
Cecilia terbeliak kaget dengan menatap pria yang berbicara sangat tegas itu, bahkan tidak ada keraguan dalam segala ucapannya. Memberi Bastian uang tentu saja bukan ide yang bagus, dia akan semakin berani satu saat nanti.
"Jangan ... Jangan kau lakukan hal itu, dia akan makin jahat."
Keputusan Irsan jelas bukan main main, dia memikirkan dengan sangat matang, namun berbeda dari biasanya dimana Irsan tidak pernah menggunakan kekuasaan dan uangnya untuk mencapai sesuatu. Kini dia melakukannya, menggunakan uang untuk menggenggam Bastian.
Irsan tidak menggubris larangan Cecilia, pria itu berjalan mendekati Bastian yang tengah melingkarkan tangan pada bahu istrinya.
"Aku hanya akan memberimu kesempatan satu kali saja, ambil uangku dan pergi sejauh mungkin. Kalau kau sampai berani menunjukan wajahmu lagi padanya atau bahkan padanya!" tunjuk Irsan pada Ibu Cecilia sekaligus pada Cecilia. "Kau akan menyesal seumur hidupmu!" pungkasnya lagi.
Cecilia terbeliak lagi, tidak biasanya Irsan yang taat aturan dan juga norma norma hukum melakukan hal yang bertentangan seperti sekarang.
Sementara Bastian terkekeh dengan melepaskan renguhannya pada sang istri.
"Kalau harganya sesuai, aku pasti akan melakukannya! Kau benar benar kaya Dokter? Kalau begitu aku ingin sebuah tempat tinggal, aku juga ingin uang yang banyak. Aku akan pergi kalau menurutku uang yang kau tawarkan itu sesuai."
"Bastian!"
Cecilia berteriak keras, sampai membuat sang ibu kembali menutup kedua telinganya, hal yang lebih memalukan yang di lakukan ayah sambungnya adalah menerima uang dari pria yang selama ini membantu kehidupannya. "Kau benar benar brengsekk!"
Bastian tertawa, "Aku tidak akan menyia nyiakan kesempatan ini, sudah cukup bagiku hidup miskin bersama Ibumu yang sudah tidak berguna itu."
Bugh!
Cecilia kembali menghantamkan pukulan pada Bastian yang bisa bisanya mengatakan hal setega itu pada ibunya. "Mampus kau. Brengsekk!"
"Sudah Cecilia. Biarkan dia pergi, kita bisa membawa Ibumu dengan aman tanpa di ganggunya lagi." desis Irsan yang menahan tubuh Cecilia yang terus meronta hendak kembali memukul Bastian. "Pukulanmu tidak akan berguna sama sekali, kita hanya akan berikan uang dia inginkan!"
"Gak ... Aku gak sudi. Enak saja dia dapat yang dia inginkan!"
"Dengar ... Kemarahanmu dan juga emosimu tidak akan membuatnya menyesal, dia akan terus memanfaatkan Ibumu. Yang kau harus fikirkan saat ini adalah Ibumu. Ibumu butuh perawatan. Kau lihat kan. Kau tahu itu Cecilia." terang Irsan sejelas jelasnya.
Setelah mendengar penjelasan Irsan, Cecilia terdiam sejenak. "Kenapa kau mau melakukannya. Kamu gak tahu gimana dia. Dia bakal kembali setelah uang yang kau berikan habis."
"Tidak akan aku biarkan dia kembali apalagi kembali menyakiti ibumu. Percaya padaku Cecilia, kali ini saja. Biarkan aku yang mengurus semuanya." terang Irsan dengan kedua tangan yang berada di kedua pundak Cecilia. "Percayalah."
Akhirnya Cecilia hanya bisa mengangguk kecil saja, membiarkan Irsan mengurus semuanya. Lagi lagi dia terdiam menatap ke arah Irsan yang tengah mengotak ngatik ponselnya.
"Aku sudah siapkan semua yang kau inginkan! Termasuk segala konsekwensi yang akan kau terima jika kau berani mengingkari janjimu sendiri."
Tak lama kemudian Carl masuk menghampiri Irsan, dia menunjukan layar ponsel kepadanya.
"Kau yakin?"
"Ya ... Berikan apa yang dia mau!" Irsan melangkahkan kaki mendekati wanita paruh baya yang terdiam di pojok ruangan. "Nyonya tidak apa apa."
Bastian tentu saja senang tiada terkira, keinginannya untuk memiliki banyak uang telah terpenuhi, dia masuk ke dalam kamar dan membawa barang barang miliknya yang tidak seberapa itu.
"Kau lihat? Sekarang aku tidak butuh kau dan ibumu lagi, aku akan pergi dan bersenang senang dan bebas dari penderitaan ini."
Cecilia hanya menatapnya tajam, terus mengikuti pergerakan ayah sambungnya itu. Akhirnya Carl membawa Bastian yang terlihat sangat girang meninggalkan rumah mereka keluar dan seseorang yang di suruh Carl pun telah tiba.
Carl kembali masuk, di susul oleh Embun dan juga susternya. Sementara Cecilia masih terdiam melihat sang ibu yang terlihat seperti orang yang linglung.
"Ayo Cecilia ... Kita ke rumah sakit sekarang!"
Untuk kenyamanan semua orang, Irsan menyuruh Carl membawa motor miliknya, sementara dia menyuruh Ibu serta Cecilia masuk kedalam mobil beserta Embun sementara Suster yang tidak pernah ketinggalan itu kini ikut bersama Toni untuk mengantarkan Bastian.
"Kita ke rumah sakit Carl!" ujarnya saat Carl menghampiri mobil dengan menaiki motor miliknya. Carl mengangguk dan langsung tanjap gas, begitu juga dengan Irsan yang langsung melajukan mobil.
Cecilia duduk di belakang bersama ibunya, sementara Embun berada di samping Irsan.
"Cecilia ... Maafkan Ibu!" Embun menoleh ke arah belakang, melihat gadis yang sekarang dia inginkan jadi menantunya.
"Gak apa apa Bu ... Dengan begini, aku gak tahu kalau keadaan Ibuku begini." sahutnya dengan mengelus pundak sang ibu yang tetap terdiam.
"Tapi ibu tidak boleh melakukan hal seperti ini lagi! Diskusikan dengan ku lebih dulu sebelum ibu mengambil tindakan yang gegabah ini!" Tegas Irsan yang bicara tanpa mengalihkan pandangannya pada jalan yang tengah dia tempuh.
"Iya ... Ibu minta maaf padamu juga!" Embun mengelus lengan Irsan, membuatnya heran karena Ibunya semakin berubah lebih baik.
Irsan menoleh pada sang ibu, lalu mengangguk kecil.
Cecilia mengulas senyuman walaupun tipis, dulu dia selalu iri jika seseorang benar benar memiliki keluarga utuh dan bahagia. Berada dekat dengan keluarga yang hangat dan saling menjaga satu sama lain.
"Kau kemanakan Bastian sampai kamu yakin dia tidak akan berani kembali dan gangguin ibu lagi?" Tanya Cecilia penasaran, Bastian bukanlah orang baik, dia sangat licik dan hanya mementingkan dirinya sendiri.
"Luar negeri!"
"Hah?"
Tidak hanya Cecilia yang kaget, Embun juga terlihat kaget karena Irsan mengirim Bastian ke luar negeri, memberinya tempat tinggal dan juga memenuhi kebutuhannya untuk beberapa waktu.
"Enak banget dia di kirim ke luar negeri!"
"Tentu saja, sampai dia tidak akan bisa kembali jika semua uangnya habis!" pungkasnya dengan wajah datar khasnya.
"Hah?"
Cecilia kembali tersentak, dia benar benar tidak menyangka jika Irsan bisa melakukan hal semacam itu.
"Ku fikir kau tidak bisa jahat."
"Iya ... Kau itu!" tambah Embun yang tidak menyangkanya jika Irsan memikirkan hal seperti itu disaat waktu yang sangat sempit.
"Sekarang aku bisa melakukan apapun jika keluargaku di usik, aku juga bisa berbuat jahat jika diperlukan!" tukasnya dengan menoleh pada spion kaca yang berada di atas kepalanya. "Terutama Ibu dan kamu!" pungkasnya lagi. "Aku tidak bisa berdiam diri seperti orang bodoh seperti dulu."
Embun mengelus punggung tangannya, "Itu semua kesalahan Ibu, kalau ibu tidak melakukannya, kau sudah pasti bahagia sekarang."
Cecilia mendongkakkan kepalanya ke arah Embun, dan membuatnya kaget.
"Mana ada bahagia, justru dia akan menderita kalau sampai menikahi wanita itu!"