
"Ini mobil siapa?"
Cecilia menatap Irsan begitu juga sebaliknya, mereka saling menatap satu sama lain, sampai seseorang keluar dari dalam mobil dengan sumringah.
"Surprice!" serunya dengan tertawa.
"Apa apaan?" desis Cecilia yang semakin heran saat melihatnya, begitu juga Irsan.
"Apa ini?"
"Surprice ... untuk kalian berdua, ini hadiah dari ku untukmu nona cantik!" ujar Carl mengulurkan tangan pada Cecilia.
Namun gadis itu tidak bereaksi dan hanya mematung saja, Carl masih terdiam mengulurkan tangan guna menciuum punggung tangannya sampai Irsan menepis tangan Carl. Sikapnya yang aneh dan tidak karuan.
"Apa yang kau lakukan. Hm?"
"Aduh ... Kenapa masih bertanya. Bukankah semua sudah jelas?" tukasnya dengan kedua alis yang dia narik turunkan berulang kali.
Hanya Cecilia yang tidak paham bahasa tubuh yang ditunjukan Carl, tapi tidak dengan Irsan yang mengerti karena ucapannya semalam.
"Kenapa akhir akhir ini banyak orang aneh!" gerutu Cecilia.
"Eitt ... Siapa yang aneh? Bukankah hari ini adalah hari yang menggembirakan bagi kalian berdua setelah mendapat restu nyonya Embun? Selamat ... Akhirnya ibumu menyadari kalau putra kebanggaannya memang sudah seharusnya segera memiliki pasangan." terang Carl dengan terus tertawa.
Cecilia tentu saja menolak pemberian mobil itu, bagaimana bisa di percaya begitu saja pada Embun yang berubah tiba tiba. Sementara Irsan menarik Carl dan menjauh beberapa langkah.
"Apa yang kau lakukan hah? Apa ini yang kau sebut rencanamu dan aku hanya kau suruh mengikuti alurnya saja begitu? Jadi kau membuat kesepakatan apa sampai ibu meminta maaf juga."
Carl tergelak melihat ekspresi yang ditunjukan Irsan saat ini, serius dan terlihat tegang.
"Kau tenang saja! Aku ahli dalam hal ini. Temui aku setelah gadis mu pergi," Ujarnya dengan menyerahkan kunci mobil pada Irsan lalu menoleh ke arah belakang.
"Nona cantik! Aku pergi." serunya dengan melambaikan tangan ke arah Cecilia.
Tin
Tin
Suara klakson mobil terdengar dari arah luar, mobil sedan berwarna merah melaju sangat pelan, kaca mobil perlahan turun. Nita menimbulkan kepala dan melihat ke arahnya.
"Woii Ce. buruan. Ayo kita bakal terlambat nih Ce!"
Cecilia yang masih terlihat kebingungan melambaikan tangan ke arah sahabatnya itu lalu menoleh pada Ihsan yang tengah berjalan ke arahnya.
"Gimana?"
Irsan menggelengkan kepala dengan menunjukan kunci padanya.
"Kau mau menerimanya?"
"Ya enggak lah, buat apa aku terima. Ini pasti sogokan dari ibumu." tuduhnya beralasan, karena ketidak percayaannya pada Embun yang tiba tiba berubah. "Hm ... Sudahlah nanti aku urus mobil itu!"
Cecilia mengangguk kecil. "Aku nggak mau gitu aja nerima pemberian orang nggak jelas kayak gitu! Lagian, kalau itu dari Carl. Ada kepentingan apa sampai dia memberiku mobil. Kan aneh ya?"
"Pergilah, temanmu sudah menunggu! Tidak usah kau fikirkan lagi. Aku akan mengurusnya nanti." Tukas Irsan mengelus bahu Cecilia dengan lembut.
"Kalau gitu aku pergi ya. Dok say."
"Oke jangan lupa kabari aku kalau kau sudah sampai!"
Cecilia memicingkan kedua matanya, "Hmmm ... Yang mulai posesif."
"Kau ini!"
Gadis itu terkekeh, lalu berjinjit untuk mengecup pipi Irsan tanpa malu.
"Bye."
Cecilia terus berlari ke arah mobil dengan tertawa, dia membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya.
"Emang anjim lo Ce ... nggak bisa lo tahan dikit aja. Hah? Dilihatin tuh sama security." ketus Nita dengan melajukan mobilnya.
"Ya kali dia juga punya mata, Nit!" Cecilia tertawa, "Gue kangen sama lo!" katanya lagi dengan memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Anjim ... Awas lo, gue lagi nyetir. Kenapa sih lo baru juga kemaren kita ketemu." Dengus Nita berusaha menghindari Cecilia. "BTW itu mobil siapa tuh?"
"Tahu ... orang aneh tuh, heran gue hari ini banyak banget orang yang aneh!"
"Aneh gimana? Emang ada orang yang aneh selain lo Ce? Yang bilang bakal marah marah sama Irsan, eeh lo masih sosor juga tuh laki."
"Apaan sih, itu kan kemaren gue mabok Nit! Lo ih ... Malah ngingetin gue."
Nita tergelak tanpa mengubah pandangannya pada ruas jalan, "Itu sih lo nya aja yang bego. Udah cinta masih aja banyak masalah, kalau udah punya pacar tih lo harusnya bahagia, tuh kayak si Nia ... Jadi Dini juga dan bahagia sampe sekarang masih aja di singapura dan gak balik balik. Gak inget sama kita apa ya?"
" Nggak tahu gue juga heran! Mungkin dia sibuk ngurusin baby. Email gue aja kagak di bales bales."
"Emang anjim tuh orang. Eeh kenapa malah ngomongin dia, kita kan lagi bahas masalah lo. Gimana lo udah baikan sama dia terus tuh nenek lampir apa kabar?"
"Lu tau nggak mas! ibunya Irsan tiba-tiba aja datang dan minta maaf ke gue, dia bilang dia mau nerima gue dan masa lalu gue, sementara semalem dia hina gue habis habisan. Mana bawa bawa keluarga pula. Gimana gue gak emosi coba. Gue yakin kalau ini cuma sandiwara. Dan lo tahu apa yang lebih bikin heran. Tuh mobil buat gue. Dan lo tahu dari siapa? Carl. Nit ... Si Carl!"
"Hah?"
"Hah hoh hah hoh lo! Gue cerita panjang lebar lo malah ngelag." Cecilia menoyor kepalanya dengan kesal.
"Eh ... Magsud gue ya lo terima aja. Bukannya itu bagus kan. Itu mau lo kan? Masalahnya apa coba kali aja dia dapet hidayah atau kejedot gitu palanya." Nita terkekeh, melirik sebentar lalu kembali melihat ruas jalan yang dilaluinya.
" Ya nggak gitu juga. Lo tau nggak kemarin gue seharian nangis sampai mata gue bengkak kayak gini mana jadi gini kan mata gue. Anjim banget!" Cecilia melihat kedua matanya dari pantulan kasa spion.
"Ya itu kan resiko jatuh cinta, lo kayak nggak tau aja!"
"Emang gue nggak tahu kalau sakitnya parah banget, apalagi sampai dihina dina sama orang tua, bukannya gue gak berani ngelawan tapi apa iya gue ngelawan orang tua dari pacar gue?"
Mobil akhirnya memasuki gerbang universitas, Nita memarkirkan mobil di tempat yang telah disediakan khusus untuk mahasiswa.
"Lah ... Emang lo nya aja yang jadi lemah, gara gara cinta pasti."
"Emang lu tahu ya?"
Nita mematikan mesin kendaraannya, lalu menoleh ke arah sahabatnya itu. "Gue kagak tahu juga! Gue taunya ada duit ada sayang, Ada duit cinta bisa di atur. Dah ayo,"
"Emang lo sahabat gue sepemikiran dan sepenanggungan, tapi gue udah mau ke surga lo masih di neraka Nit." Cecilia terkekeh lalu dengan cepat keluar sebelum Nita mengamuk.
Benar saja, Nita segera menyusulnya keluar dan melemparkan kamus tebal bahasa inggris ke arah Cecilia. Dia melemparkannya namun tidak sampai mengenainya.
"Anjim lo, sialan punya sahabat kayak lo!"
Cecilia masih tertawa dengan melihat kearah Nita, hanya dengannya saja sepertinya dia bisa kembali tertawa lepas tanpa memikirkan apa apa.
"Nilai lo gue kasih D karena berani lempar gue,"
Nita berjalan mengambil kamus miliknya lalu mengejar Cecilia. "Mana bisa begitu anjim. Lo lupa siapa yang ngerjain tugas tugas lo selama ini."
"Ya ... Gue inget, jadi gue kasih lo D+ ya."
"Sialan lo, mentang mentang asisten dosen, awas aja kalau lo gak becus bawain materi dan minta bantuan gue!"
.
.
Othor mau kasih 1 bab lagi nanti, so kasih othor like dan komen juga dukungannya yang banyak pula yaa. Wkwkkk.. Kangen Nita si somplak. Emang kalau ada dia, Si cece bisa tawa tawa gila lagi yekaaan.