I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.111(Tidakkah mengerti)



"Aku tidak ingin mendengar apapun alasanmu Cecilia. Kau sudah memutuskan pergi, dan aku tidak akan melarangmu."


Ting


Lift terbuka di lantai 3, Irsan keluar dan meninggalkan Cecilia yang hanya bisa menelan saliva, bagaimana bisa seorang pria mengabaikannya begitu saja. Dan hanya Irsan yang bisa.


Cecilia juga tidak senekad itu mengakhiri hidupnya yang indah dengan cara konyol melompat dari atas gedung, bisa bisa tubuh seksi dan dan kecantikan paripurna miliknya menjadi hancur, dia hanya melalukan sedikit ancaman. Dan nyatanya, Irsan tidak peduli.


Mending kalau gue langsung mati, lah kalau masih hidup. Yang ada gue cacat seumur hidup. Batinnya kemudian dia bergidik.


Cecilie memutuskan ikut keluar di lantai 3, dia mengikuti Irsan yang berjalan dan dia juga pantang menyerah.


"Kenapa kau masih mengikutiku. Bukankah kau berencana melompat dari atas gedung ini dan bu nuh diri?"


"Gak jadi, setelah ku fikir fikir ... sayang banget, nanti tubuhku yang seksi ini remuk redam hancur berserakan." selorohnya dengan enteng.


Irsan hanya mendengus, dia sudah paham jika Cecilia hanya menggertaknya saja.


"Kalau begitu pergilah! Bukankah kau sibuk dengan duniamu sendiri?"


"Duniaku? Setelah ku fikir fikir, kamu lah duniaku." sahutnya dengan menyibakkan rambut panjang hitamnya.


Irsan hanya berdecih saja, "Selain uang dan kemewahan. Kau juga tidak tahu malu."


"Ya ... Ya ... Anggaplah begitu. So kamu mau kan maafin aku, ya aku tahu, gak bakalan cukup cuma minta maaf aja. Tapi kau juga tahu kan alasanku melakukannya." ujarnya dengan merengut. "Dan aku sungguh sungguh kali ini."


Irsan menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Cecilia yang berjalan di sampingnya, pria itu menoleh dengan tatapan yang sulit di artikan sementara Cecilia hanya mengulas sedikit senyuman.


Irsan mendengus kasar, lalu kembali mengayunkan kedua kakinya menyusuri lorong menuju unit miliknya.


Entah harus kecewa atau menyesal karena telah menjatuhkan hati pada gadis yang bahkan tidak terlihat menyesal itu, tapi gadis itu justru membuatnya bingung.


"Kau tidak menyesal berbuat seperti itu Cecilia?"


"Enggak. Aku lebih menyesal kalau gak lakuin itu. Hanya orang bodoh yang diam saja saat ada orang lain yang menyepelekan dan gak menghargai, anggap aku menjual jasa, lalu aku di buang." Cecilia berdecak, "Lalu di ambil lagi." ujarnya kemudian.


Deg


Ucapannya membuat hati Irsan teriris, dia pernah melakukannya, menjadi orang bodoh yang hanya diam saat wanita yang dia cintai dan dia harapkan jadi teman hidupnya pergi dengan pria lain. Dia hanya diam tanpa melakukan apa apa. Kecewa pada diri sendiri dan bahkan tidak bertanya sedikitpun alasan apa ia melakukannya. Meninggalkan dirinya tanpa kejelasan.


Irsan berhenti di depan pintu unit miliknya, dan Cecilia berdiri sejajar denganya. Hal yang dia lakukan hanya mengikutinya sampai Irsan mau mendengar semua alasannya dan memaafkannya.


"Kamu gak keberatan kan kalau aku ikut masuk, ini udah malem dan aku gak punya tempat tinggal."


Irsan tidak menjawab apa apa, dia tengah sibuk dengan fikirannya sendiri, sosok Cecilia yang hanya bersikap apa adanya, jujur dan tidak menutupi jati dirijya sedikit membuka sisi gelap yang dia sulit ungkapkan. Prianitu membuka password dan membuka pintu, lalu masuk. Cecilia pun merangsek masuk dengan cepat karena takut kembali diusir atau bahkan di dorongnya keluar.


Tidak tahu malu memang, tapi itulah Cecilia dengan segala ke unikannya.


Irsan membuka jaket yang dikenakannya, lalu duduk di sofa dengan menopang kaki kiri di atas kaki kanannya. Diikuti oleh Cecilia yang melakukan hal yang sama persis di hadapannya.


Irsan menghela nafas dengan terus menatapnya, itu juga yang dia lakukan. Menghela nafas dengan terus menatapnya.


Pria itu mengganti kaki yang di topangnya, lalu merogoh ponsel miliknya, Cecilia juga melakukan hal yang sama, dia merogoh ponsel milik Sila yang belum sempat dia kembalikan.


Dia kembali menyimpan ponsel di atas meja, Cecilia melakukan hal yang sama. Pria itu berdecak lalu berdiri dengan kedua tangan dia masukkan ke dalam saku celana, begitupun Cecilia.


"Kau benar benar gila Cecilia."


"Yes ...I'm!"


Irsan tidak henti hentinya berdecih melihat kelakuannya yang berbeda, jika gadis lain mungkin akan menangis sambil terus memeluk dan mengatakan hal hal manis yang membuat pria luluh agar tidak meninggalkannya. Kenapa dia sangat berbeda, seperti dirinya yang tidak akan melakukan hal yang sama jika dia di tinggalkan wanita.


Irsan membuka kancing kemejanya satu persatu, begitu juga Cecilia yang perlahan namun pasti menaikkan atasan yang dikenakannya.


"Kau." Irsan tidak percaya juga Cecilia mengikutinya dengan membuka pakaiannya, "Apa yang kau inginkan Cecilia!" Melempar kemeja ke atas sofa.


"Aku ingin di sini."


"Kalau begitu tinggallah disini!"


Cecilia tentu saja terkesiap, keduanya matanya bahkan terbeliak tak percaya. "Kaa--."


"Aku yang akan pergi dari ini. Jadi kau tenang saja."


"Bu--- bukan itu, maksudku kau mau kemana?"


"Kau tidak perlu tahu. Hubungan kita sudah berakhir." tegasnya dengan sorot mata tajam. "Kau bisa hidup tenang dengan melakukan apa yang kau sukai. Tidak usah memaksakan diri Cecilia, terus hiduplah begitu. Aku tidak akan lagi memintamu untuk berhenti."


Irsan kembali menyambar kemejanya, wajahnya kian memeperlihatkan kekesalan yang tiada tara, dan melangkah menuju kamar.


Namun Cecilia dengan cepat menyusulnya dan memeluk dirinya dari belakang.


"Jangan pergi! Aku minta maaf."


Sepersekian detik, Irsan terpaku ditempatnya dengan Cecilia yang memeluk erat dirinya dari belakang. Perlahan lahan dia mendengar isakan lembut dari gadis setengah gila yang tidak memiliki penyesalan apapun.


"Aku tahu yang aku lakukan itu salah, tapi ... Tolong jangan pergi!" lirihnya.


Otot otot ditubuhnya meregang perlahan saat mendengar isakannya, juga ucapannya yang seakan meleburkan kemarahannya begitu saja.


"Tolong jangan tinggalkan aku sendirian. Aku mohon!" Isak tangis Cecilia semakin terdengar jelas, teramat memilukan. "Aku memang gila, dan aku akan semakin gila kalau kau pergi juga Irsan. Aku mencintaimu."


Runtuhlah sudah kemarahan Irsan, menguap begitu saja tanpa bisa dia cegah. Kepalanya sedikit menunduk saat hatinya merasa sakit ketika mendengar ucapan penuh permohonan dari seorang gadis padanya.


Irsan membalikan tubuhnya, menatap Cecilia yang kini menundukan kepala dengan bahu naik turun dan menangis. Air mata kelemahan dan sekaligus menjadi kekuatan bagi seorang wanita.


"Tidaklah kau mengerti juga Cecilia, level tertinggi dari mencintai adalah menerima, terlebih dengan semua masa lalu terburuk sekalipun. Hem? Tapi kau masih melakukannya, tidak kah kau paham maksudku Cecilia? Aku mencintaimu dengan semua yang ada dan terjadi pada dirimu saat ini, kemaren dan bahkan masa lalu mu?"


"Maaf!!"


.


.


...Aaahh Abang tiang bikin othor deg deg ser di pagi hari ... So sweet banget sih kamyu. Tiang nya siapa siih? Wkwkkw. ...