
Lama sekali rasanya Irsan terdiam, sampai Cecilia berdecak dua kali saat sampai rasanya pegal sendiri.
"Jadwal rumah sakit?" tanyanya kesal. "Ada Tristan sekarang yang bisa diandalkan, lagian kamu juga bisa nyuruh Prof. Sam buat gantiin sementara. Dia kan kerjanya paling dikit tapi gajinya paling gede! Masa gak mau gantiin kamu doang sih?" ujarnya lagi mendengus.
"Baiklah ... Tapi kita usahakan pergi ke tempat yang paling dekat saja ok?"
"Biar kalau ada panggilan Rumah sakit, kau bisa langsung meluncurkan?"
Irsan mengangguk, menatap lirih Cecilia. Tapi bagaimana dengan pasien pasien yang tengah di tanganinya. Bulan madu adalah hal yang tidak masuk logika baginya, hanya pindah tempat tidur saat bercintaa saja. Fikirnya.
"Aku udah tahu maksudnya, gak bisa pergi jauh ya bukan honey moon namanya, honey moon itu sama aja spend time kita, emang bisa di lakukan di sini juga, di apartemen tapi kan beda!" tukas Cecilia tambah kesal, saking kesalnya dia menyeruput kopi miliknya walau panas, dan dia tersentak kaget sendiri.
"Pergi sesuai pilihanku atau lain waktu saja, banyak yang harus Tristan sesuaikan. Aku yakin kamu mengerti sayang." Irsan mengelus rambutnya lembut.
"Ya udah deh ... Gak apa apa, yang penting kita pergi tanpa memikirkan hal yang lain, apalagi soal pekerjaan. Gak lihat itu wajahmu sudah mulai berkerut karena terus memikirkan masalah pekerjaan. Sekali kali boleh dong santai?"
Irsan mengangguk, "Baiklah ... Kita pergi."
"Yes!!" Cecilia hampir melompat kegirangan saat mendengarnya, "Makasih sayang, gak apa apa dekat dekat sini aja, Lombok kek, Bali, atau Sulawesi ya. Itu kan gak jauh. Gimana?"
"Itu jauh sayang, bagaimana kalau ada darurat dan aku harus ke Rumah sakit?"
Cecilia merengut dengan menghentakkan kakinya. "Astaga ... Ya udah ke ancol aja sekalian, deket ... Jalan kaki aja, bisa pulang pergi juga ... Sekalian tuh ke Taman mini kalau gak naik kereka api bulak balik ke stasion gambir."
Irsan justru tertawa mendengarnya, "Kau yakin?"
"Kau fikir?" tanya Cecilia ketus.
Pria berusia 40 tahun itu terus mengulas senyuman, "Baiklah, kita pergi ke ancol, kau ingin lihat lumba lumba?"
Irsan menyusulnya masuk, pria itu memang tidak pandai bercanda, celotehan yang keluar dari mulutnya biasanya tidaklah lucu.
"Jadi bagaimana. Kau ingin lihat lumba lumba atau ubur ubur. Atau kita bisa snorkeling di dermaga Marina. Bagaimana?"
"Terus nanti kalau kita lagi Snorkeling tiba tiba ada pasien gawat darurat gimana?" Tanya Cecilia yang duduk dengan melipat tangan di dadanya. "Kalau gitu mending gak usah Snorkeling, ribet tahu gak."
"Ya sudah kalau gitu, aku akan membuat jadwalku dan Tristan agar bisa menggantikan aku."
Cecilia mengulas sedikit senyuman, "Kapan kita akan berangkat?"
"Secepatnya. Oke?"
Gadis berambut panjang itu menganggukkan kepalanya, "Awas kalau lama, nanti lupa dan makin sibuk Mas Dokter di Rumah sakit. Mungpung Ibu juga udah sehat dan aku udah gak khawatir lagi. Liburan semester juga masih lama, abis it--- mmpphh!"
Karena dirasa terlalu banyak bicara, Irsan membungkam mulutnya dengan cepat menggunakan bibirnya sendiri, membuat Cecilia kaget namun juga terkesiap karena tindakan Irsan yang tiba tiba.
Namun bibir Irsan yang hanya menempel kini terbuka, melumaat bibir Cecilia dan meneroboskan lidahnya kedalam indera pengecap miliknya.
"Cerewet sekali istriku Ini. Apa aku setiap hari harus menciummu agar kau diam sebentar dan memberiku waktu berfikir. Hm?"
.
.
Maaf Cecelover, othor dikit dikit dulu ya, soalnya lagi rempong banget di Rl ... Othor lagi pindahan ke apartemen baru, biar makin deket sama Doksay. Wkwkk.
Othit nyari Daddy dulu buat bantuin ungkat angkut yaaa. Sabar sabar yaa Cecelover, Nita di sebelah juga Arlene, kalian sabar nungguin othor ya.