I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab. 177(Apa yang bisa dibanggakan)



Malam dengan rintik hujan yang semakin deras Irsan membawa Cecilia kembali pulang ke apartemen. Tidak ingin lagi berpisah dengan seseorang yang dia cintai, terlebih seseorang yang paling mengerti dirinya. Alih alih menyetujui ide Cecilia yang dia anggap ide paling bodoh itu, dia justru semakin tidak ingin membawanya masuk ke dalam unit apartemen miliknya melainkan unit lain. Dia tidak ingin menambah perdebatan antara ibu dan gadisnya itu. Dua wanita yang dia sayang dan hormati saat ini.


Apa yang dikatakan Cecilia dianggap angin lalu olehnya, suara sumbang dari seorang gadis yang tengah dipengaruhi minuman alkohol, suara yang tidak mungkin bisa dia minta pertanggung jawabkan, hanya ucapan belaka. Dan Irsan tidak mau ambil pusing dengan ucapannya itu.


"Kamu gak percaya aku bisa melakukannya?" tanyanya saat mereka memasuki lift.


Irsan tidak menjawab, dengan terus menggenggam tangan Cecilia dan juga menekan tombol bernomor lima pada lift.


"Lho ... Kok lantai 5? Oh aku tahu, kau tidak percaya aku bisa melakukannya, aku akan bersikap baik pada ibumu, aku juga bisa meluluhkan hatinya, aku yakin bisa. Aku ingin hubungan kita di restui." ujarnya lagi meyakinkan.


Tak sedikitpun Irsan menjawab perkataan Cecilia, dia sangat yakin Cecilia mampu melakukan apa saja demi tujuannya, tapi sifat ibunya yang keras akan selalu berbenturan dengan sifatnya yang pembangkang, fikiran mereka tidak akan sama, persis seperti hubungannya dengan ibunya selama ini.


"Malam ini kau tidur di apartemen Ines, dia baru saja pergi keluar kota dan apartemennya kosong! Aku akan bicara pada ibu terlebih dahulu. Jangan melakukan apapun yang akan membuat hubunganmu dan ibu semakin rumit." tukas Irsan yang menarik pergelangan tangan Cecilia saat pintu lift terbuka.


"Ish ... Padahal aku yakin bisa melakukannya."


"Istirahatlah, bukankah besok kau harus kuliah dan kau banyak memiliki tugas. Kerjakan saja itu, kau punya tanggung jawab baru sebagai asisten Dosen."


Cecilia menepuk jidatnya sendiri, dengan terus melangkah menyamai Irsan. "Mampus! Tugas Asisten Dosen." seketika Cecilia menoleh menatap wajahnya, "Kamu tahu aku jadi asisten dosen?"


"Bukankah kau sudah mengatakannya padaku?"


"Ah ... Iya, aku lupa!"


Keduanya berjalan ke arah apartemen milik Ines, lalu masuk ke dalamnya.


Irsan langsung berjalan mengambil kotak obat, membawa aspirin lalu juga segelas air.


"Minumlah, ini akan meredakan efek alkohol."


"Aku gak mau! Kalau aku minum itu, yang ada aku gak bisa tidur."


Irsan menghela nafas, bukan sesuatu yang mudah memang merubah kebiasaan yang selama ini menerap dalam diri Cecilia. "Kalau begitu tidurlah!"


Baru saja mengatakan hal itu, namun Cecilia sudah langsung menghempaskan tubuhnya diatas sofa dengan memeluk bantal.


"Aku bersukur karena kamu masih mau cari aku, selama ini jangankan ada yang nyariin, khawatir sama aku aja gak ada kecuali si Nita yang suka ngebacott." lirihnya pelan dengan kedua mata semakin meredup.


Irsan yang masih berdiri itu semakin terpaku ditempatnya, lalu dia melangkah dengan menghampirinya dan duduk di tepian sofa. "Tidurlah, jangan banyak fikiran."


"Jangan marah marah sama ibu, bicaralah baik baik!" gumamnya lagi disertai dengkuran halus yang kini terdengar.


Irsan membelai rambutnya dengan lembut, bagaimana bisa di dalam kondisinya yang masih belum di terima dia masih memikirkan ibunya.


Irsan menekan nomor 3 dimana unit yang kini ditempati Ibunya, entah apa yang ada di fikiran ibunya saat mengusir Cecilia seperti itu.


Ting


Lift terbuka, Irsan keluar dan mengayunkan kedua kakinya menuju unitnya, melewati lorong panjang yang kini telah sepi, Irsan menghela nafas oanjang sebeluk akhirnya dia masuk ke dalam unit itu. Membuka pintu dengan perlahan lahan lalu masuk.


Sosok suster dia lihat tertidur di sofa, sedangkan Toni mungkin kembali ke rumahnya saat ini. Irsan membuka pintu kamar dan melihat ibunya tengah tertidur dengan lelap. Wajah yang mulai berkeriput terlihat jelas walaupun segala perawatan dia lakukan dengan rutin pastinya, wajah penuh kenangan buruk di masa lalu, namun tetap saja. Bagaimanapun kerasnya perdebatan mereka, Irsan menyayangi ibunya.


Irsan duduk di tepi ranjang, masih menatap wanita paruh baya yang melahirkannya ke dunia, wanita yang dia panggil ibu selama 40 tahun. Wanita keras yang tidak mudah diyakinkan, juga wanita mandiri yang selama ini hidup sendiri.


Helaaan nafas panjang dari Irsan saat menatapnya sendu, membayangkan sifat ibunya yang tidak akan pernah mengerti dirinya. Menjadi tidak tega untuk membangunkannya hanya karena ingin membicarakan apa yang terjadi. Sampai Irsan kembali bangkit dan beranjak pergi.


"Nak?"


Suara serak sang ibu menghentikan langkahnya, dia kembali menoleh dan melihat ibunya yang kini menatapnya juga.


"Kau kemari untuk bicara pada ibu tentang gadis kurang ajar yang ibu usir?" Tukas Embun menyulut emosi.


"Kenapa ibu melakukannya? Tempat ini sudah aku berikan padanya, ibu tidak punya hak mengusirnya seperti itu."


Embun berdecih, "Kenapa dia selalu mengadukanku padamu!"


"Dia tidak mengadu bu!"


"Sudahlah, apa kita akan terus berdebat tentang gadis seperti dia? Dimana harga dirimu Irsan, memiliki hubungan dengan gadis seperti itu! Kau ini dokter dan lulusan terbaik. Tapi seleramu sangat kampungan!"


"Sekarang ibu mempersoalkan hal itu? Apa ibu tidak pernah berfikir tentang perasaanku." Irsan semakin naik pitam saja, ibunya lebih keterlaluan sekarang, bukan hanya merendahkan, dia juga menghina harkat dan martabat seseorang dari tempat dia berasal.


"Apa yang bisa dibanggakan darinya?" ujarnya mengambil sesuatu dari dalam laci lemari disamping ranjang lalu melemparkannya pada Irsan.


"Seorang pelacurr!" sentak Embun dengan marah. "Kau membuatku malu Irsan, kemana standar hidupmu, kau memiliki hubungan dengan seorang peelacur dan membelanya seperti ini!" sentaknya lagi.


Irsan tentu saja terhenyak, informasi dari siapa yang ibunya dapatkan itu.


"Untuk apa semua prestasi dan keunggulanmu yang kau sombongkan itu, bahkan kau menolak pergi ke perusahaan demi kedokteranmu. Tapi justru kau berakhir dengan seorang pelacurr yang akan merusak reputasimu sendiri Irsan! Apa tidak ada yang lebih baik darinya? Apa kau putus asa sampai memilihnya? Apa kau sudah gila. Hah" Embun memberondongnya dengan banyak pertanyaan disertai suara sentakan keras. "Cinta! Cih ... Ucapan gadis kurang ajar yang membuatku muak! Berapa kau membayarnya selama ini, bahkan memberinya apartemen! Sudah gila kau ini." serunya lagi tanpa memberikan kesempatan bicara. "Pantas saja dia menolak tawaranku, karena dia pasti ingin memiliki semuanya! Dasar sampah."


"Ibu tidak berhak mengatakan semua ini, ibu tidak mengenalnya, ibu tidak tahu apa apa tentang siapa dia dan alasan apa dia melakukannya." sahut Irsan dengan tegas, "Lebih baik ibu kembali ke singapura, aku tidak ingin terus berdebat denganmu. Apalagi tentang masalah pribadiku. Aku sudah dewasa untuk menentukan hidupku sendiri! Kalau ibu tidak merestuinya, setidaknya ibu tahu kalau kami saling mencintai."


"Kau!"