I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.264(Itu ngode namanya)



Irsan terhenyak, dia langsung menoleh ke arah dua wanita yang tengah berbisik bisik pelan itu. Dan ucapan terakhir dari Cecelia yang sulit dia cerna.


"Apa kau bilang?"


Cecilia terkesiap, terutama Ines yang menggigit bibirnya tipis dengan menatap sepupunya yang setengah berteriak. Irsan beralih menatap Ines dengan tajam.


"Benarkah yang istriku katakan. Hm ... Jawab Ines?"


Tristan mengulas senyuman, melihat Ines menggemaskan kala dia gugup, Benar benar tidak berubah.


"Senior sudahlah. Jangan memaksakan dia seperti itu. Dia akan tertekan dan bisa bisa asal menjawab saja saking takutnya padamu." tukas Tristan terkekeh. "Lagipula itu hanya masa lalu, sudah puluhan tahun yang lalu. Kita sudah berbeda!"


Cecelia berdecih mendengarnya lalu menendang kakinya keras. "Gak usah sok sok an lo!"


Tristan terkekeh dengan mengangkat kedua bahunya ke atas secara bersamaan. Sementara Ines menatapnya tajam dengan mulut berdesis tidak jelas.


Irsan menatap keduanya, sesungguhnya dia tidak tahu apa yang harusnya dia lakukan, melihat keduanya yang juga tidak jelas. Apalagi dia yang tidak mengerti apa apa soal cinta.


"Ya sudah ... Kau fikir aku juga masih berharap padamu? Jangan mimpi ya Tris."


Tristan berdecak "Kau bahkan masih memanggilku dengan sebutan yang sama, tapi tidak mau mengaku juga."


"Jangan sembarangan bicara yah, itu kan memang nama. Siapapun akan memanggilmu dengan begitu, dasar monyet!"


Tristan tergelak lagi, "Kau bahkan masih ingat julukanku. Kau selalu memanggil monyet kalau kau marah padaku."


Ines mendengus. Cecilia apalagi, dia menatap Irsan yang juga menatapnya dengan mengiba. Seolah mengajaknya pergi dari sana dari pada pusing tujuh keliling mengurus cinta lama yang belum selesai.


"Kau bilang apa? Aku sama sekali tidak mengingat hal itu, sedikitpun ya ... Maaf!"


"Hadehhh kalian ini kayak anak sekolahan aja deh, perasaan aku gak gini gini amat deh, ya kan sayang?" Cecilia bangkit dari samping Ines dan pindah di sandaran lengan sofa yang di duduki Irsan.


"Sudah aku bilang lebih baik kita pergi!"


"Tapi kalau gak di bantuin, mereka pasti terus berdebat masa lalu sayang."


Irsan menghela nafas, kali ini dia menyerah saja dan menyerahkan semuanya pada sang Istri. "Kalau begitu terserah kau saja, aku tidak mau mengurusi urusan seperti ini."


Cecilia mengguyel kedua pipi Irsan, "Iihhh ... gemesnya aku. Katanya aku suruh diam tapi kau sendiri gak bisa handle."


Tristan dan Ines menatap keduanya yang bersikap semanis itu, lalu saling melirik dengan Tristan yang menaik turunkan kedua alisnya berulang kali.


"Iihhh!" desis Ines tak peduli.


Kini Cecilia menoleh pada keduanya yang masih sama sama terdiam, "Oh ya ... Kalau dirasa udah selesai, kita mau pergi ke bioskop. Ya kan sayang? Katanya ada film romantis terbaru."


Irsan menatapnya, dia bahkan tidak pernah membicarakan soal bioskop apalagi film baru, "Hey aku tidak---"


"Udah iya aja! Aku pengen tahu mereka gimana!" bisik Cecilia pada Irsan yang belum mendapat kolingan sama sekali, susah memang pria itu dengan kode kode seperti itu.


"Ah ... Ya, film itu!" Irsan mengangguk anggukkan kepala walau dia sendiri tidak tahu film mana yang dia bicarakan.


"Film tentang dua orang yang mengalami perjalanan yang sulit dan mereka saling jatuh cinta itu kan?" tukas Tristan.


Cecilia menoleh ke arahnya, dari tatapan matanya saja dia bisa tahu dengan mudah jika Tristan hanya menyampar umpan yang dia sebar.


"Kau tahu itu!! Ah kebetulan sekali! Bagaimana kalau kita nonton bareng, bagaimana ... Gimana sayang? Ide bagus kan, lupakan masa lalu, lupakan mobil yang rusak, lupakan semua. Ayo kita bersenang senang hari ini."


Irsan menggelengkan kepalanya, sikap Tristan tidak jauh berbeda dengan Cecilia. "Kau ini, itu kan mau mu? Lari dan kesalahan dan tidak bertanggung jawab."


"Sayang ... Aku gak lari, ngapain ... Capek tahu. Aku memang yang eksekusi, aku yang ngelakuinnya, tapi otaknya ada di Kak Ines. Iya kan kak?" Cecilia dengan sengaja melimpahkan semua kesalahan pada Ines.


Ines mengerjapkan kedua matanya, dia memang yang lebih dulu kesal dan marah juga ingin melakukan sesuatu, tapi ide itu datang dari Cecilia.


"Aku yang salah, tidak perlu lagi mempermasalahkan mobil itu ya!" tukas Tristan mengedipkan satu matanya pada Cecilia.


"Sayang ... Gak apa apa, dia mah bukan genit, tapi ngode."


"Ngode ... Apa ngode?"


"Nanti aku ceritaain, ini bakal seru. Tristan sepertinya hanya ingin godaain kak Ines doang."


"Aku tidak mau! Untuk apa dia hanya menggoda saja."


Cecilia memukul dadanya pelan, "Iihh ... Masih aja gak ngerti, maksudnya bukan godain seperti itu, tapi cuma kayak bercandain aja gitu. Ngerti gak sih! Pasti gak ngerti kan!"


Irsan mengangguk anggukan kepalanya pelan, "Ya ... Ya ...!"


"Ya udah ... Kamu diam aja, kayaknya Tristan lebih seru."


"Ya ... Dia sepertimu! Banyak tingkah dan banyak bicara!" tukas Irsan dengan sedikit mendengus menatap Tristan.


Hanya Ines yang tidak mengerti dengan apa yang mereka tengah diskusikan pelan pelan.


"Tapi kalau kita nonton bareng, nanti ada yang marah gak, aku gak mau ya kalian berdua disangka selingkuhan," tukas Cecilia menunjuk Ines dan Tristan kemudian menunjuk dirinya sendiri juga Irsan. "Aku gak mau yaa aku dan suamiku disangka pendukung tukang selingkuh nanti!"


"Kau bilang apa? Jangan mengada ngada mengatakan selingkuh, tidak sudi aku dengannya!" tukas Ines masih jual mahal. "Pacarku pasti akan salah faham kalau kita pergi sama sama."


"Oh ... Jadi kak Ines mau pergi berdua aja! Oke juga kalau gitu." celetuk Cecelia yang menggoda sepupu Irsan itu.


"Maksudku bukan begitu!" sentak Ines dengan kedua tangan yang melambai lambai. "Lo ih...." memukul Cecilia keras.


Cecilia tertawa, "Dih kenapa salting gitu kak Ines, biasa aja padahal ..."


Irsan menggelengkan kepalanya, sementara Tristan tergelak melihat Ines yang salah tingkah.


"Vannes ...?" lirihnya memanggil.


Ines menoleh, persis seperti waktu mereka berada di sekolah, suara yang sama dengan nada yang sama dan orang yang sama pula.


"Ya ...?"


Keduanya saling menatap dengan Tristan yang mengulas senyuman dan Ines yang malu malu. Sementara sepasang suami istri saling menyenggol lengan, lebih tepatnya Cecilia yang terus menyenggol Irsan. Irsan yang tidak paham hanya diam saja dan tetap datar.


"Ya ampun sayang ... Mereka sweet banget yaa, aku jadi ngebayangin mereka dizamannya sekolah. Pasti lebih sweet dari ini. Kak Ines pasti cantik banget,"


"Kita belum pastikan, apa Tristan punya pacar atau bahkan pria beristri!" cicit Irsan.


"Heh ... Kau yang bilang akan menjodohkan mereka, kau sendiri yang ragu. Pokonya gak apa apa, aku bakal bantu kak Ines buat rebut Tristan dari pacarnya,"


"Kalau punya Istri. Kau mau bantu juga? Bagaimana kalau aku yang direbut orang?"


Cecilia bangkit dari duduknya. "Eeeh ... Aku gak akan biarin itu terjadi! Enak aja, siapa yang berani rebut. Jangan macem macem."


Ines tersentak kaget, begitu juga dengan Tristan.


"Itu hanya contoh, kalau ternyata Tristan memiliki Istri bagaimana?" tukas Irsan dengan suara keras hingga kedua orang yang tengah saling malu malu itu kembali. Terhenyak.


Ines menoleh ke arah Tristan dengan raut wajah yang sulit di artikan.


"Kau sudah punya istri?"


.


.


Dah tahu punya laki kayak.tiang listrik, diajak sekongkol. Ya susaaaah Ce... Wkwkwkwk. ....


Aaahh ... Kangen Cecelover aku tuh tiba tiba, karena jarang bales komen ya maafkan. Lope lope segede gaban pokoknya buat kalian.