
"Apa apaan orang lagi ngomong?"
Cecilia mengusap bibirnya yang baru saja dikecup oleh Irsan seraya mendelik ke arahnya.
"Aku hanya ingin mencicipi wine yang kau minum Cecilia." kilahnya dengan membuang wajahnya ke arah lain. Bodoh sekali kau Irsan. Batinnya merutuk.
"Masa?" Cecilia mendekatkan wajah ke arahnya, membuat Irsan kaget, "Modusss! Aku gak percaya kalau kau hanya ingin nyobain wine aja, kau bisa meminumnya langsung, bukan dari bibirku."
Wajah Cecilia semakin maju saja, membuat Irsan semakin kelabakan, dia sedikit mundur dan Cecilia justru bergerak lebih maju.
"Itu benar! Ka--karena aku jarang sekali minum wine, bisa dikatakan tidak pernah."
Cecilia tersentak, memundurkan kepalanya lagi. "Benar kah?"
"Hem ... Aku masih kalah jauh dibandingkan denganmu kalau soal pergaulan. Aku ini introvert, aku tidak pergi ke klub malam apalagi minum alkohol."
"Pasti hidupmu gak seru."
"Aku tahu! Tapi toh semua itu tidaklah terlalu penting sekarang,"
"Jadi apa yang paling penting menurutmu? Hidup sehat dan panjang umur, sukses dalam berkarier, hidup makmur. Lalu mati. Kau belum pernah melakukan hal hal buruk, taat, disiplin. Kereen banget. Tapi sayang, gak seru."
"Jadi kau bangga karena kau nakal hem?"
"Enggak ... Tapi minimal aku udah pernah nyoba, aku gak bisa di tipu dan tentu aja hidupku seru." Cecilia terkekeh. "Kau pernah mencuri buah dari pohonnya langsung? Pasti tidak." kekehannya semakin keras.
"Kau pasti pernah, jangankan buah, kau ahli dalam mencuri."
Cecilia memicingkan kedua matanya, "Jangan kau ingat ingat hal itu lagi."
"Apa. Hal apa?"
"Mencuri makeup?"
Irsan mengulas senyuman, "Bukan hanya itu Cecilia, kau juga mencuri hatiku."
"Heh?"
Cecilia terkekeh mendengarnya. Jujur saja, dari awal dia selalu berfikir Irsan yang kaku dan tidak banyak bicara juga tidak peka itu tidak akan bisa berkata kata manis apalagi mengandung banyak makna, candaannya saja garing dan sama sekali tidak lucu. Dan semakin sering Irsan mengatakan hal hal manis, semakin menggelikan justru baginya.
"Kenapa. Kau tidak percaya padaku sebagaimana aku percaya padamu?"
Cecilia merubah posisi duduknya, dia mengang kat kaki kiri dan dlipatnya, lalu di dudukinya sendiri. Menghadap ke arah Irsan yang duduk menyerong.
"Gimana kalau seandainya aku berkhianat?"
Tanpa di duga Irsan mengelus pucuk rambutnya dengan lembut.
"Percaya padamu adalah keputusanku. Tapi memastikan keputusanku benar atau tidak adalah keputusanmu. Jadi semua tergantung padamu Cecilia."
Cecilia mengerjapkan kedua matanya, mencerna ucapan Irsan yang menurutnya susah di cerna oleh otaknya yang malas berfikir itu.
"Percaya padaku adalah keputusanmu ... Tapi memastikan keputusanmu benar atau tidak adalah keputusanku. Eeehmmm!!" Cecilia mengulangi ucapan Irsan dengan ritme yang pelan, "Bisa gak pakai cara yang sederhana aja. Jujur aja, aku gak bisa mikir nih."
Irsan tertawa kecil, membuat ketampanannya semakin kentara, tawa yang sangat jarang dia dengar dengan wajah tegasnya.
"Apa kau bodoh? Sampai tidak mengerti ucapanku ini." Ujar Irsan yang terus tertawa.
"Apa itu artinya kalau aku pergi kau gak akan ngejar aku lagi?"
"Untuk apa aku mengejar orang yang pergi dan tidak ingin berada di sisiku Cecilia? Aku hanya akan mengejar orang yang ingin aku kejar." sahut Irsan menohok.
"Hm ... Sepertimu, aku akan mengejarmu selama kau menginginkanku dan ingin bersamaku. Kalau kau pergi karena kau ingin pergi, aku tidak akan lagi mengejarmu."
"Berarti kau gak benar benar cinta dong kalau gitu caranya."
"Cinta sih cinta, tapi logika juga di pakai dengan baik, jangan bodoh hanya karena cinta seperti kebanyakan pria lain melakukannya. Aku tidak!"
Prok!
Prok!
Cecilia bertepuk tangan, merasa jawaban Irsan adalah jawaban seorang pria yang berbeda dari kebanyakan pria yang dia kenal. Benar benar berbeda.
"Kamu beruntung sayang! Aku ini tidak suka dikejar, apalagi oleh pria yang tidak suka. Karena aku akan mengejar dandatang sendiri pada pria yang aku suka. Bahkan aku akan menyerahkan semuanya."
"Seperti padaku?"
Cecilia mengangguk dengan menggigit bibirnya sedikit seraya tatapan merayu andalannya. "Ya ..."
Irsan mengelus kedua pipinya lembut, bibirnya terangkat manis dengan tatapan meneduhkan. Sementara Cecilia sudah ingin menyambar bibirnya lagu, dia benar benar tidak bisa menahan diri apalagi menunggu Irsan yang memulainya. Jiwa liaarnya sudah meronta ronta.
"May i kiss you?" lirih Irsan.
"Pake ditanya!" gumam Cecilia tanpa suara. Lebih memajukan kepalanya agar lebih cepat.
kedua tangan Irsan merekat di sela lehernya, dengan ibu jari yang berada di pipi mengelusnya lembut, perlahan dia menariknya lalu menempelkan benda basah miliknya.
kedua benda kenyal terbuka dengan sendirinya, saling menyambut lalu berpagutan lembut, pertukaran saliva yang berbeda dari sebelum sebelumnya karena kali ini Irsan yang memulainya duluan.
Begitu juga dengan Cecilia yang terbawa suasana oleh Irsan yang memperlakukannya sangat lembut, dia memejamkan mata dengan kedua tangan melingkar di leher pria yang banyak memberinya pelajaran penting dalam hidup.
Decakaan demi decaakan lembut mulai terdengar, saat dua benda tanpa tulang saling membeliit satu sama lain, semakin lama dan semakin dalam lagi, saling menyisir serta membuat keduanya hanyut dalam buaian serta desiran yang kian lama kian menyeruak.
Cecilia melenguuh, saat tangan Irsan turun menyusuri pinggangnya, menyelusup masuk hingga membuat bulu bulu halus di kulitnya meremaang.
Paguttan tidak terhenti begitu saja, Cecilia mengecupp ceruk leher Irsan dan memberikan sedikit gigitan di cupiing lehernya, mencoba peruntungan agar Irsan melakukannya lebih dari yang terakhir mereka lakukan dan tidak lagi berhenti tiba tiba.
Tangan Irsan mulai naik, menyisir bagian perut dan membelai lembut tali pusar bertindik miliknya, dengan satu tangan yang mulai berhenti di benda bulat miliknya. Perlahan namun pasti, Irsan meremass kedua benda bulat dengan lembut, sementara bibirnya kembali menyambar dan kali ini lebih rakus lagi.
Tubuh Irsan maju dan mendorong Cecilia hingga gadis itu terbaring secara perlahan di sofa, membuka perlahan pakaian yang dikenakan Cecilia dan memperlihatkan kedua benda bulat yang seukuran kepalan tangannya.
Desiran di darahnya semakin kencang, bersamaan dengan nafas keduanya yang terus saling berburu, menuntun keduanya ke level yang lebih lagi. Dengan nafas yang semakin berat Irsan mendaratkan kecupan lembut di berbagai tempat, membuat Cecilia yang berada di bawah kungkungannya semakin bergelinjangaann.
Eeughhh
Satu kecupan berhasil membuat Cecilia hampir gila, kecupan tepat di tonjolan kecil berwarna pink miliknya,
Irsan mencecappnya lembut dengan memainkan ujung lidahnya di sana.
"Bisakah ....eeuhh ... Kita lakukan saja Irsan? Ini bikin aku gila."
Irsan mengulum senyuman, keduanya matanya menatapnya teduh. Sama hal dengannya, dia juga menginginkannya lebih. Tidak terkendali dan sama gilanya, terlalu nikmat jika berhenti begitu saja.
"Aaaahh sial!!!"
.
.
Wkwkwk ... Ayo Ce ... Bikin Si tiang listrik konslet aja sampai ke gardu gardunya. Othor mau ngumpet dulu. Takut di amuk.