I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.252(Masih banyak waktu)



Siska mengangkat benda pipih dari alat tampung dan langsung terdiam saat melihatnya. Membuat Irsan menjadi tidak sabar dan langsung mengambil benda tipis itu dari jari Siska dan melihatnya sendiri.


Raut wajahnya sukit diartikan saat menatap dengan seksama garis yang berwarna merah yang sudah muncul di sana. Dia pun mengulas senyuman dan kembali berbalik.


"Gimana?" Tanya Cecilia semakin penasaran, padahal hatinya saja masih belum yakin kalau dirinya akhirnya akan hamil.


Irsan menggelengkan kepalanya lirih dengan tersenyum. "Kita bisa mencobanya lagi."


"Maksudnya?" Cecilia menatap Dokter Siska lalu kembali melihat suaminya. "Aku gak hamil?"


"Belum Cecilia ... Belum waktunya, mungkin akan segera." tukas Siska yang kini bangkit dan membereskan peralatan kedokterannya. "Kalau ingin lebih yakin dan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, kita bisa lakukan test kesuburan di rumah sakit besok pagi." sambungnya lagi.


Kedua orang yang tengah diam itu hanya saling menatap, Irsan merengkuh bahu Cecilia dan mengelusnya berulang kali, seolah mengatakan tidak apa apa dan jangan berkecil hati. Sampai Siska berpamitan dan akhirnya pergi dari unit mereka.


Irsan masih terdiam, sesekali dia menatap Cecilia yang juga terdiam.


"Tidak perlu khawatir, aku sudah bilang kita masih punya banyak waktu." ujarnya menenangkan.


"Ini malah jadi kefikiran, aku awalnya biasa aja tapi karena kamu yang gak sabaran. Gimana kalau aku gak subur dan gak bisa punya anak? Bayangkan aja nih, kita padahal pernah ngelakuinnya sebelum menikah dan gak pake pengaman. Terus aku gak hamil."


Raut wajah Cecilia menjadi sulit di artikan, terlebih oleh Irsan yang memang sejak awal hanya menduga duga saja.


"Gimana kalau ternyata gak bisa hamil."


"Kenapa kau sekhawatir ini sayang? Bukankah kau juga bilang pernikahan ini baru seumur jagung? Mungkin belum saat nya saja." tukas Irsan yang kembali sadar dan menenangkannya.


Dialah yang awalnya panik, dia pula lah yang tidak sabar sampai menyuruh Dokter Siska untuk datang malam itu juga. Dan sekarang justru Ceciia yang menjadi tidak tenang sekarang.


"Sudahlah, tidak apa apa. Kita akan terus mencobanya." Irsan kembali merengkuhnya dan memeluknya,


Cecilia pun melingkarkan kedua tangan di punggang Irsan. "Mungkin belum waktunya saja!" tukasnya lagi.


"Apa karena aku sering minum alkohol? Atau merokok juga itu pengaruh?"


"Mungkin juga, banyak faktor uang menyebabkaan seseorang wanita belum hamil, bukan hanya itu saja."


"Semenjak sama kamu juga aku udah gak pernah lihat jadwal kesuburanku!" dengusnya pelan, "Gak tahu juga kenapa, padahal aku paling hati hati soal itu kalau dulu."


"Itulah mungkin karena kau memakai perasaan sampai hamil pada saat itu pun sepertinya tidak masalah. Iya kan?" tukas Irsan yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Kayaknya iya, atau aku lebih gak peduli soal itu saat godaain kamu ya," Cecilia memukul pelan dada Irsan.


"Kalau begitu kau harus sering menggoda ku sekarang sayang."


"Dih ... Doyan juga kan sekarang,"


Mereka berdua akhirnya tertawa, walaupun Cecilia masih merasa waswas jika dia memang memiliki masalah kesuburan.


"Aku gak mau diperiksa! Nanti saja, aku takut ...!"


Sementara itu pintu kembali terbuka, membuat keduanya kaget bukan main, dan saling mengurai pelukan.


"Astaga ... Aku iri melihat kemesraan kalian berdua, mentang mentang sudah sah menjadi suami istri dan tidak memikirkan orang lain."


"Kak ines?"


"Astaga ... Apa kau masuk tanpa permisi? Setidaknya tunggu kami selesai dulu." Irsan bergegas masuk ke dalam dapur dan menenggak segelas air putih.


Sementara Cecilia terkekeh dan menghampiri sepupu suaminya itu. "Kenapa kak?"


"Aku ingin minta pertanggung jawaban suamimu! Dia harus segera mencarikan aku teman kencan." Tukasnya dengan melipat tangan di dadanya.


"Astaga ... Apa hanya itu yang ada di kepalamu saat ini? Apa lebih baik kau mengembangkan bakat desainermu? Mengambil jurusan S2 lagi atau apapun itu?" Irsan kembali dari dapur dan duduk di sofa dengan menggelengkan kepalanya.


"Tidak ... Aku tidak mau berkencan." ujar Ines yang kini duduk di meja makan, mencuil makanan yang ada di atas piring.


"Apa ini?" tunjuknya pada benda pipih yang dia temukan di dekat kakinya sendiri. "Kau baru saja cek kehamilan?"


"Ya ... Dan hasilnya aku gak hamil." jawab Cecilia menaikkan dua bahunya.


"Santai saja ... Usiamu masih 20 tahun! Apa kabar denganku yang 27 tahun dan masih melajang."


Cecilia jadi lebih berbesar hati saat mendengarnya, dia duduk kembali di meja makan.


"Ah ... Kak Ines benar!"


Ines menaikkan dua alis miliknya dan terkekeh. "Tidak usah khawatir Cecilia ... Setidaknya kau masih bisa berusaha setiap hari untuk memproduksi anak. Sementara aku? Astaga ... Usiaku menjelang 30 dan tidak memiliki partner untuk sekedar memikirkannya."


Cecilia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, sudah merasa lebih baik dari sebelumnya dan tidak terlalu khawatir jika dirinya masih belum hamil.


"Aku bantu kak Ines dapet teman kencan gimana?"


.


.


wkwkwk ... Maaf membuat kecewa dengan Cece yang belum hamil. Belum waktunya ... Eh belum othor kasih waktunya. Hihihi...


Makasih banget buat yang udah bulak balik ke tetangga untuk lihat Nita yang masih harus berjuang nyari ayah buat si kecebong. Hihihi ... Fighting Nita.


Nyatanya emang begitu, disaat orang ingin memiliki anak tapi belum dikasih waktunya. Tapi seseorang bisa memiliki anak walau dia tidak ingin.


Jangan lupa juga dukung novel yang Beautyful Hunter othor dong.


Itu lomba percintaan non human lho dimana Vampire malah saling jatuh cinta sama pemburu Vampire.


Othor gak berharap jadi juara, tapi kalau Cecelover mau dukung minimal othor bisa juara 1 biar banggain emak. wkwkwkw (Naon si othor teh capruk)