
Nita menyambar gelas yang berada di genggaman tangan Cecilia lalu menenggaknya juga. "Gue gak tahu sakitnya kayak gimana, gue juga gak pernah jatuh cinta. Dan gue baru kali ini lihat lo bego banget! Oke lo cinta sama dia, dan lo kecewa ... Tapi gak mesti lo bawa barang barang lo kayak gitu!"
Cecilia terkekeh, namun sejurus kemudian dia menangis tersedu sedu. "Gue beneran cinta sama Irsan dan gue gak peduli siapa dia dan segimana kayanya dia, gue gak peduli dia kaya atau enggak Nit, dan ibunya yang ngusir gue dari apartemen itu."
"Hah. Lo di usir? Itu kan apartemen udah atas nama lo Ce, bisa bisa nya tuh orang ngusir lo ... pacar lo tahu gak kalau lo di usir kayak gini?"
Cecilia menggelengkan kepalanya dengan menangis sejadi jadinya,
"Ih anjim, lo malah makin kenceng nangis nya!" gumam Nita yang seumur umur hidup bersama Cecilia, baru kali ini dia melihat Cecilia menangis sampai tersedu sedu. "Mana lo mabok parah!"
"Kalau nyokapnya gak bilang, mau sampe kapan gue gak tahu siapa orang yang gue cinta itu Nit, sampe kapan ... Padahal gue gak peduli, tapi kenapa dia gak bisa jujur sama gue." Tersedu sedu dan terus mengisi gelas dengan minuman.
"Ya udah deh lo lebay banget sih! Dia ada alesan kenapa gak bilang sama lo kali! Coba lo tanya sama dia."
"Males ... Gue gak mau ngeliat muka dia lagi! Bego gue kenapa juga nangis kayak gini!" tukasnya dengan terus menyusut air mata.
"Ya udah gue yang bakal labrak tuh nini nini! Maunya apa dia, udah sukur anaknya yang perjaka tua itu ada yang mau!" Nita menenggak gelas terakhir lalu bangkit dari duduknya.
"Nit jangan!"
"Alah bodo amat! Pokoknya gue mau ke sana nemuin tuh orang tua egois, heran gue sama dia."
"Janganlah udah biarin aja!"
"Heh ... Sejak kapan lo jadi lemah Ce? Sejak kapan gue tanya. Biasanya juga lo gak suka di giniin orang, kenapa sekarang lo jadi lemah." Sentak Nita dengan marah.
"Udah lah Nit ... Gue males debat sama tuh orang, dia emang gak bakal pernah ngerti, biarin aja!"
"Gak bisa dong! Gue gak suka caranya ngusir lo kayak gini."
Cecilia mencekal lengan Nita sekuat tenaga, walau nyatanya tenaganya juga tidak kuat dan justru sempoyongan. "Gue bilang gak usah Nita!"
"Kalau gitu lo gak usah nangis dong! Hapus tuh air mata, gue gak suka lihat lo nangis kayak gini, apalagi cuma gara gara mereka. Inget Ce, lo itu Role model gue selama ini, lo juga saudara gue. Dan gue gak bakal diem aja kalau ada orang yang nyakitin lo. Paham lo!"
Cecilia semakin menangis tergugu mendengarnya walaupun dirinya dalam pengaruh minuman alkohol, tapi dia masih bisa mendengar penuturan Nita dan mencernanya dengan baik. Sedetik kemudian dia merangkul sahabatnya itu. "Harusnya gue gak jatuh cinta sama dia ya Nit, gue mending jadi sugar baby yang tahunya cuma seneng seneng aja. Gak mesti ngerasaain kayak gini!"
"Udah deh lebay banget sih lo sekalinya mewek ... Dah ayo balik ke apartemen gue aja."
Namun Cecilia menggelengkan kepalanya, "Kalau balik ke tempat lo ... Irsan pasti nemuin gue Nit,"
"Ya udah sih biarin! Kalau ketemu gue tonjok juga muka dia! Sebel gue ... Bisa bisanya dia dilahirkan dari nyokap yang kayak gitu, dia juga sama nyebelinnya!"
Cecilia terkekeh mendengar selorohan sahabatnya itu, "Gila lo. Jangan macem macem!"
"Masih lo belain juga!"
***
Malam semakin larut, keduanya tampak keluar dari klub dengan masing masing menggeret satu koper. Berjalan sempoyongan menuju mobil milik Nita.
"Ce ... Kayaknya gue gak bisa bawa mobil. Kita naik taksi aja!"
"Hm ... Terserah lo aja!"
Keduanya pun saling merangkul dan berpegangan, menunggu taksi yang lewat ditempat itu. Sampai satu mobil dengan lampu menyorot tepat ke arah mereka.
Mobil terhenti, Ines yang sejak tadi mencari Cecilia pun turun dari mobil, di ikuti oleh Toni yang dia paksa untuk membantunya.
"Cecilia!"
Gadis berambut panjang itu menyipitkan kedua mata ke arah suara, lalu mendengus kasar.
"Cabut Nit!"
"Tunggu Cecilia." Ines mencekal lengannya, "Ikut aku pulang ya,"
Dengan kasar, Cecilia menepis tangan adik sepupu satu satunya dari Irsan. "Mau apa ikut? Udahlah, ngapain sih repot repot nyariin gue."
"Kita selesaikan dengan baik ya, Irsan gak tahu kalau kamu keluar dari apartemen itu, dan bisa kau bayangkan kalau Irsan tahu! Bukan cuma kamu, aku dan ibunya juga akan terkena imbasnya."
"Udahlah sana pergi. Aku gak mau denger apa apa lagi, terserah aja, aku udah keluar dari sana dan kenapa aku harus balik ke sana?"
"Kamu cinta kan sama Irsan?"
Cecilia terdiam menatap Ines, lalu bergantian pada Nita yang berada di sebelahnya, juga pada Toni yang berada disampong Ines.
"Ya ... Dia cinta sama tuh tiang listrik! Sampai dia nangis parah!" Celetuk Nita yang juga ikut mabuk seperti temannya.
"Apaan sih sih lo!" Cecilia menyenggol lengannya keras.
"Gitu juga Irsan Cecilia ... Dia gak bakal ngebiarin ibunya menghancurkan hubungan kalian, jadi kita tunggu sampai Irsan kembali dari rumah sakit dan cari cara buat masalah ini ya."
"Maaf ya kak Ines yang cantik! Kau ...!" tunjuknya pasa Toni. "Ini bukan lagi tentang perasaan, tapi juga kebohongan yang udah dia perbuat, dan juga ...!" Cecilia menghentikan ucapannya lalu menatap Toni dengan sengit. "Ini tentang ibunya yang egois."
"Maka dari itu ... Ayo pulang ke tempat ku. Aku dan Toni akan membantu!"
"Gak perlu! Tanpa bantuan kalian aku bisa ... Tapi aku udah gak mau ngelakuin apa apa."
"Kamu akan nyerah gitu aja?"
Cecilia menatap Ines semakin tajam saja, "Udah gue bilang ini bukan hanya tentang perasaan saja. Irsan udah bohong dan gak jujur sama gue? Hal begini aja di sembunyikan. Apa coba magsudnya? Mau cari apa?"
"Apa magsudmu?"Tanya Ines yang memang tidak tahu jenis kebohongan apa yang diperbuat oleh Irsan. "Aku jamin 100 %, dia gak bakal ngelakuin hal itu. Apalagi membohongimu."
"Dia sebenarnya pemilik rumah sakit bukan? Dia juga pemilik gedung apartemen?" tukas Nita menyambar percakapan. Rasa kesal dan marah tidak membuatnya pintar, melainkan sebaliknya.
"Nit!" Cecilia mendorong bahu Nita sampai terhuyung ke belakang.
Ines tentu saja kaget bukan main, masalahnya siapa yang mengatakan hal itu. "Apa Ibunya yang bilang padamu?"
"Hm ... Dan gue gak peduli lagi sekarang, dah sana gue mau cari taksi." Cecilia juga mendorong Ines ke arah samping.
"Cecilia ... Please, kita pulang ya!"
"Ada apa dengan kalian, ngebet banget nyuruh aku balik!"
Nita merengkuhnya dari belakang.
"Itu karena meraka peduli sama lo. Iya kan?