I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.266(Bicara yang benar)



Karena kesalahan Teknis, Othor minta maaf karena semalem kena review saat di benerin. So sebelum lanjut baca bab ini, silahkan mundur dan baca bab sebelumny. Makasih Cecelover.


.


"Caranya?"


Ines nyatanya masih penasaran dengan ide Cecilia. Sementara Cecilia terkekeh dengan memicingkan kedua mata ke arahnya.


"Kak Ines penasaran juga kah?" godanya.


"Ih ... Kau ini hanya bermain main denganku ya." Ines mencebikkan bibirnya.


Sementara Tristan menatap keduanya yang berjalan keluar dari Rumah sakit, tak lama dia kembali masuk ke dalam ruangan Irsan.


"Senior. Sepupumu mau kemana?" tanyanya tanpa basa basi saat baru saja membuka pintu ruangan.


"Astaga. Kau ini benar benar ya!"


Tristan menaik turunkan kedua alisnya lalu duduk di kursi dihadapan Irsan.


"Untuk apa kau kemari lagi. Bukannya kau tadi sudah pergi?"


"Astaga ... Apa senior tidak tahu apa yang sedang aku rencanakan?"


"Tidak tahu dan aku tidak peduli!" tukas Irsan dengan bangkit dari duduknya.


"Hey ... Bukankah Senior ingin menjodohkan aku dan sepupumu Vannes ... Maksudku Ines?"


"Tidak jadi, bukankah kau sudah akan menikah?"


"Astaga ... Aku bicara seperti itu hanya untuk menggoda Ines, kau tahu dia masih marah padaku atas kejadian di masa lalu, tapi juga masih mengharapkanku kembali. Ya kan?"


"Aku tidak tahu maksudmu apa bicara seperti tadi, yang jelas kau jangan pernah main main dengannya atau aku hajar kau!"


"Astaga ... Ya tidak Senior, mana mungkin aku melakukannya. Aku justru senang melihatnya di sini hari ini, padahal aku sudah berniat mencarinya nanti,"


"Alasan kau saja itu!"


Irsan tidak percaya ucapan yang keluar dari mulut Tristan, terlebih dia mengatakan jika sudah memiliki calon istri yang akan segera dia nikahi dengan serius. Ingat dihidupnya selalu serius tidak pernah dia sekalipun main main atau bahkan hanya sekedar bercanda apalagi soal hati dan perasaan.


Berbeda dengan Tristan, yang selalu berfikiran santai, niatnya dari awal memang hanya untuk bekerja, tapi setelah tahu dia direkomendasikan oleh prof. Sam untuk bekerja sama dengan Irsan. Disitu pulalah dia semakin bersemangat untuk bergabung, bukan hanya mengidolakan Irsan saja, tapi dia tahu jika Ines sepupunya melihatnya didalam foto keluarga yang diberikan oleh prof. Sam saat acara di rumah sakit.


"Aku tidak bercanda, bahkan aku berniat mencarinya setelah urusan administrasi ku di rumah sakit ini selesai, tapi karena mobil ku rusak, dan aku terlalu senang bertemu denganmu juga dan terakhir justru aku melihatnya di sini! Bukankah itu yang namanya Jodoh?" terang Tristan.


Irsan terkesiap. "Jadi kau akan memilih Ines dan membatalkan niatmu untuk menikahi calon istrimu? Aku tidak akan menyetujuinya!"


"Aku tidak tahu!" Tukas Irsan datar. "Sudahlah kenapa kau tidak langsung katakan saja dengan benar!"


"Astaga ... Jadi kau tidak mengerti senior?"


"Tidak! Untuk apa aku harus memikirkan hal yang membuat fikiranku sendiri pusing."


Tristan menggelengkan kepalanya, "Ternyata benar, kau ini tidak asik diajak berteman, untung saja ada Istrimu yang bisa asik dengan ku."


Irsan menggelengkan kepalanya, tak lama dia kembali duduk. "Jangan bilang ini ngode? Seperti yang di katakan Istriku?"


Tristan mengerjapkan kedua matanya saat tahu Irsan mulai mengerti. "Itu dia ... Akhirnya kau mengerti juga."


"Jadi kau berpura pura memiliki calon istri hanya untuk menggoda Ines? Tanyanya lagi agar lebih yakin.


"Ya menggoda Ines dan tahu bagaimana perasaannya sekarang, aku memang senang bertemu dengannya sekarang. Tapi kami sudah berbeda, sudah sama sama dewasa dan bukan anak sekolahan lagi. Dan aku mungkin akan mengejarnya sekali lagi." Tristan menaikturunan kedua alisnya. "Senior ada di pihakku bukan?"


Irsan menatapnya tajam, juga memperhatikan Tristan dengan seksama, Pria berusia 30 tahun itu memang berbeda, sejak dulu Irsan mengetahui sifatnya, maka dari ini dia berniat menjodohkannya dengan Ines.


"Kau sejak dulu tahu jika Ines adalah sepupuku tapi tidak sedikitpun aku tahu hal itu."


"Maaf senior, zaman kita kan berbeda, lagipula alu bertemu Ines saat di sekolah menengah atas, sementara bertemu denganmu saat kuliah dan Ines sudah pergi dengan tantenya. Jelas kita tidak pernah saling tahu, kalau aku tahu sejak dulu, mungkin saat ini aku sudah punya anak darinya!" kelakarnya dengan terkekeh.


Sementara Irsan membulatkan kedua manik kearahnya.


"Maksudku menikahinya!"


Irsan mendengus, lalu kembali bangkit, "Kita susul mereka."


"Hah?" Tristan terperangah.


"Iya ... Mereka pasti pergi ke mall, atau pergi mencari sesuatu yang membuat suasana hati Ines membaik."


Tristan mengangguk anggukan kepalanya, pria itu langsung bangkit dari duduknya.


"Kalau begitu ayo kita susul mereka. Dan aku akan membuat suasana hati Ines membaik, kalau perlu aku membawanya bersenang senang!"


Pluk!


Irsan memukulnya dengan ujung jubah putih yang baru akan dia lepaskan.


"Bicara yang benar Tristan!"