
Sampai keesokan hari Cecilia mengerjapkan matanya saat mendengar gedoran di pintu unitnya, begitu juga dengan Nita yang justru menutup wajahnya dengan bantal.
"Nit siapa tuh yang datang pagi pagi begini."
"Tahu! Ini apartemen lo! Bukan apartemen gue." sahut gadis yang kini semakin menenggelamkan kepalanya ke dalam bantal.
Cecilia berdecak, dia beranjak bangun dengan kedua mata yang masih redup. Berjalan ke arah pintu dan membukanya. Bahkan dia masih menguap dengan bergelayut dipintu.
"Astaga Cecilia!"
Irsan berdecak dengan kelakuan gadis yang dia suka, bagaimana seorang gadis cantik namun seberantakan itu saat bangun. Cecilia baru membulatkan matanya saat mendengar suara sentakan Irsan padanya.
"Ini masih pagi!"
Irsan berdecak lagi, dia masuk tanpa menunggu Cecilia menyuruhnya, "Aku sudah bilang kalau pagi ini kau harus ke kantor polisi bukan. Atau kau menunggu polisi yang kemari untuk menjemputmu seperti kemarin?"
Cecilia menggelengkan kepalanya, lalu melesat masuk kedalam kamarnya. "Aku siap siap dulu. Oke Tunggu ... Jangan suruh polisi kemari."
Kesabaran Irsan benar benar di uji olehnya, betapa tidak. Semalam menunggunya hampir tiga jam dan pagi ini menunggu setengah jam sampai orang orang yang lewat memperhatikannya.
"Nit ... Bangun woii! Kita siap siap, gue mau ke kantor polisi." Kata Cecilia yang baru keluar kamar mandi, bergegas menuju lemari pakaian lalu kembali lagi ke kamar mandi mengambil hair dryer, mencolokkannya lalu kembali ke lemari pakaian.
"Astaga ... Rempong banget sih lo!" cetus Nita yang baru saja mendudukkan dirinya, menguap lalu menggosok kedua matanya yang masih mengantuk.
"Heh lo tahu siapa yang dateng gedor gedor pintu?"
Nita menggeleng, kembali menguap lalu turun dari ranjang, mencari ponselnya. "Lo maen tebak tebakan mulu, udah tahu gue males mikir. Apalagi belum sarapan kayak gini." ujarnya dengan kedua mata yang terbelalak kemudian setelah melihat semua chat yang muncul di ponselnya. "Sial banget! Kenapa dia mencampur adukkan masalah kayak gini."
Cecilia yang tengah mengeringkan rambut menoleh, "Si killer?"
"Huum ... Masa dia bilang kalau gue gak ke kampus pagi ini, dia gak bakal kasih jatah buat minggu ini. Anjim banget kan."
"Ya bagus itu! Secara gak langsung dia nyuruh lo rajin kuliah. Jangan kayak gue." ucap Cecilia kembali menatap pantulan dirinya di kaca. "Absenin gue lagi ya, entar siang gue ke kampus."
"Sama sama anjim lo ah!" Nita menoyor kepala Cecilia saat dirinya berjalan menuju kamar mandi dan melewati meja rias.
"Awas lo kalau enggak!"
"Bodo!" Sahut Nita menutup pintu kamar mandi.
"Nit gue duluan ya!"
Cecilia keluar kamar tanpa menunggu Nita menyautinya, dia segera menghampiri Irsan yang tengah berdiri menatap foto Cecilia dan juga Nita, ada beberapa foto ibu dan ayahnya.
"Ayo pergi."
Irsan menoleh dan mendapati Cecilia tersenyum ke arahnya, wajahnya sudah cantik dengan sedikit riasan, lalu terbelalak.
"Kau tidak punya pakaian lain?"
"Sembarangan! Pakaian aku banyak. Kenapa? Gak cocok pake ini? Ini bagus kok."
"Apa kau mau pergi ke klub dengan pakaian itu? Ganti cepat. Pakaian kurang bahan seperti itu." ujar Irsan yang harus menelan saliva saat melihat rok mini serta atasan sabrina yang memperlihatkan kedua bahu putihnya, tidak terbayangkan jika orang lain melihatnya juga.
"Dasar kolot! Ini baru baju sehari hari, kalau ke klub lebih dari ini tahu."
Irsan memijit pelipisnya. "Ganti Cecilia!"
Cecilia menghentakkan kaki namun dia pergi juga ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
"Ribeet cuma gara gara baju doang!" gerutunya kesal.
Nita tertawa kesenangan, melihat Cecilia terus menggerutu dan kebingungan mencari pakaian ganti di lemari, pakaian yang dia punya hampir semua kekurangan bahan. Hanya beberapa potong saja pakaian yang tertutup sopan itu pun jarang di pakainya.
"Baju yang kita beli waktu lo mau ngelamar kerja Ce! Pake yang itu aja."
"Ah ... Lo bener! Gue lupa punya baju gituan ya." ujarnya mengambil koper kecil diatas lemari.
"Gue tahu! Tapi gue gak suka mau apa!"
"Serah deh!" jawab Nita yang menyambar pakaian Cecilia untuk dia pakai hari ini.
Cecilia bukan menggantinya, namun memakainya dua sekaligus. Pakaiannya dipakai doble.
"Gila lo! Bener bener! Yang ada lo gerah."
"Berisik lo! Dah gue pergi ya. Lo pake mobil gue aja ke kampus. Gue kayaknya bareng Irsan." ujarnya yang kemudian terkikik. Membayangkannya saja sudah hampir gila. Pulang pergi bersama seperti layaknya pasangan nyata.
Cecilia kembali keluar dan menghampiri Irsan tanpa dosa, Irsan menjadi lebih baik saat melihat gadis yang semakin cantik dengan penampilan tertutup.
"Gini kan mau mu?"
Irsan mengangguk, mengacak pucuk rambut Cecilia dengan lembut. Membuatnya gelagapan sendiri, lalu beranjak membuka pintu.
"Heh ... Anjim kadang kadang! Kalau mau so manis itu bilang bilang dong. Kan gue kaget jadinya."
Keduanya berjalan bersisian menuju lift, entah efek pakaian yang di kenakannya, Cecilia lebih banyak diam mendengarkan semua arahan dari Irsan pada saat nanti di kantor polisi. Gadis itu hanya mengangguk, menggeleng saat pernyataan Irsan salah.
Bukan hanya pembawaan pakaian saja, dia tengah mengingat ucapannya semalam pada pria tinggi tegap itu. Menatapnya lama saat Irsan bicara, bahkan menatap bibir kemerahan Irsan yang bergerak, memunculkan bayangan Irsan yang tengah berpacu di atas tubuhnya malam itu.
"Kau dengar aku kan Cecilia!"
"Hah ... Iya, lanjut." gelagapnya dengan kedua mata mengerjap bak seorang pencuri yang terciduk.
Keduanya menaiki mobil yang berada di depan lobby.
"Ini mobil mu?"
"Bukan! Temanku. Aku meminjamnya."
Cecilia berdecih, "Itulah makanya, si sundel lama lama bikin kau bangkrut. Baru kau akan sadar."
"Kita bicara nanti saja."
"Hih ... Paling jago kalau belain dia."
"Aku juga akan membelamu. Jangan iri."
"Heh ... Siapa yang iri! Gak usah ya makasih. Kau fikir kau siapa. Bela dia tapi so bela aku juga."
"Jodoh seperti yang kau bilang bukan?"
Cecilia menoleh dengan kedua dahi mengkerut, sementara Irsan dengan datarnya melajukan mobil.
"Kenapa. Kau menyesal saat mengucapkannya? Sama hal nya yang kau ucapkan semalam."
Cecilia semakin mengerjapkan mata menatap Irsan yang bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari ruas jalan. Gadis itu berjingkat dengan menegakkan kedua bahunya.
"Kalau tidak bagaimana? Aku gak nyesel sama sekali. Hanya bodoh saja. Itu kan karena aku mabok."
"Tidak apa apa. Aku bangga dengan keberanianmu."
"Jadi kau akan putuskan si sundel itu? Dia benar benar mempermainkanmu."
"Kau ingin aku putus dengannya? Baiklah, aku akan putus dengannya kalau kau katakan lagi yang semalam."
"Heh ... Kenapa kau jadi murahan begini."
"Terserah, aku akan putuskan pacarku setelah kau mengatakan apa yang kau katakan semalam. Kalau ti---" ucapan Irsan terjeda karena Cecilia menyelanya dengan cepat.
"I love you. Puas!"
.