I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.189(Beruntung)



Cecilia keluar dari ruangan, berjalan menuju ke ruang administrasi dengan penuh percaya diri. Kedatangannya tentu saja untuk mengetahui dimana Harsa kini tinggal, dia dengan sengaja ingin menemuinya dengan satu alasan yang kuat.


"Permisi pak? Aku mau minta alamat rumah Mr Harsa dong?" tanya pada seorang pria yang tengah menginput data ke dalam komputer.


"Ada keperluan apa?" Dia balik bertanya tanpa sedikitpun ingin melihat siapa yang bertanya.


"Jadi begini, aku harus memberikan nilai nilai mahasiwa bimbingannya hari ini juga pak."


"Maaf ... Tapi ada ketentuan khusus dalam hal ini, kami tidak bisa memberikan alamatnya sembarangan." jawabnya singkat.


"Loh kok sembarangan, aku ini mahasiswanya loh pak?" "Ya semua orang yang masuk kesini sudah pasti berkuliah di sini dan sudah pasti menjadi mahasiswa."


Gila nih orang jutex amat, gak tahu kali gue siapa. Cecilia membatin.


"Lah iya semua orang yang berkuliah di sini adalah mahasiswa kampus ini, yang otomatis punya hak untuk tahu di mana alamat dosen pembimbingnya tinggal."


Pria itu menggelengkan kepalanya. "Tetap tidak bisa!"


"Ayolah Pak ini kan untuk kepentingan mahasiswa juga, aku ini Asisten dosen lho pak!"


"Kalau Asisten Dosen sudah pasti tahu nomor teleponnya, silahkan hubungi beliau langsung!"


Cecilia berdecak, sulit sekali meminta informasi dengan cara yang benar, berbeda sekali jika melakukannya dengan cara dirinya yang dulu. Sekali mengerling saja bukan hanya nomor telepon yang dia dapatkan, uang pun dengan mudah masuk kedalam rekeningnya, tapi dia tidak ingin melakukannya dengan cara seperti itu lagi, dia ing8n membuktikan kalau dirinya benar benar mampu walau nyatanya sulit sekali melakukannya karena keterbiasaannya itu.


Nih orang makan apa ya, susah banget cuma dimintai nomor telepon doang juga. Cecilia kembali membatin.


"Pak nomor telpon beliau gak aktif! Makanya aku kesini dan memintanya pada anda."


"Ya itu bukan urusan saya!"


"Aku ini seriusnya loh Pak! Bapak bisa kan lihat aku sebentar pak?"


Pria itu kini mendongkak, melihat Cecilia yang masih betah berdiri di depannya. Cecilia yang berdiri dengan melipat kedua tangan serta menaik turunkan kedua alisnya saat beradu pandang dengannya.


Petugas administrasi itu terbeliak saat melihat Cecilia, kedua tangannya mendadak berhenti bergerak saat melihatnya.


"Ih dari tadi dong bilang kalau kau itu Cecilia!" Ujarnya dengan menghembuskan nafas.


"Lah emangnya kenapa? Bapak ngefans ya?"


"Tidak ... Tapi semua orang tahu siapa kau!"


"Hah. Memangnya siapa aku sampai semua orang tahu? Apa keluarga bapak dirumah juga tahu siapa aku? Waaah." Kedua maniknya membola seketika.


Pria itu tidak menjawabnya, dia hanya menatapnya sekilas lalu mengulas senyuman.


" Maaf pak ... Tapi aku udah punya pacar sekarang." jawabnya asal. lalu mendudukkan tubuhnya dikursi. "Pegel pak, Bapak gak mau apa nawarin aku duduk."


Petugas itu pun menggelengkan kepala seraya menuliskan sesuatu di secarik kertas kecil dan memberikannya kepada Cecilia.


"Jangan bilang ini dariku! Beliau pasti akan marah kalau tahu aku memberikan alamatnya padamu."


"Beres pak!" ujar Cecilia yang langsung mengambil note kecil itu dari tangannya.


Gadis itu keluar dari ruangan administrasi dengan sebuah informasi yang dia inginkan. Menemui Harsa dan membicarakan mengenai posisi yang dia berikan padanya. Alih alih kembali ke kelas dia justru menuju ke tempat parkir.


Namun langkahnya terhenti saat melihat dua orang yang tidak asing baginya tengah berbicara di luar gerbang, seseorang yang sejak kemarin membuatnya ragu tapi kembali yakin.


"Ternyata bener, Itu kan Mr Harsa! Jadi gue bener bener di jadikan sebagai Asisten Dosen karena dirinya." gumamnya dengan terus melangkahkan kedua kakinya.


"Hay sayang ..." serunya pada Irsan, membuatnya tersentak kaget. "Halo Mr Harsa? Apa kalian sebaiknya mengobrol di satu tempat yang lebih enak?" Sindirnya dengan mengulas senyuman.


"Kau?"


"Sayang ... Kau kemari untuk melihat kinerjaku sebagai asisten temanmu. Hm?"


Harsa yang tidak ingin terlibat pun memilih undur diri, dia mengulurkan tangan ke arah Irsan lalu pria itu menyambutnya.


"Terima kasih atas bantuanmu Har!"


Harsa mengangguk sebelum pergi, tapi dia tidak sedikitpun melirik Cecilia.


"Mr Harsa ... jangan kemana mana! Aku ingin bicara." Serunya dengan suara teriakan keras.


"Hey ... Kau ini!" Irsan menggelengkan kepalanya.


"Lagian ... ngapain sih kemari? Mau jemput aku. Atau sengaja menemui Mr Harsa untuk memastikan sesuatu. Tapi tenang aja, aku gak akan marah kok. Justru aku ingin buktikan semuanya."


"Aku yakin kau pasti bisa." Irsan mengacak pucuk rambutnya. "Kalau begitu aku pergi dulu."


"Eeh ... Kau tidak ingin masuk dan melihat lihat?"


"Tidak perlu! Aku harus ke satu tempat untuk membereskan sesuatu."


"Apa?"


"Nanti kau tahu sendiri." Ujar Irsan yang kembali masuk ke dalam mobil.


Membuat Cecilia terheran namun juga tidak mungkin mencegahnya. "Aneh banget, dari pada sibuk katanya beresin masalah ... Masalah apa sih sebenernya?"


Setelah melihat mobil yang dikendarai Irsan menghilang dari pandangan, Cecilia mulai mencari Harsa. Pria tambun itu terlihat berjalan ke arah fakultas kedokteran. Cecilia sampai harus mengejarnya, dengan berlari kecil agar tidak kehilangan jejaknya.


"Mr Harsa?"


"Mr Harsa."


Gadis itu terus memanggil Harsa, namun pria itu pura pura tidak mendengarnya.


"Mr Harsa!"


" Ih ... Nyebelin banget, makin di panggil malah makin budeg Tuh orang." gumamnya semakin berlari melewati jalan lain yang berlawanan arah sampai akhirnya keduanya bertemu dipersimpangan dan Harsa tidak bisa lagi mengelak.


"Kenapa Mr Harsa menghindariku terus? Mr Harsa takut karena bertemu denganku?"


"Apa yang kau bicarakan?"


"Sudahlah ... Aku sudah tahu yang sebenarnya, kalau aku ini direkrut atas permintaan Irsan. Iya kan?"


Harsa terdiam, itu memang benar dan dia tidak bisa menolak teman satu almameternya itu.


"Tapi Mr Harsa tidak usah khawatir, aku akan tunjukan kalau aku bisa dan aku mampu dengan posisi yang diberikan padaku."


"Kau tidak marah?"


Cecilia menggelengkan kepalanya, "Untuk apa aku marah, aku bukan drama queen di televisi pak, yang dikit dikit marah dikit dikit marah. Aku justru beruntung, dan akan sangat beruntung jika aku mempergunakan hal itu dengan baik."


"Pintar juga kau ternyata!"


Cecilia mendengus, "Aku memang pintar Mr. Harsa, cuma aku memberikan kesempatan pada orang lain lebih dulu, ibarat kata ni----"


"Ce ... buruan! Lo mau bikin kita kering kayak kerupuk kulit nungguin lo di kelas? Materi belum kelar." Seru Nita yang berhasil membuat ucapan Cecilia terpotong.


"Eeh ... Pak Harsa, pagi pak, eeh siang ... Sehat pak?" Tanya Nita saat sadar siapa yang tengah bicara dengan sahabatnya itu. "Keluarga aman di rumah kan pak?" tanyanya lagi dengan terkekeh.


Cecilia berdecak dengan menarik lengan Nita dan membawanya pergi, tak lupa dia juga berpamitan pada Harsa. "Misi pak ... Kita duluan!"


"Eeh Ce ... Gue belum selesai ngomong nih!"


"Emang lo mau ngapain kalau di rumahnya gak aman? Lo mau ngelamar jadi security?"


.


3 Bab lagi hari ini, jangan lupa terus dukung kita ya Cecelover. Lope lope badag buat kalian.