
Cecilia dibawa masuk ke dalam mobil, entah akan dibawa kemana dia oleh sang suami. Alih alih langsung memberikannya kejutan, Irsan malah memberikan kejutan yang tidak dia sangka sebelumnya. Untuk berapa lama kendaraan itu terus melaju, membelah jalanan yang terjal dan berbatu sampai beberapa kali bergucangan tanpa dapat melihat.
"Sayang, kok horor sih! Aku kayaknya dibawa kemana ini, hutan, air terjun pengantin jangan jangan. Atau sungai amazon? Cape banget deh ah."
"Kita sebentar lagi sampai, bersabarlah."
Dan benar saja, sesaat kemudian mobil akhirnya berhenti melaju, lagi lagi Irsan menuntun Cecillia untuk keluar dari mobil dan membawanya berjalan kaki beberapa lagkah.
Terasa angin sangatlah kencang, bertanda mereka berada di daerah yang cukup tinggi.
"Ah .. Aku tahu, apa kita akan berkemah? Kenapa harus kemah segala, kita bisa di hotel sayang." ujar Cecilia yang terus berpegangan pada suaminya.
"Ini akan seru, kau siap?"
Irsan akhirnya membuka slayer yang menutupi kedua mata Cecilia, perlahan maniknya mengerjap saat melihat di sekelilingnya.
"Astaga ..."
"Bagaimana menurutmu? Kau suka?"
"Sumpah ini cantik banget, tapi kenapa kamu bisa kefikiran pergi ke sini.' ujarnya dengan tatapan yang berbinar.
Satu set meja beserta dua kursi yang terbuat dari kayu mahoni, berada di tengah tengah, dengan menghadap pemandangan yang menakjupkan. Hampir seluruhnya memperlihatkan bukit dan gunung yang sangat cantik, hamparan hijau dan juga pohon pohon pinus yang lebat.
"Udah kyak dimana aja sih ini,"
"Jadi tidak perlu ke luar negeri kan. Hm?"
Cecilia mengangguk, sejak dulu hanya terbiasa keluar masuk mall dan hotel, tidak pernah sekalipun terpikirkan jika ada pemandangan seindah yang di lihat sekarang. Dari sisi manapun, tempat itu begitu luar biasa, suara angin, suara daun daun pinus dan segarnya pandangan saat melihatnya.
"Kita serius makan di sini?"
Irsan mengangguk, pertunjukan yang sebenarnya akan di mulai saat langit nanti berubah warna. Cecilia mengambil ponselnya untuk mengambil gambar. Dan setelah berkali kali mengambil gambar Irsan menangkup tangannya yang sibuk berswafoto.
"Sayang! Aku lagi foto dong ah!"
Irsan menggelengkan kepalanya lalu mengambil ponsel Cecilia dan dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Sejak dulu aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, kamar bedah, ruang operasi, pasien, darah, obat, segala macam sampai aku tidak tahu yang lainnya.. Begitu juga denganmu, bukankah kita sama sama tidak pernah menikmati hidup seindah ini, menikmati apa yang terjadi di sekitar kita karena sibuk dengan urusan kita masing masing. Itu yang aku rasakan sejak menikah denganmu dan itu juga yang jadi alasan aku kenapa aku tidak marah saat kau menukar sim card milikku." terang Irsan,
"HAH" Cecili sampai hampir tidak percaya, Irsan yang tidak peka dan tidak peduli hal hal sepele seperti kebanyakan orang lain kini berbicara sangat manis. Dengan kata kata yang begitu menyentuh. Bukan hanya berkaca kaca saja, hati Cecilia kini terenyuh mendengarnya.
"Kamu benar, aku tidak pernah sekalipun menikmati hidupku, aku terlalu memikirkan gimana cara nya hidup enak dan mewah, tapi aku tidak menemukan kenikmatan saat mendapatkannya. Iya kan? Tapi kamu beda, kamu kan gak ngejar harta, tapi kamu itu di bidang kemanusiaan, apalagi bagi keluarga pasien yang sudah kamu tolong, ibarat kata kamu itu dewa bagi mereka. Iyakan?"
"Ya .. Mungkin itu benar, tapi ada kalanya juga merasa bersalah karena tidak bisa membantu mereka,"
Obrolaan seriuse tetang kehidupan dengan arti yang sangat dalam, keduanya mungkin berada di dunia yang bertolak belakang, dan kini keduanya sama sama berada di satu dunia dengan tujuan yang sama, hidup seakan sempurna ketika seseorang datang dengan segala kelebihannya daan mampu menutupi kekurangan kekurangan kita, begitu juga sebaliknya.
langit sudah mulai berubah, warna biru dan abu yang kian memudar mulai berubah menjadi jingga dan orange yang begitu indah, sampai Cecilia terperangah melihatnya.
"Kau tidak pernah melihat Sunrise?"
Cecilia menggelengkan kepalanya, dia memang tidak pernah melihat nya sebelum ini, "Aku kan udah bilang, aku dulu jam segini sibuk gak tahu dimana dan gak pernah merhatin langit berubah, mau siang mau malam sama aja, bahkan buat ku jadi kebaikannya."
Irsan menggenggam tangannya dengan lembut, "It's oke ... Semua sudah berakhir dan kamu udah bahagia sekarang ada di sini "
"Ya ... Sama kamu." ujarnya dengan terkekeh. "Katanya gak bisa romantis, tapi ini sweatt banget sih. Gemes kan jadinya."
"Ya ... Aku hanya bisa seperti ini hanya padamu saja!"."
Cecilia mengangguk, "Itu lah bedanya Mas Dokter dengan yang lain, kamu itu susah ditebak. lagian siapa yang ngajak istrinya honeymoon seperi ini, untung saja aku suka segala yang kamu tunjukkan. Aku juga suka semua sifat langkamu ini." ujarnya dengan mencubit pipi Irsan dengaan lembut.
Tak berselang lama Ceciia mendekatkan wajahnya untuk mengecup bibir Irsan dengan begitu lembut, dan berbalas pagutaan dari irsan.
Keduanya hanyut dalam ciuman hangat di langit sore dengan semburat orange menjadi penghiasnya. Dan seseorang yaag berada di belakang mereka siap mengabadikan kebersamaan mereka dalam goresan tinta cat acrilic.
Ya ... Seseorang yang tengah melukis hamparan langit yang berwarna orange dengan bukit bukit di sebelahnya yang tampak indah, dan tak lupa sepasang suami istri yang tengah duduk saling berciuman. Kuas bergerak sesuai ritme sang pelukis yang tampak profesional. Hingga kanvas putih polos kini berwarna indah dan terlihat penuh cinta.
Cecilia menoleh kearah pelukis dengan kuas menari nari.
"Ya ampun. jadi tadi tuh kita... Dilukis?"