I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.124(Canda diatas duka)



Sebagai dokter, Irsan melakukan segala upaya untuk menyelamatkan Reno. Namun takdir berkata lain, Reno tidak bisa di selamatkan karena komplikasi jantung yang dia derita. Dan seorang dokter pun tidak bisa lagi berbuat apa apa apalagi berperang melawan takdir.


Irsan menghela nafas berat saat mesin pendeteksi jantung berbunyi nyaring, tangannya lunglai setelah 3 kali percobaan dan pasien tidak juga merespon, dengan alat pacu jantung yang masih dia pegang, akhirnya dia hanya bisa tertunduk lemas.


"Dokter Irsan?" suster menepuk bahunya pelan.


Irsan hanya mengangguk pelan, dan menyerahkan akat pacu jantung kepadanya lalu dia keluar dari ruangan dengan lesu. Merasa gagal setiap dia tidak bisa menyelamatkan seseorang, dan resiko itu tidak bisa dia elakkan.


"Buatkan resume medis!" ujarnya saat berpapasan dengan seorang suster yang hendak masuk, suster itu mengangguk mengerti dan bergegas masuk.


"Bagaimana suamiku?" tanya Irene saat Dokter Irsan baru saja keluar dari pintu ICU dimana Reno mendapat perawatan sekaligus tindakan.


Jujur, inilah yang paling berat dari resiko sebagai seorang dokter, menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada keluarga pasien, baik dan buruk, diterima maupun tidaknya.


"Maaf, kami semua di rumah sakit sudah melakukan yang terbaik untuk suamimu." walau berat, tentu saja harus dia katakan juga, "Aku turut berduka."


"Mak--maksudmu. Suami ku meninggal?"


Irsan mengangguk lirih, menceritakan penyebab yang paling utama, "Syok kardiogenik tiba tiba setelah dilakukan tindakan, dan terjadi komplikasi."


"Tidak mungkin! Kau bilang dia akan baik baik saja setelah menjalani serangkaian test kemarin, kau bilang dia akan segera sadar." Irene masih tidak terima jika suaminya meninggal, "Dia awalnya baik baik saja, dia bahkan selalu cek kesehatan dengan rutin. Dia sehat dok! Selama ini aku lah yang sakit, aku lah yang selalu berobat, kenapa dia yang meninggal."


Jo yang sejak awal selalu menemaninya hanya bisa terdiam di sampingnya, mencoba menenangkannya walau sulit.


"Tenanglah nyonya!"


"Tidak Jo! Ini pasti ada kesalahan, dia tidak mungkin meninggal begitu saja."


"Maaf nyonya! Aku sudah berusaha sebaik mungkin."


Irene menggelengkan kepalanya dengan air mata yang kini terus bercucuran, masih belum bisa menerima nika sang suami meninggal, banyak hal yang belum selesai, terlebih soal Cecilia.


Sementara gadis itu hanya diam di ruangan milik Irsan, dia merasa tidak punya kepentingan untuk melihat kondisi Reno, terlebih di sana ada Irene. Dia hanya bermain ponsel tanpa memikirkan pria yang terikat kontrak dengannya itu.


"Kalau bukan mepet waktu, ogah gue kesini cuma gara gara Reno, gue gak peduli sama dia." desisnya saat ingat sosok pria yang hampir 2 tahun itu menjadi Sugar Daddy nya.


Pintu terbuka, Irsan masuk lalu terduduk lemas. Mengenggak air putih di gelas besar yang selalu tersedia di mejanya.


"Gimana? Apa dia baik baik aja?" tanya Cecilia sedikit penasaran.


Irsan menggelengkan kepalanya lirih, lalu tidak lama kemudian masuk seorang suster yang sedikit kaget melihat Cecilia yang tengah duduk. "Maaf ... aku tidak tahu kalau dokter ada tamu." ujarnya saat menyerahkan surat medis dan juga resume kematian milik Reno.


Cecilia hanya mengulas senyuman saja, sementara Irsan tidak menanggapi, dia langsung membubuhkan tanda tangan di atas kertas dengan segera, dan suster pun bergegas keluar.


"Jadi Reno sudah mati? Eeh maksudku meninggal?" Cecilia baru saja sadar saat melihat surat kematian yang di tanda tangani kekasihnya itu.


"Iya...!"


Gadis itu menghela nafas, lalu mengelus pundak Irsan, bak bisa melihat perubahan wajah Irsan yang tampak lebih lesu dari sebelumnya. "Iya udah sih, mau gimana lagi. Kau juga pasti sudah berusaha."


"Kau benar! Hanya saja aku selalu merasa kurang saat gagal menyelamatkan seseorang, terlepas dari bagaimana dia selama hidupnya." ungkap Irsan, dimana Cecilia mengerti maksudnya.


Hatinya mencelos, terlebih mengingat ucapan bi Ira jika Irsan itu orang baik, terbukti sekarang, padahal Reno adalah rivalnya, pria yang membuat Cecilia belum juga berhenti dari pekerjaannya. Pria yang memberikan kemewahan selama ini, dan tentu saja pria yang menjajaki kewanitaannya.


"Ya mau gimana lagi? Mungkin memang sudah waktunya dia pergi." sahut Cecilia dengan enteng.


Irsan mengangkat sudut bibirnya sedikit saat mendengar ucapan Cecilia, alih alih berkata kata lembut, gadis itu justru terlampau bicara apa adanya.


"Kau tidak berduka?"


Cecilia mengerdik, lalu terkekeh "Sedikit ... Sekarang mesin ATM ku gak berfungsi."


"Kau ini bisa bisanya berfikir begitu!"


Cecilia menggeser kursi, lalu duduk sejajar dengannya, "Bercanda ... Bercanda! Serius banget. Aku itu bukan gadis yang taat dan paling gak bisa berkata kata soal begini."


Irsan menggenggam tangannya, merekatkan jemarinya disela jemari kecil milik Cecilia. "Tidak usah khawatir ... Aku mengerti. Setidaknya tidak ada alasan mu untuk tidak berhenti mulai sekarang kan?"


"Heh?"


"Seperti katamu, memang inilah yang terbaik! Terbaik untukmu juga ... Dia tidak bisa lagi mengganggumu, kau juga tidak akan bisa lagi bermain main sembarangan dengannya." lanjut Irsan lagi dengan ibu jari bergerak lembut mengelus punggung tangan Cecilia.


"Hah?" Cecilia mengerjapkan kedua matanya, dia tidak percaya Irsan dengan cepat berubah. "Gak salah? Tadi kamu bilang kamu ngerasa gagal jadi dokter kok sekarang kayak seneng gitu."


"Mungkin itu manusiawi, sikap egois seorang dokter?" ujarnya balik bertanya.


"Kau ini!" Cecilia tertawa, mencubit pipi Irsan dengan gemas, benar benar gemas, kenapa pria itu tidak kunjung menciumnya, terlihat wajahnya heran dan terdiam menatapnya.


"Kenapa. Kau sedih karena mesin ATM mu tidak berfungsi lagi?"


Cecilia terkekeh, "Tidak juga! Aku kan udah punya kamu."


"Jadi aku akan kau jadikan mesin ATM mu yang baru?" tanya Irsan dengan kedua alis yang terangkat, lalu mencubit pelan pinggang Cecilia.


Suasana hatinya juga berubah dengan cepat saat bersama Cecilia, "Ayo katakan?"


"Apaan ... Emang kamu punya harta banyak?" Cecilia terkekeh, "Orang mati dicandaain lho! Sama dokternya lagi." Ujarnya lagi berdecak dengan kedua mata memicing ke arahnya.


Tanpa disangka Irsan justru tergelak, dia benar benar heran dengan sikapnya sendiri, kedua tangannya menggelitik pinggang Cecilia.


"Kau yang mulai ya ... Dan kau yang meracuniku!"


Cecilia terkekeh geli juga, menyenangkan baginya saat bisa bahagia walau hanya begitu saja. Padahal mereka bercanda di atas duka orang lain saat ini. Uupppsss


"Kau yang bilang sendiri pake bilang kau akan aku jadikan mesin ATM segala!"


"Memangnya kamu mau apa. Hm?" terus menggelitik, "Apa tidak cukup dengan hidup sederhana saja?"


"Hidup sederhana apanya. Sudah bosan aku hidup sederhana, aku mau jadi orang kaya juga ada alasannya. Aku punya cita cita sendiri saat aku kaya nanti."


"Cita citamu jadi orang kaya?" tanya Irsan menghentikan gelitikan tangannya.


"Ya bukan! Jadi kaya itu mimpi yang harus kita rencanakan dan realisasikan untuk menjadi kenyataan dengan giat usaha."


"Kau pintar!" mencuil hidung mancungnya yang bertindik.


"Kenapa tidak kau lakukan mulai sekarang, aku akan menyiapkannya untukmu. Bagaimana?"


"Apaaan?"