
Tidak ada waktu untuk pergi ke klinik persalinan, apalagi ke rumah sakit yang jaraknya cukup iumayan, perkiraan melahirkan dengan jadwal caesar yang sudah ditentukan Dokter pun nyatanya meleset jauh. Mau tidak mau Nita harus melahirkan di rumah secara mandiri dengan bantuan seorang yang tidak perpengalaman dan sangat nekat.
"Tarik nafas ... Buang, lo tenang aja! Gue sambil googling ini!" ujar Cecilia dengan kedua tangan gemetar memegangi tangan Nita, sebuah ponsel yang memperlihatkan cara cara menolong persalinan dan cara menggunting tali ari ari bayi.
"Gunting, kapas, sarung tangan ... Arrgh skip sarung, alkohol ... Lo punya alkohol?" Seru Cecilia saat menyebutkan alat alat medis yang harus disiapkan.
Nita menyempatkan menggelengkan kepala disaat merintih kesakitan, kesakitan luar biasa yang hanya bisa dirasakan saat melahirkan saja. Darah yang keluar pun semakin banyak dengan perut yang terasa mulas luar biasa.
"Yuk ... Bisa yuk!" ujar Cecilia yang membuka lebar kedua paha Nita dengan perasaan tidak karuan.
"Satu ... Tarik nafas, abis itu lo ngejan ya!"
"Gue tahu ... Gue ikut senam hamil!" sahut Nita mulai kesal, ingin marah dan ingin teriak.
Cecilia pun ikut menarik nafas, lalu membuangnya saat Nita mencoba mengatur pernafasan sebelum akhirnya mengejan, tekanan dari dalam tubuh untuk mendorong bayi agar keluar.
Wajahnya terlihat semakin panik saat melihat jabang bayi yang mulai keluar. Tapi dia tidak peduli jika kedua tangannya kini mulai berlumuran darah saat bayi merah mungil itu benar benar keluar.
"Pegang dia ... Gue mau gunting talinya," teriaknya heboh saat bayi berada di tangannya, lalu menyuruh Nita memegangnya. "Potong tadi tuh gini ... Terus gini, di giniin!" ucapnya lagi mempraktekkan apa yang dia lihat di ponselnya.
"Lo yakin bisa Ce?" lirih Nita yang kini merasa lega, dan perutnya saat ini sudah tidak sesakit tadi.
"Enggak ... Tapi gue harus, tuh gitu kan!" tunjuknya pada ponsel yang masih menyala.
Dan setelah terpotong, Cecilia berlari ke dalam kamar untuk mencari selimut dan membungkus bayi laki laki mungil yang masih merah itu dan memberikannya pada Nita.
"Lo kasih Asi dulu!"
Nita tertawa kecil, begitu juga dengannya saat melihat bayi kecil itu menangis, dan akhirnya keduanya bisa bernafas lega saat bayinya terdiam karena minum untuk kali pertamanya lahir di dunia.
Huh!
Keduanya tertawa lagi, sama sama bersandar ditembok dengan perasaan yang lega.
"Lo tunggu di sini! Gue cari bantuan ... Kita harus ke rumah sakit!"
Namun saat Cecilia hendak keluar, Irsan datang saat itu juga dan tersentak kaget saat melihat situasi yang tidak terduga sama sekali.
"Sayang? Kebetulan kamu datang, ayo bantu Nita, periksa dia, apa dia baik baik saja? Dan bayinya ... Bayinya laki laki." Cecilia mengucapkannya dengan sumringah, terlihat wajahnya berseri seri saat itu.
Irsan pun masih belum mengatakan apa apa, dia langsung melihat kondisi Cecilia, dia bukan dokter obygn tapi dia pernah terlibat dalam persalinan bersama dokter Siska.
"Cuci tanganmu sayang!" ucapnya pada sang istri yang masih terlihat berantakan.
Cecilia mengangguk dan langsung berlari ke aeah wastafel. Sementara Irsan mengambil peralatannya di dalam mobil, peralatan yang selalu dia bawa kemanapun.
"Gimana Dokter, anakku sehat kan?" tanya Nita, lebih peduli pada si bayi yang terlelap dalam dekapannya.
Irsan mengangguk, "Sehat ... Tapi kita tetap harus ke rumah sakit! Mana Toni, kenapa dia tidak ada saat situasi seperti ini?"
Nita tersenyum, "Bayi ini ingin lahir ditangan Cecilia,"
Cecilia yang datang dengan membawa segelas air hangat pun ikut tersenyum, dia memberikan gelas itu pada Nita.
"Anak bayi sekecil ini juga tahu kalau gue sayang dan peduli sama emaknya, emaknya aja yang gak nyadar dan malah ngumpet. Gak mau berbagi derita sama gue."
Nita mendengus "Lo yang salah Ce ... Bukan gue!"
Cecilia terkekeh, "Iya gue salah ... Maafin gue yaa, Ayo sayang, bawa Nita ke rumah sakit!"
Akhirnya mereka membawanya ke rumah sakit, Nita diperiksa untuk melihat persalinannya yang dilakukan secara mandiri, begitu juga dengan anak bayi yang terus digendong oleh Cecilia. Sifat alami yang muncul tiba tiba, mendekap seorang anak bayi tanpa latihan.
"Sayang, kenapa ngeliatin aku terus? Aku gak salah gendong kan ... Begini kan?"
Irsan menggelengkan kepalanya, "Aku senang melihatmu, kau bahagia bisa bertemu Nita bukan?"
Cecilia mengangguk, "Aku senang, apa boleh Nita tinggal bersama kita?"
"Untuk itu kita harus tanya padanya juga pada Toni, mungkin aku bisa menyiapkan unit di sebelah kita."
Cecilia mengangguk, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, seraya melihat Nita yang tengah di periksa.
Toni datang setengah berlari setelah mendapat kabar dari Irsan, dan ikut lega saat melihat Cecilia dan Nita tertawa bersama.
"Gue seneng banget hari ini! Lo sehat sehat ya, gue gak bakal biarin lo pergi jauh jauh dari gue, kita bakal terus sama sama lagi Nit, sampe anak anak kita gede dan tumbuh sama sama."
Nita mengangguk, "Banyak hal yang pengen gue ceritain sama lo ... Mungkin nanti abis gue keluar dari sini!"
Cecilia pun kembali memeluknya, "Lo boleh ceritain semua sama gue, semuanya Nit ... Gue bakalan dengerin semuanya, jangan kabur kaburan lagi kalau enggak gue culik anak lo agar lo gak kabur!"
"Sialan lo!"
Keduanya tertawa dan baru berhenti saat melihat Toni.
"Laki lo udah datang, gue cari dulu makan ya gue laper abis jadi dokter dadakan tadi!" ucap Cecilia terkekeh dan Nita hanya mengangguk saja.
Sementara itu Toni menghampiri Irsan yang berdiri tidak jauh dari pintu, dan lega saat mendengar apa yang dikatakan Dokter perihal Nita dan bayinya.
"Mas?"
"Kau baru datang saat istrimu melahirkan seorang diri di rumah. Harusnya kau mempersiapkan hari ini jauh jauh hari, beruntung karena istriku datang dan menemaninya!"
Toni menundukkan kepalanya. "Banyak hal yang harus di jelaskan dan diluruskan, tapi saat ini bukanlah saat yang tepat untuk mengatakannya."
Irsan mengernyitkan kedua alisnya saat mendengar perkataan Toni. Namun juga tidak bertanya lebih jauh lagi karena Cecilia sudah lebih dulu melambaikan tangan ke arahnya.
"Sayang? Ayo kita keluar cari makan, aku lapar sekali. Biarkan Nita istirahat dulu! Dan kamu ... Kemana aja! Gak nemenin Nita melahirkan." tunjuk Cecilia dengan tajam ke arahnya.
Irsan segera menariknya keluwr sebelum sang istri melakukan hal hal yang diluar kendalinya, kerap lupa jika dia juga tengah hamil muda.
"Greget aku sama Toni, bisa bisanya dia pergi dan susah di hubungi saat Nita butuh!" ucapnya pada Irsan saat mereka keluar. "Aku gak mau ya melahirkan tanpa suami, aku mau kamu ada kalau nanti aku melahirkan."
"Tentu saja sayang, aku akan selalu ada ... Kalau perlu aku akan mengambil cuti dari rumah sakit!" ucap Irsan dengan mencuil hidung mancung Cecilia.
"Ih ... Gak gitu juga, pasien rumah sakit mau kemanain, cukup ada saat aku melahirkan aja, gak perlu sampai cuti. Hm?" Ujar Cecilia yang melingkarkan tangan di lengan Irsan.
"Istriku pengertian sekali!"
Cecilia terkekeh, mengambil kedua tangan Irsan dan mengangkatnya sedikit seraya menggenggamnya. "Karena jadi Dokter itu berat tanggung jawabnya, lihat dua tangan ini, yang membantu banyak orang yang butuh pertolongan, dua tangan besar yang jadi harapan semua orang saat keluarganya sakit."
Irsan memeluk Cecilia, melupakan semua kekesalan dan kemarahan akibat sikapnya yang selalu nekat itu, karena selalu ada kebaikan di dalam setiap kenekatan yang di lakukannya.
"Istriku sayang ... Terima kasih karena sudah mengerti dan menjadikanku lebih baik!"
Cecilia pun melingkarkan tangan dipinggangnya dengan erat. Pria dingin dan kaku yang telah berubah sedemikian rupa.
"Terima kasih juga karena mau nerima segala kekurangan aku dan menjadikanku lebih baik juga."
.
TAMAT