I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab. 107(Permulaan)



"Kalau gitu ... aku minta ranjang dan tempat tidur yang baru, aku gak suka pakai barang bekas orang lain Daddy."


Reno yang sudah kepalang basah dan bergai rah hanya mengangguk pasrah, dia menghubungi Asisten pribadi untuk menyiapkan ranjang dan kasur yang baru. Cecilia mengulas senyuman, dia juga merengkuh bahu Reno.


"Jadi Daddy harus sabar ya ... Aku gak mau ngelakuinnya sebelum ranjang baru itu datang."


"Ahh ayolah Honey, kita bisa bermain sambil menunggu."


Cecilia menggoyang goyangkan jari telunjuk ke kiri dan ke kanan,


"Ingat Daddy ... Aku Profesional dalam pekerjaanku." ujarnya lalu dia melenggang masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamar itu.


Sambil menunggu, Cecilia mengotak ngatik ponsel yang dia pinjam dan juga menghubungi Nita.


"The show will start soon Reno!"


Cecilia membuka celana dan sengaja memasangkan pembalut yang dia tetesi dengan obat merah, agar meyakinkan. Dia merobek pembalut lain dan mengeluarkan butiran butirannya, lalu dia basahi dengan air dan juga kembali ditetesi oleh obat merah yang sengaja dia bawa dari toilet di kantor Reno, menempelkannya di atas pembalut yang sudah dia pakai. Menempelkannya pada pusat inti miliknya hingga bercak kemerahan dan butiran yang sudah menggumpal itu menempel di kulit luarnya. Lalu membuka semuanya dan melepaskannya lagi. Sesudah itu, barulah dia kembali memakai celana nya.


"Lo tahu Reno, gue gak suka orang plin plan, lo udah bikin gue di usir dan gak punya apa apa, lo fikir gue masih mau sama lo? Cih ... Gue hancur, lo juga bakal gue hancurin. Kita lihat siapa yang terakhir tertawa." ujarnya merobek robek dua pembalut dan membuangnya ke toilet. Tidak lupa menyiramnya sampai bersih.


Dia kembali keluar, tepat pada saat dua pria tengah mengganti kasur lama dengan yang baru. Reno menghampirinya dan memeluknya, dan menyuruh dua orang pria tadi keluar.


"Aku sudah melakukannya honey, sekarang giliranmu."


Cecilia mengangguk kecil, lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Reno dan membawanya ke atas ranjang, menggoda pria yang mudah sekali terpancing itu.


"Ooh honey ... Cepatlah!"


Perlahan lahan, Cecilia membuka atasannya, hanya tang top berwarna hitam yang dikenakannya, dia juga mendorong Reno menjadi telentang. Gadis itu naik dan duduk di paha Reno, menggoyangkan tubuhnya seindah mungkin. Dia kembali turun dan melepaskan rok mininya, dan hanya menyisakan underwearnya saja.


"Honey ... Tunggu! Apa kau....?" ujarnya menunjuk under wear berwarna pink yang sudah berwarna merah di tengahnya, hanya sedikit namun membuat Reno berdecak kesal.


"Uppsss ... Sorry Daddy! Aku tidak ingat jadwal bulananku." Ujarnya menyambar pakaiannya dan berlari ke kamar mandi.


Ingin sekali dia tertawa puas, namun ini belum saatnya, permainannya baru saja di mulai. Anggap saja ini baru permulaan. Setelah mengenakan kembali pakaiannya, dia kembali keluar.


"Kau mempermainkanku?"


"Sorry Dad ... Tapi Daddy tenang aja, aku masih punya cara lain." ujarnya dengan mengedipkan mata lalu menjulurkan lidahnya, membuat Reno tidak jadi kesal.


Gadis itu kembali menghampirinya, dia turun dengan berjongjok ria dan mulai menurunkan resleting celana yang di kenakan Reno.


"Ooh honey!" ujarnya mengusap usap kepalanya.


"Calm down Daddy." Desis Cecilia yang sengaja melambatkan gerakannya.


Tok


Tok


Tok


Brak!


Keduanya menoleh ke arah pintu, melihat asisten pribadi masuk lalu membalik kan tubuhnya ke belakang setelah melihat keduanya dengan posisi fenomenal khas bercummbuu.


"Maaf tuan!"


"Ada apa?"


"Terjadi masalah di kantor! Kita harus segera kembali."


"Apa maksudmu?" Reno menaikkan kembali celana yang sudah di berada di pahanya. Lalu membalikkan tubuh ke arah pintu. "Katakan yang jelas!"


"Semua orang berkumpul dikantor, termasuk nyonya Irene dan pemilik saham. Kita harus pergi."


Reno terbeliak sempurna, dia bergegas merapikan pakaiannya dan keluar, sementara Cecilia tersenyum puas lalu ikut keluar.


Ketiganya kembali masuk ke dalam mobil, Jo melajukan kendaraannya dengan cepat agar segera sampai ke kantor.


Drett


Drett


Ponsel milik Reno berdering, dia merogoh ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya lagi. Wajahnya tiba tiba terlihat khawatir dan terhenyak dengan memegangi dadanya sendiri.


"Daddy, apa yang terjadi?"


"Cepat Jo!"


"Ada apa?" Tanya Cecilia lagi yang ikut khawatir melihat Reno yang berkeringat dingin.


Reno menepiskan tangannya, dan tidak menjawab, "Jo kau yang mengamankannya bukan? Aku menyuruhmu Jo."


"Daddy. What wrong...?" Cecilia menoleh pada Jo sang asisten pribadi. "Ada apa? Katakan, kau bikin aku panik aja."


"Jo!"


"Aku tidak yakin Tuan, kita ke kantor sekarang."


Mobil melaju semakin cepat, Reno yang panik juga Jo yang serba salah, ditambah Cecilia yang ikut ikutan panik.


"Daddy! Jawab."


Reno menyandarkan punggungnya ke seat mobil, juga memijit pelipisnya yang berdenyut, bagaimana bisa itu terjadi begitu saja.


"Kau yang melakukannya kan?"


"Apa ... Melakukan apa? Aku aja gak ngerti kalian ngomong apaan."


"Rekaman CCTV Cecilia. Bukankah kau yang bilang?"


"Maksudnya?"


"Cepat Jo, kau menyetir seperti keong saja! Jangan sampai Irene mengetahui hal itu."


"Tunggu daddy! Maksud Daddy apa? Rekaman CCTV?"


Reno mengangguk kecil, lalu memejamkan matanya. "Ini pasti ulahmu Cecilia."


Pertama kalinya Reno mengucapkan namanya tanpa embel embel sayang yang palsu, juga kata honey yang sering dia ucapkan.


"Gila aja. Buat apa aku ngelakuin hal itu. Sama aja bikin reputasiku sendiri buruk." jawab Cecilia yang ikut bersandar, lalu menutup wajahnya.


"Aku kan udah bilang Daddy supaya waspada. Gimana dengan reputasiku ini." lirihnya.


"Kalau bukan kau. Lalu siapa? Siapa yang melakukannya."


Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk kantor, terlihat beberapa mobil sudah terparkir sempurna di pelataran parkir.


"Kau pulang saja! Tidak usah ikut masuk." tunjuknya pada Cecilia.


Gadis itu mengangguk kecil. Memang itu yang dia inginkan.


"Hati hati Daddy!" Ucapnya dengan melambaikan tangan. "Hati hati dengan kejutan yang aku buat untukmu." desisnya kemudian saat Reno dan Jo masuk kedalam.


Cecilia berlari menuju sebuah mobil yang sudah menunggu di sana. Nita dan Sila harap harap cemas sejak tadi.


Gadis itu masuk dan menghembuskan nafas panjangnya.


"Gimana Nit?"


"Beres!"


"lo emang sahabat gue. Cabut buruan, gue gak mau lama lama di sini cuma bikin illfeel doang."


Sila yang hanya ikut saja mengernyit, lalu menoleh ke arah belakang.


"Kak ... Abis ngapain sih? Kok gue gak di kasih tahu."


"Nanti deh gue cerita, sekarang anter gue beli underr wearr dulu."


Nita yang melajukan mobilnya keluar dari pelataran parkir lalu menoleh juga. "Lo masih sempet begituan sama dia Ce?"


"Najis ... Ogah gue! Lo lihat ini. Gue sampai ngelakuin hal ini coba. Untung aja gue cepet mikir." ujarnya dengan menyingkap rok mininya dan merentangkan kedua pahanya.


"Iiihh jorok lo!"


Cecilia tertawa terbahak, kembali menutup roknya,


"Ini obat merah bego!!"


.


Wkwkwkwk ... Si Cece bikin dag dig dug serrr ye kan ... cuma buat bikin Reno pusing, tapi masalah lainnya bakal muncul tuh si tiang listrik malah ngambek. Peace Cecelover. Si Cece emang badung amat, jangan lupa dia jago akting. Othor aja ketipu kan sama dia. Kabuur