I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.131(Kenapa diminum lagi)



Cecilia menatap secarik kertas yang dia keluarkan dari amplop berlogo rumah sakit, di dalamnya ada keterangan nama, tanggal, bulan bahkan tahun pemeriksaan. Surat yang berisi angka angka yang tidak bisa Cecilia pahami, dengan keterangan dan jenis pemeriksaan yang juga tidak dia ketahui.


Hanya saja, diatasnya terdapat keterangan yang jelas yang menyatakan bahwa surat itu adalah resume medical check up atas nama Irsan.


"Heh ... Ini hasil pemeriksaan medical check up 2 tahun lalu." ujarnya saat melihat tanggal beserta tahun yang tertera. "Jasmani normal, telinga, mata, mulut, leher, thorax ... Apaan thorax!" ujarnya membaca satu persatu pemeriksaan, entah kenapa Cecilia harus membacakannya satu persatu. "Vi tal ... Nih alat nya apa ya? Eh bukan deng ... Ini hasil lab." ujarnya lagi lalu membuka lembar kedua yang semakin banyak, Cecilia membacanya dalam hati hingga menemukan sesuatu yang paling menarik yang terletak di paling terakhir, yaitu analisis sper ma. "Nih ... Sper ma ... Dibatas normal kok hasilnya." gumamnya lagi.


Gadis itu kini menatap pintu kamar, merasa benar benar malu sendiri karena melakukan kebodohan, terlebih dia melakukan semua itu pada seorang dokter. Alih alih membuktikan dirinya dengan kebodohan, Irsan justru membuktikan dirinya dengan data yang baik, namun Cecilia masih enggan mengakuinya.


Cukup lama Cecilia terdiam dengan resume medical check up milik Irsan ditangannya, sampai akhirnya dia keluar dari kamar dan mendapati Irsan tengah duduk di sofa dengan kedua siku menopang di kakinya.


"Kau sudah lihat hasilnya?" tukasnya tanpa menoleh sama sekali.


"Hm ... Tapi ini aja gak cukup! Kau bilang kau seorang dokter, bisa saja kan kamu memalsukan semua hasil pemeriksaan ini." Cecilia duduk disampingnya, dia masih bersikap keras kepala.


Irsan berdecih, "Biasanya yang tidak percaya pada data orang lain itu yang suka berbohong dan memalsukan data."


"Heh! Kamu ... Aku lagi ngomongin kamu ya, bukan aku. Dan ini hal yang jauh berbeda."


Irsan bangkit dari sofa, "Terserah!"


Dan Cecilia mencekal lengannya, "Tunggu!"


"Apalagi. Jika pada dasarnya kau tidak percaya padaku, seribu kali aku jelaskan padamu juga akan percuma. Kau tahu kan data itu apa? Kumpulan fakta, fakta yang dihasilkan dari segala macam observasi Cecilia! Dan aku seorang dokter, tes kesehatan itu di lakukan secara rutin."


"Aku baru akan percaya kalau kau melakukannya!" Cecilia terkekeh, "Data ini emang fakta, dan aku ingin meng observasi nya sendiri."


Marah, kesal, namun juga menggelitik saat mendengar omong kosongnya itu, "Bisa bisanya kau!"


"Kenapa kalau aku ingin melakukannya denganmu sekarang?" Cecilia mengerdik.


"Bodoh. Lebih baik aku pergi saja!" Irsan menepis tangan Cecilia.


Bukan apa, sentuhan kulit mereka membuat Irsan yang sedang menahan diri itu kembali tersengat dan akan bahaya jika di biarkan, sekuat tenaga dia menetralisirkan fikiran dan gerak tubuhnya sejak tadi jika pada akhirnya dia kembali menyeruak.


Cecilia hanya terkekeh, tampak malu namun merasa tidak berdosa sama sekali. Sengaja membuatnya kembali kesal dan juga marah, agar dia bisa melampiaskan hasrattnya.


Irsan hanya menatapnya saja, dengan tajam tanpa berkedip. Membuat Cecilia akhirnya menghela nafas dan menyerah.


"Ok ... Baiklah dokter! Aku minya maaf ... Aku berlebihan. Maaf ya." ucapnya dengan lirih menelengkupkan kedua tangan dengan senyum paling manis.


Irsan menghela nafas berat, gadis itu benar benar mengujinya, membuatnya kesal dan marah namun juga membuat dirinya tidak bisa melakukan apa apa.


"Kau mau kan maafin aku? Aku gak akan ngelakuin hal hal aneh lagi. Aku janji." ujarnya dengan jari telunjuk dan jari tengah berbentuk huruf V. "Pleasee!"


"Kau tidak boleh melakukan hal seperti ini lagi, tidak juga membuat masalah apapun lagi!" tunjuk Irsan dengan kedua mata yang masih menyalang.


"Ya ... Aku janji."


Tok


Tok


Keduanya dikagetkan oleh suara ketukan di pintu, Irsan menatap jam dinding, siapa yang datang dengan cara mengetuk pintu pada sore hari.


"Biar aku yang buka! Mungkin itu Nita, soalnya dia bilang dia akan mampir."


Irsan mengangguk, lalu kembali duduk di sofa. Sementara Cecilia berjalan ke arah pintu dan langsung membukanya. Alangkah terkejutnya dia, bahkan tubuhnya memaku saat melihat dua orang polisi berseragam lengkap merangsek masuk tanpa mengatakan apa apa.


"Kami akan melakukan pemeriksaan!" ujarnya saat masuk kedalam, saat melihat Cecilia yang hanya bisa bicara dengan terbata bata.


Irsan terhenyak melihat keduanya berjalan masuk dan semakin dekat, satu hal yang ada di fikirannya saat itu hanyalah secangkir kopi yang bercampur obat perang sang dan belum sempat mereka bereskan, cangkir itu bahkan masih tergeletak begitu saja di atas meja.


"Dokter Irsan?"


"Ya ... Silahkan...." Ucapnya dengan tenang.


"Anda sibuk?"


"Aku sedang santai, hanya minum kopi saja." ucapnya mengambil gelas kopi dan menenggaknya dengan sekali tenggakkan.


Cecilia terhenyak, dia berlari namun kakinya terasa berat, dengan keringat yang mulai membasahi wajahnya dan juga berdebar debar hebat.


Irsan tahu, phobia Cecilia muncul. Dia juga tidak ada waktu membuang kopi itu karena polisi sudah berada dihadapannya.


"Duduklah!"


"Ini surat penggeledahan, kami akan memeriksa unit ini karena mendapatkan laporan tindakan penipuan, anda bisa didampingi pengacara." Ujarnya dengan menyerahkan surat keterangan penggeledahan pada Cecilia.


Namun Cecilia hanya diam dengan wajah yang tampak sangat cemas.


"Silahkan! Kami juga sudah menghubungi pengacara terkait laporan itu!" Irsan mengambil surat itu dari tangan polisi, juga membuka dan membacanya dalam hati, sekaligus sedang menahan diri.


Susah payah Irsan mengendalikan dirinya sejak tadi, namun harus kembali merasakan hawa panas itu lagi setelah nekad menenggak kopi itu dengan satu kali nafas saja.


Dia mengambil ponsel miliknya di atas meja, menghubungi temannya yang akan mengurus laporan yang dibuat oleh Irene, namun tidak juga tersambung.


Cecilia semakin terbelalak saat kopi yang telah dia campurkan obat itu ditenggaknya habis, namun dia juga tidak bisa melakukan apa apa karena dirinya saat ini juga tengah cemas berat.


"Mampus gue!" desisnya pelan.


Kedua polisi itu mulai menggeledah tempat tempat terbuka, mencari apapun diruang tamu untuk di jadikan bukti. Irsan menatap Cecilia, dia terlihat kepayahan karena adrenalin dan endorfinnya kembali meningkat drastis, dan kali ini benar benar menyiksanya, dia mengenggak kopi tanpa berfikir panjang, melakukannya sengaja dan memastikan polisi tidak menemukannya sama sekali. Karena jika sampai di ketemukan, bisa bisa kasus akan bertambah rumit karena penemuan obat perang sang itu.


"Tenanglah Cecilia ... Tarik nafas dalam dalam. Tenangkan dirimu." ujarnya mencoba menenangkan Cecilia walau dirinya sendiri diliputi rasa sakit yang amat menyiksanya.


Cecilia menarik nafas nya dalam dalam, dia tidak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri, sampai Irsan menghampirinya dan memegang tangannya.


Kedua polisi masuk kedalam kamar, memeriksa tempat tempat yang lebih pribadi. Dan kesempatan itu diambil Irsan untuk menyimpan cangkir kopi ke dalam wastafel.


Wajah Cecilia semakin cemas saat ini, ditambah dia melihat Irsan yang tersiksa dan harus menahan diri, keringat dingin disertai wajah yang kian memerah. Beberapa kali dia meraup wajahnya sendiri.


"A---apa yang kau lakukan! Kenapa malah di minum lagi?" Desisnya saat Irsan kembali menghampirinya setelah menyimpan gelas kopi.


"Tidak apa! Aku bisa menahannya. Yang penting, kasus mu tidak melebar kemana mana, Irene pasti akan menggunakannya sebagai alasan untuk menjeratmu lebih banyak." Irsan mengotak ngatik ponsel miliknya lagi dan mencoba menghubungi temannya lagi.


"Cepat kemari!" bentaknya pada seseorang yang berada di ujung telepon, lalu memejamkan kedua matanya menahan gejolak yang semakin hebat. "Sial! Dari mana saja kau!" ujarnya lagi dengan marah. "Cepat kemari atau kau dalam masalah!"


Membuat Cecilia yang penyakitnya kambuh lagi semakin cemas melihatnya.


"Astaga. Apa yang harus gue lakukan!"


.


Wkwkwkw .... Kenapa sih mereka.