
Brak!
Pintu terbuka, mengagetkan keduanya yang tengah berada di ambang kenikmataan yang hampir saja direngkuh bersama sama.
"Astaga...! Kalian ...!"
Ines beringsut bangkit dari pangkuan Tristan, berdiri dan sibuk membenahi pakaiannya sedangkan Tristan berdecak dengan memejamkan kedua matanya, menyandarkan kepalanya yang berdenyut hebat pada sandaran sofa saat seseorang yang membuka pintu kini langsung menutup pintu dengan cepat.
"Kau ini tidak tahu moment!" ucapnya dengan lirih.
"Astaga! Sorry aku gak ada maksud buat gangguin kalian. Pasti kena tanggung yaa!"
Ines mendelik ke arahnya dengan frustasi, lalu beralih pada daun pintu yang kini tertutup seolah menantikan seseorang yang dia takuti tiba tiba muncul.
"Ce ... Lo ihh!"
"Kak Ines tenang aja, sepupumu itu langsung ke ruangan direktur, aman kak ... Aman, tenang aja!" Cecilia terkekeh dengan berjalan ke arah meja dan menyimpan satu bungkusan plastil berbentuk kotak kemudian menatap ke arah Tristan yang masih betah duduk dengan kemeja berantakan, kedua alisnya naik turun dengan bibir yang dia kulum. "Nakal juga lo! Yakin gak ada CCTV kan?" ujarnya lagi dengan terkekeh namun kini lebih keras lagi.
Kedua mata Ines belingsatan menatap sudut demi sudut langit langit ruangan, takut jika ruangan itu ada CCTV yang terpasang tanpa dia tahu.
"Tenang aja Kak ... Sebelum ngajak gituan nih orang udah pasti tahu, ya gak?" Ujar Cecilia masih dengan kedua alis yang naik turun.
Membuat Tristan berdecak kesal, namun pria itu hanya mampu menggelengkan kepalanya saja. Yang dikatakan Cecilia memang benar, demi kenyamanan dan keamanan internasional, sejak awal memasuki ruangan kerjanya yaitu memeriksa apakah ada kamera pengawas atau tidak.
Ines dapat bernafas lega. Lalu berjalan mendekati Cecilia. "Jangan katakan hal ini pada Irsan ya ... Please!"
Tristan menggelengkan kepalanya saat nama Irsan di sebut, gejolak yang tertahan hilang sudah saat nama itu tercetus. Membayangkannya saja sudah tidak ingin. Mulutnya mungkin diam membisu namun tatapannya menyedihkan dengan menatap gadis yang terus terkekeh karena menyaksikan prilakunya yang kurang ajar.
Cecilia akhirnya tertawa, menyenggol lengan satu satumya adik sepupu dari suaminya itu. Lalu memukul Tristan yang masih membungkam.
"Takut ya kalian?"
Keduanya terdiam dengan melihat ke arahnya, wajah penuh harap dan juga takut.
"Astaga ... Kalian gak percaya sama aku? Aku jamin semuanya aman, aku kan udah bilang jangan lupa kunci pintu...! Kunci pintu hey ...!" ujarnya dua kali. "Untung aku yang masuk duluan, kalau yang masuk suamiku! Wah mampus kalian."
"Ce ...!" Teriak Ines dengan wajah iba dan takut yang menyatu.
Namun Cecilia malah justru terus memperhatikan Tristan yang sejak tadi diam membisu. "Kenapa lo ... Pusing banget ya kepalanya? Perlu es batu atau susu?" godanya terus menerus.
Tristan menggelengkan kepalanya, semua ucapan Cecilia benar adanya. Apalagi yang dia rasakan saat ini, rasanya berteriak saja mungkin tidak akan cukup. Dan Cecilia tergelak juga.
"Dah ah ... Aku mau pergi!"
"Enak banget sih, sudah datang mengganggu terus pergi begitu saja!" dengus Ines, yang tidak mungkin kembali melakukannya saat Cecilia pergi.
"Ya terus mau ngapain? Nunggu dan lihatin kalian?" ujarnya lagi. "Pergi aja deh, lagian juga aku kesini mau nganterin oleh oleh tuh! Mau kasih kejutan malah terkejut!" Masih terus tertawa.
Tiba tiba pintu kembali terbuka, Irsan masuk dengan kedua alis yang mengkerut. "Kau di sini rupanya? Ayo pergi."
Dua orang yang berdosa terhenyak melihatnya, wajah dan tatapannya sudah tidak bisa digambarkan lagi bagaimana dan Cecilia hanya bisa terkekeh melihatnya.
"Sayang, aku hanya kasih oleh oleh kesini, takut lupa!"
Irsan menepuk pundak Tristan yang tersenyum ragu, "Sudah kan?"
"Hah?"
"Ih sayang, jangan bikin kaget kayak gitu dong, gak lihat tuh mukanya pada cengo!" Cecilia menarik tangan sang suami dari pundak Tristan dan menggenggamnya.
"Memang ada masalah besar? Kenapa kalian...?"
"Biasalah sayang, kalau orang lagi bucin bucin kan gitu!"
Ekhem!
Pria berusia 40 tahun itu berdehem curiga, "Apa ada masalah? Kenapa kalian berdua diam seperti itu?"
"Sayang, jangan bikin tegang ahk, gak lihat tuh muka Tristan udah tegang dari tadi, iya kan?"
Trintan menelan ludahnya sendiri, tegang apa yang di maksud Cecilia. Gadis itu benar benar membuatnya tidak berkutik, ibarat pemegang kartu As yang akan siap kapan saja membuat semuanya hancur berantakan, terlebih jika sampai seniornya tahu kejadian yang baru saja terjadi pada sepupunya. Matilah aku.
"Sayang jangan curiga begitu dong, bikin mereka takut aja!"
"Aku bahkan tidak mengatakan apa apa, taapi karna kau mengatakan seakan mereka ada apa-apa!" ujarnya mendlik pada sang istri.
"Lho aku dari tadi di sini kok, dan mereka gak ngapa-ngapain sayang, udah deh!"
"Justru itu, siapa yang mengatakan mereka melakukan sesuatu, memangnya mereka melakukan apa?" ujar Irsan yang sedikitnya justru jadi curiga.
"Udah deh kalau mereka ngapa ngapain juga gak apa apa dong, iya kan ya?" Cecilia menaik turunkan kedua alis pda suaminya. "Masa iya cuma ngobrol?" ujarnya lagi dengan penuh penekanan.
"AKu tidak tahu apa itu, yang jelas fikiranku saat ini justru mengarah pada ucapanmu sayang?"
"Memangnya aku bilang apa? Aku cuma bilang kalau apa namanya ... aku bilang mereka sedang apa tadi?" Cecilia mulai bingung mencari jawabannya sendiri.
Tristan menelan saliva begitu juga dengan Ines saat melihat pemegang kartu As mereka gelagapan sendiri. "Udah yuk sayang kita pergi aja, aku udah lapar!" Cecilia akhirnya menarik tangan Irsan dan mngajaknya keluar dari ruangan itu.
Irsan menoleh lagi ke arah belakang, dimana Tristan membisu dan mematung,
"Sebaiknya kau bersihkan wajahmu itu! Jangan sampai semua orang berfikir yang tidak tidak Tristan. Dan kau, jangan terlalu sering datang kemari, urus butik dan pekerjaanmu dengan baik, kalau tidak ingin aku menarik sahamku di sana!" ujarnya lagi pada Ines.
Tristan dan Ines tentu saja tersentak kaget, terlebih Tristan yang langsung membalikkan tubuhnya dengan keua tangan membasuh wajahnya.
"Mampus!" gumam Cecilia tanpa suara pada keduanya dengan terus menarik tangan Irsan.
"Apa yang ada di wajahku?" tanyanya pada Ines yang sedaang gelagapan bak terciduk mencuri.
"Kenapa wajahku?" tanyanya lagi mngulangi.
Ines menggelengkan kepalanya, menunggu dua orang itu keluar, lalu bernafas lega saat keduanya menghilang di balik pintu barulah dia berani menatap wajah kekasihnya itu.
"Wajahmu berantakan! Maaf ... Ini gara gara aku," ujarnya lirih, menghapus jejak lipstik yang ada di sekitar sudut bibirnya. "Apa Irsan tahu jika kita tadi berciuman hanya karena melihat ini?" ujarnya lagi dengan menghapus noda-noda merah di sekitar pipi Tristan.
"Apa aku terlihat menghisap darah?" tanya Tristan yang juga bisa bernafas lega sekarang. "Bocah itu tidak katakan apa apa, harusnya dia mengatakan nya tadi, bukankah dia bilang akan mnjaganya supaya aman dan melindungi kita, dasar pengkhianat, justru dia yang sejak tadi menggiring ke arah sana!" gerutu Tristan dengan kesal.
"Iya ... Kau benar! Cecilia tidak bilang, dia malah terus tertawa, kita hampir mati tadi."
Tristan mengangguk setuju, tak lama Ines mencubit pinggangnya dengan keras. "Kau takut Irsan kan? Kalau kau takut, bagaimana kita kedepannya?"
"Sayang tidak apa-apa! Aku hanya kaget saja tadi, kedepannya kita lakukan di tempat lain ... Awww ..." pekiknya setelah Ines kembali mencubit pinggangnya lagi. "Aku bercanda sayang!"
"Ini semua gara gara kau!"
Tristan merengkuh kedua pundaknya dengan kuat juga menatapnya penuh keyakinan.
"Kau tenang saja, aku akan menghadapi semuanya dengan gagah dan berani, termasuk senior!"
.
.
Wkwkwkwk ... ada ada aja sih, udah bikin pening pala orang gak tuh Ce ... malah bikin curiga juga abang doksan yang makin meleyot dah udah.