I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.235(Tunggu sebentar)



Dan Irsan benar benar seorang dokter yang profesional, dia langsung menuju rumah sakit dan kembali bekerja padahal baru saja tiba, selain itu mereka juga sekaligus mengantarkan ibunya Cecilia menuju kembali ke ruangannya, Pria itu langsung menghampiri dokter ahli kejiwaan yang merupakan juniornya saat di kampus. Sementara Cecilia masih menemani sang ibu yang bebenah, kondisinya semakin baik saja namun masih harus beberapa kali lagi melakukan beberapa test dan perawatan,


"Kau akan sering kemari untuk mengunjungi ibu kan nak?"


"Ya pasti lah Bu, aku akan makin sering kesini, lihat Ibu dan lihat suamiku agar tidak macam macam." sahut Cecilia yang berbicara dengan ibunya namun kedua matanya tajam ke arah Irsan yang tengah berbincang bincang dengan dokter wanita itu.


"Ku fikir pasien ini benar benar harus dipindahkan ke rumah sakit lain!" tukas Dokter yang selama ini menjadi Dokter Ibu Cecilia. "Ternyata kau!" ujarnya lagi dengan menepuk bahu Irsan, "Selamat atas pernikahanmu ya, sungguh membuatku kaget kau menikah tiba tiba." ucapnya lagi dengan mengulurkan tangan.


"Terima kasih! Aku titip ya." Irsan mengulurkan tangan tanpa menjelaskan apa apa terlebih mengeluarkan ibu Cecilia adalah ide Zian dan juga Carl. Bukan dirinya.


Tiba tiba keduanya tersentak karena Cecilia menepiskan jabatan tangan keduanya dengan gerakan cepat.


"Excuse me ... !" Ucapnya dengan wajah serius dan juga tajam menatap dokter wanita itu. "Ayo sayang ...! Bukannya tadi kau bilang buru buru. Terima kasih dokter, tolong jaga ibuku." ujarnya lagi dengan tersenyum tipis.


Melihat hal itu dan kecemburuan yang jelas terlihat, Irsan yang tadinya kaget jadi mengulum bibirnya, merasa senang karena Cecilia yang memperlihatkan kuasanya kalau dialah pemiliknya.


"Kenapa senyum senyum, seneng yah pegangan tangan dengannya tadi!" tuduh Cecilia saat mereka keluar dari ruangan ibunya dirawat.


"Tidak juga, aku senyum karena hal lain, jabatan kami tadi tidak memiliki arti apa apa selain karena sambutan seorang rekan sejawat." sahutnya dengan jawaban yang membuat Cecilia mendengus.


Mereka masih berjalan ke arah ruangan Irsan, namun tiba tiba Cecilia menangkap sosok yang selalu menyebalkan jika mereka bertemu satu sama lain.


"Males banget kalau udah ketemu si mulut lemes!" cicitnya pelan dan hanya terdengar oleh Irsan.


Membuat pria itu menoleh pada orang yang di maksud oleh Cecilia lalu tertawa. "Jangan hiraukan Dokter Aji."


"Emang, siapa juga yang akan peduli sama dia itu!" Dengus lagi dengan langsung melingkarkan tangan pada lengan Irsan.


Begitu juga Dokter Aji yang melihatnya dan langsung berdecih, tapi tetap mengulurkan tangan pada Irsan. "Aku tidak tahu apa aku harus mengatakn ini sebuah bencana ataukah keberuntungan."


"Apa maksudnya nih?" sela Cecilia dengan menyorotinya tajam.


"Lupakan!" ujar dokter Aji yang langsung melengos pergi, "Aku akan menemuimu lagi nanti." ujarnya lagi pada Irsan.


Irsan hanya mengelengkan kepalanya saat melihat keduanya yang terlihat tidak saling menyukai itu, namun dia juga tidak mau ambil pusing akan hal sepele yang menurutmya tidaklah perlu dibesar besarkan.


Irsan membuka pintu ruangannya dan masuk di ikuti oleh Cecilia yang terus menggerutu.


Irsan menariknya agar duduk lalu dia sendiri mengikutinya dengan duduk disampingnya. "Bukankah aku sudah pernah bilang tidak usah hiraukan orang itu, dia memang begitu."


"Hah ... ya tuhan, kau sengaja melakukan hal ini karena kau ingin tahu rasanya gimana?" Cecilia benar benar dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Sangat berbeda saat sebelum menikah.


"Ya ... Karena setelah mereka kembali bekerja, aku pernah memergoki salah satunya tengah seperti ini!"


"Pasti si lemes Aji, iyakan?" duganya dengan terkekeh, "Aku heran apa saja yang kau lakukan selama hidupmu di dunia ini? Kamu gak pernah sekalipun berbuat nakal, menjaili teman atau bahkan menonton video poornoo?"


Irsan yang nyaman merebahkan diri di paha Cecilia menggelengkan kepala dengan kedua mata yang terpejam. "Aku tidak pernah melihat video itu," sejurus kemudian dia membuka kedua matanya dan menatap Cecilia,


"Apa? Kau ingin melihatnya sekarang?? Aku punya banyak koleksi video dewasa d laptopku kalau kau mau," Cecilia terkekeh.


"Tidak, kenapa aku harus menonton orang lain dan itu pasti menjijikan, aku bisa langsung melakukannya kalau aku mau!"


Cecilia yang masih terkekeh itu kini tertawa, dengan menggusel kedua pipi Irsan, "Sekarang aja kamu berani bilang kayak gitu. Hah ...."


"Tentu saja karena kau sudah jadi Istriku sekarang. Bukankah aku sudah katakan!"


Cecilia dengan gerakan impulsifnya menciumi seluruh wajah Irsan. "Ahhh makin makin deh kamu, gemes!"


Dengan gerakan cepat Irsan menarik kepala Cecilia dan menyambar bibirnya lembut, dia sekarang dia lebih leluasa melakukannya karena Cecilia sudah resmi jadi Istrinya, tidak ada alasan lagi untuk menahan diri saat menginginkannya seperti sebelumnya,


Mereka saling merasai, dan rasanya jelas berbeda saat mereka melumatt satu sama lain saat ini, karena dibawah janji suci pada tuhan yang sudah mengikat keduanya.


Decakann demi decakann keduanya terlahir dari nafssu dengan di iringi oleh doa dan restu alam semesta. Yang disetiap gerakannya tercipta cinta dari sang pemilik surga. Tidak ada dosa dosa setiap desiraan desiraan yang menyeruak hebat dalam aliran darah mereka.


Irsan bangkit dan menarik lebih dekat tubuh Cecilia tanpa ragu, menyelusupkan tangan ke dalam pakaian dan melepaskan tali pengait yang terpasang pada dua benda bulat yang padat. Cecilia melenguhh pelan, saat tangan Irsan meremasss lembut di area dadanya.


Namun tiba tiba Cecilia menahan tangan Irsan yang masih bergerilya bebas.


"Tunggu sebentar, aku ada janji ketemu dokter!"


.


.


Kwkwk ... Kabuurrrrr