang orang keluar. Debaran jantungnya jangan ditanya lagi, seperti bunyi bom yang akan meledak. Meresahkan emang dia.


Ting


Pintu terbuka dua orang pasangan suami istri dan satu anak yang digendongnya keluar, Irsan mengambil nafas sebelum mengatakan apa yang harus dia katakan untuk meredakan kemarahan kekasihnya itu.


"Halo ... Dia kekasihku." ujarnya dengan menunjuk Cecilia yang berdiri tak jauh, berjarak 1 meter hingga masih bisa dia dengar dengan jelas. Kedua orang itu mengernyit lalu menoleh pada Cecilia yang melambaikan tangan dengan percaya diri.


"Selamat!" ujar keduanya datar lalu kembali berjalan.


Cecilia terkekeh, sementara Irsan mendengus kesal.


"Aku tidak mau melakukannya! Ini sangat memalukan, lagi pula mereka tidak akan peduli."


"Aku tahu mereka gak akan peduli, aku juga gak minta buat mereka peduli. Aku cuma mau mereka tahu." kekehnya lagi.


"Cecilia!"


"Kemarahanku turun baru 20 persen!"


Irsan terus mengatakan hal yang sama pada 10 orang yang keluar dari lift, benar benar seperti orang bodoh, lagi lagi di usianya yang berkepala empat dia melakukan hal konyol yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.


Cecilia tertawa saat wajah Irsan mengerut kesal, pria ke sepuluh yang mendengar hal itu mendengus lalu pergi tanpa mengatakan apa apa.


"Dia iri gak punya pacar." kekeh Cecilia. "Gak kayak yang tadi yang bilang selamat semoga langgeng, atau selamat kekasihmu cantik sekali."


"10 orang kan! Selesai." ujarnya menarik pergelangan tangan Cecilia dengan cepat. Lalu membawanya kembali ke unitnya.


Kekesalan yang benar benar ditahan atas hal yang memalukan baginya. Hanya agar melihat Cecilia tidak lagi marah.


"Itu sangat memalukan Cecilia!"


"Sama ... Itu juga aku rasa saat tahu Ines sepupumu." jawabnya pada Irsan yang terus menariknya tanpa menghentikan langkahnya.


"Hei ... Pelan pelan. Kau mau kemana!"