
"Lo gak salah Ce! Tapi itu pilihannya dia, padahal dia bisa aja nolak, ini kan enggak."
Cecilia memukul setir mobilnya dengan tangan mengepal, "Gue yang bego!"
"Udahlah ... Lagian juga itu tahun lalu, dan pas lo berhenti, kenapa dia gak ikut berhenti malah menjadi jadi sampai sekarang, dasarnya aja dia emang brengsekk Ce."
"Tapi dia dulu pernah cinta sama gue, gitu juga gue Nit! Lo tahu kan."
"Iya gue tahu! Tapi kan itu dulu, sekarang apa dia masih cinta sama lo? Atau lo masih cinta sama dia?" tanya Nita serius.
Cecilia kembali menggelengkan kepalanya, "Udah enggak!"
"Ya bagus! Bibit bibit brengsekk emang dari dulu sih udah ada. Sekarang udah tumbuh besar tuh si brengsekk."
Cecilia menoleh dengan memperlihatkan wajah meringisnya ke arah Nita. Membuat Nita kembali menghela nafas. "Udah deh! Kalau pun lo dipanggil polisi ya udah dateng aja! Ceritain semuanya kalau perlu. Biar hidup lo tenang juga Ce. Apalagi sekarang kayaknya mau tobat cepet deh kalau terus nempel sama si tiang listrik."
Cecilia menghela nafas mendengar Nita menyebut Irsan, mengingatkannya pada pertengkaran kecil yang tadi terjadi di rumah sakit. "Gak gitu juga! Gue belum bisa lepasin Reno. Kecuali Si Reno udah mati."
"Eeh sialan lo emang! Nunggu tuh aki aki mati! Apa perlu gue racun biar cepet!" Nita tertawa, begitu juga Cecilia.
"Anjim lo! Tapi boleh juga ide lo. biar lo lebih madesu alias masa depan suram dari pada gue." tukas Cecilia yang langsung masuk kedalam pelataran parkir sebuah kedai soto langganannya.
"Tumben lo kesini?"
"Udah lama gue gak makan soto maknyuss."
"Tahu aja lo gue laper banget! Mana tuh dosen killer terus natap gue pas dikelas. Bikin perut gue makin keroncongan." ujar Nita yang langsung membuka seat belt miliknya.
"Pengen bobo sama lo kali, atau nete ... Atau bobo sambil nete." Cecilia tertawa dan langsung membuka pintu mobil lalu keluar.
"Anjim lo!"
Keduanya masuk kedalam kedai yang sudah berdiri disana sejak pukulan tahun dan menjadi saksi bisu sebagian perjalanan hidup mereka, walaupun sang empunya sudah berganti generasi. Namun tempat itu tetap menjadi memoriable bagi mereka.
Selalu memilih bangku yang sama, posisi yang sama dan juga pesanan yang sama pula, sampai hampir semua pegawai disana mengenali mereka. Walau pun akhir akhir ini mereka jarang datang.
"Kalau Maknyuss masih ada, pasti bakal kaget liat kita Nit."
"Hm ... Apalagi liat lo Ce! Pasti kaget banget."
Keduanya menghela nafas, seorang nenek pemilik kedai yang selalu mereka panggil dengan sebutan Maknyuss karena sotonya enak dan selalu memberi mereka makanan disaat semua pengunjung kedai pergi dan kedai akan tutup. Dua gadis ingusan yang selalu membeli satu porsi makan untuk berdua dengan sisa uang yang mereka punya, kadang mereka memaksa meminta pekerjaan pada Maknyuss karena selalu membayar dengan uang yang kurang. Namun Maknyuss tidak pernah mengijinkannya.
Mereka menyantap soto ayam khas kedai yang cita rasanya tidak pernah berubah itu dan plus kenangan yang selalu berputar saat mereka makan. Mengenal masa masa sulit yang hanya mereka alami berdua, masa masa perjuangan tersulit dalam hidup mereka.
"Buruan Ce makan! Gue gak mau lama lama ke inget masa masa suram gue," celetuk Cecilia di suapan terakhir yang masuk ke dalam mulutnya.
"Elah ... Tadi siapa yang ngajak kesini!"
Setelah membayar dan memberi tips pada pegawai kedai mereka kembali ke mobil dengan perut kenyang. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke sebuah klub dimana Dosen killer menunggu Nita.
"Lo yakin gak ikut?" tanya Nita dengan mencondongkan tubuhnya saat keluar dari mobil.
"Enggak deh! Gue mau pulang, cape gue! Lagian males gue kalau jadi obat nyamuk!" gidik Cecilia.
"Serah deh! Gue masuk dulu."
Cecilia mengangguk, "Jangan banyak minum lo! Liat dulu isi dompet si killer."
"Beres!"
Setelah sampai di apartemen, dia melenggang masuk dengan langkah gontai menuju lift dan menekan tombol hingga menunggu lift tertutup.
Entah kebetulan atau tidak, Irsan masuk juga ke dalam lift dan terperangah saat melihat Cecilia yang berdiri dengan bersandar dan kedua tangan di lipat, menatap ke lantai yang dia pijak.
Irsan mengernyit karena Cecilia tampak muram dari terakhir mereka bertemu di rumah sakit. Wajah nya di tekuk serta tidak memperdulikan orang orang masuk dan sudah nyaris penuh. Posisi Irsan terus terdorong seiring orang orang yang terus memenuhi kapasitas lift hingga akhirnya lift tertutup.
Bruk!
Tanpa sengaja tubuh Irsan menabrak tubuhnya dan membuat keduanya saling bertatapan.
"Kau! Sejak kapan lift ini penuh, perasaan tadi kosong!" ucapnya pelan dengan pandangan menyapu sekelilingnya.
"Kau hanya melamun jadi tidak tahu kalau lift sudah penuh! Apa yang kau fikirkan. Pecandu itu?"
Cecilia menghela nafas, "Aku lagi gak mau berdebat!"
"Tidak ... Siapa yang mengajakmu berdebat!"
"Ya kenapa bawa bawa orang yang gak ada di sini?"
"Maksudmu pacarmu yang brengsekk itu?"
"Please deh gak usah bawa bawa dia kenapa sih? Gak punya empati banget."
"Oh jadi kau sedih begini karena berempati padanya karena dia di pen---"
Eeemmmphh!
Cecilia menbekam mulut Irsan yang akan mengatakan sesuatu mengenai Dirga yang belum sempat terselesaikan. "Bisa diem gak? Udah aku bilang, gak usah bawa bawa dia!"
Walau kesal dan marahnya belum juga reda, Irsan yang merasa detak jantungnya semakin kencang itu menarik tipis bibirnya namun tidak terlihat olehnya karena tangan membekap mulutnya, dia juga sedikit berjinjit membuat posisi mereka semakin erat dengan tangan Irsan yang mau tidak mau menarik pinggangnya rapat karena seseorang mendorongnya dari belakang.
"Eeh ... Malah ke enakan!" gumam Cecilia melepaskan tangannya
"Kau yang mendekatiku. Bukan aku!"
"Tapi kau menikmatinya juga."
"Tidak ada pilihan lain. Lagi pula kenapa kau harus membekapku, hanya karena aku mengatakan hal yang sebenarnya."
Cecilia menghela nafas, posisi mereka semakin terjepit saking penuhnya lift. Dengan saling berpegangan karena menjaga keseimbangan.
Hembusan nafas hangat dari Irsan mengenai wajah Cecilia, walau pria yang tengah meredam emosi itu acapkali memalingkan wajahnya ke arah lain saat Cecilia menatapnya.
Hingga satu persatu orang keluar dan menyisakan beberapa orang didalam lift namun tidak merubah posisi mereka.
Ekhem!
Irsan berdehem, membuat Cecilia mundur seketika namun justru menabrak orang di belakangnya hingga kembali terhuyung ke depan.
Bruk!
Dengan cepat Irsan menangkap tubuh Cecilia hingga mereka kembali berpelukan. Dan juga kembali bertatapan dengan dada yang semakin berdebar debar di keduanya. Seseorang yang terlihat terakhir keluar pun menoleh ke arah mereka.
"Apa kalian tidak akan keluar dan kembali turun?"