
Sila akhirnya mengangguk, toh dia juga tidak bisa menolak apalagi mengembalikan uang yang sudah dipakainya itu. Melihat hal itu, Cecilia mengulum bibir.
"Sekarang gue pengen lihat lo praktekin keahlian bermake up lo."
Sila melongo, tapi juga dia mengangguk. Cecilia bangkit dan berjalan ke arah lemari. "Lo boleh pake make up gue,"
Tak berselang lama, Sila pun duduk di meja rias dan mulai merias wajahnya sedemikian rupa. Sementara Cecilia memilih pakaian yang cocok.
"Gue rasa ini cocok!" ujarnya saat menemukan pakaian yang dia beli setahun yang lalu, modelnya simple, dress hitam yang memamerkan sebagian bahu dan juga setengah punggungnya itu.
Sila juga sudah selesai memakai riasan, dan membuat Cecilia berdecak kagum dengan kemahirannya.
"Gak salah gue milih lo!" ujarnya dengan menyodorkan pakaian padanya. "Bener bener cocok!"
"Kak! Ini beneran cuma kerja angguk angguk kepala kan? Bukan yang lain?"
"Ya iya lah, emangnya yang lain apa!" Cecilia mengayunkan kaki ke tempat penyimpanan sepatu, rasanya dia masih menyimpan sepatu lamanya di sana.
"Lo gak bakal jual gue ke om om kan?"
Uhuk
Cecilia menoleh dengan kedua alis bertaut, lalu tergelak. "Lo emang mau gue jual! Bakal untung gede gue kalau lo mau, lo masih Virgin kan?"
"Gue serius kak!"
"Gue dua rius! Kesempatan itu bakal ada kalau lo mau! Tapi buat sekarang. Gue belum kefikiran jual lo. Mungkin nanti." ucapnya kembali terkekeh, dia mengambil sepatu miliknya dan membawanya ke kamar. "Nih coba yang ini! Muat gak."
Sila terbelalak mendengarnya, namun dia hanya bisa menurut saja, dalam fikirannya hanya ada uang yang harus di kembalikan kalau dia gagal, apalagi membantah setelah Cecilia memberinya uang banyak tempo hari.
"Lo beneran kak? Lo nolongin gue dan mau kasih kerjaan ternyata kerjaan begituan."
"Begitu apaan! Gak jelas." sahut Cecilia datar, dia mondar mandir mengambil barang yang dibutuhkan namun menjawab pertanyaan Sila dan tentu saja jawaban konyol darinya.
"Ya gitu! Jadi lo juga---"
Cecilia kembali tergelak, "Gitu apa? Gue juga apa sih?"
Cecilia berpura pura tidak mengerti walaupun dia tahu dengan jelas apa maksud Sila. "Sekarang lo ganti baju! Coba yang ini. Kalau semua cocok kita pergi."
Lagi lagi Sila hanya bisa mengangguk pasrah, Yang penting dia tidak mengembalikan uang yang sudah diberikan pada ibunya itu, dia memakai pakaian serta sepatu yang ternyata cocok untuknya.
Cecilia menjentikkan jari saat Sila keluar dari kamar mandi dan berdiri mematung dihadapannya.
"Coba muter ke kiri?" titahnya dengan jari telunjuk yang berputar ke kiri. Sila pun berputar mengikuti arahannya.
"Kita pergi malem ini juga, lo kabarin keluarga lo! Karena lo bakal nginep lagi di sini." ujar Cecilia yang keluar dari kamar dengan menyambar ponsel yang dia lempar tadi.
Sial tentu saja kaget, dia tidak tahu apa yang tengah di rencanakan oleh Cecilia. Terlebih tugasnya hanya mengatakan ya atau tidak.
"Cuma bilang ya atau tidak tapi gue harus dandan kayak gini!" gumam Sila menatap dirinya sendiri di cermin.
Selain Sila pandai berias, dia juga cantik dan berani, terlihat saat dia nekad mencuri alat alat make up yang bermerek terkenal.
Cecilia sudah menghubungi Irene sebelumnya, dia juga sudah memikirkan hal ini selama beberapa hari. Dan kehadiran Sila menjadi sebuah solusi terbaik agar dia juga aman.
"Perpect! Sekarang tinggal selangkah lagi. Dan gue bakal bebas, abis itu gue gak perlu tiap hari ketemu Reno dan gue dapet duit juga." gumamnya dengan terkekeh. "Si Nita kemana sih! Berapa hari gue gak tahu kabar anak itu." gumamnya lagi yang tiba tiba ingat pada sahabatnya itu. Biasanya hal hal begini selalu dia kerjakan bersama Nita, tapi sekarang justru melibatkan gadis bau kencur yang baru saja dia temui.
"Lo siap?" tanya Cecilia pada Sila yang baru saja keluar dari kamar.
"Gue emang harus siap kan? Secara gue gak bisa ngembaliin duit yang kemaren lo kasih kak!"
Cecilia terkekeh, "Gue suka ke nekad an lo Sil! Lo gak bakal nyesel, lo malah bakal terima kasih sama gue nanti."
Sila mendengus, "Terima kasih apaan lo kak! Yang ada gue kayak dijebak sama lo tahu gak. Gue dikasih duit banyak. Sengaja kan lo biar gue gak bisa ngapa ngapain."
"Tawa lo! Gue deg degan nih."
Cecilia yang masih tertawa itu memberikan sesuatu pada Sila, sebuah kartu dengan nama tertera di atasnya.
"Apa nih? Veronica C."
"Buat tugas kita sekarang, nama lo Patricia. Bukan Sila."
"Veronica? Siapa dia?"
"Pokoknya lo nanti juga gue kasih tahu biar gak kaget, buat sekarang lo cuma harus bilang iya atau tidak. Tidak itu buat pertanyaan terakhir. Lo paham kan?"
Sila mengangguk, dia memasukkan kartu sebuah bank itu ke dalam tas miliknya.
"Good girl ... Yuk pergi." ujarnya melangkah keluar.
"Kak gue deg degan!"
"Lo tenang aja, angkat kepala lo, biar semua orang tahu lo cantik."
"Kayak lo waktu di mall ya, yang nyari bapak bapak buat lo gaet." Sila terkekeh membuat Cecilia mendengus.
"Ya ... Kayak gitu lah."
"Jadi kerjaan gue gak jauh dari kerjaan lo juga."
"Udah deh! Nanti gue kasih tahu lebih banyak lagi buat kerjaan lo. Buat sekarang itu aja dulu. Itu juga bakal jadi penilaian gue."
Sila mengangguk, terus mengikuti langkah Cecilia.
***
Keduanya berjalan masuk ke dalam sebuah restoran jepang, yang memiliki ruangan ruangan terpisah dan privasi terjaga dengan baik. Dan tentu saja itu pilihan Cecilia karena tidak ingin mengundang keributan yang akan terjadi, da tentu saja memastikan Irene juga setuju akan pilihannya dengan dalih yang sudah dia susun sebaik mungkin.
Seorang pelayan mengantarkan keduanya kedalam sebuah ruangan dimana Irene sudah menunggunya lama. Wanita paruh baya itu sudah tidak bisa sabar ingin tahu siapa yang dekat dengan suaminya.
"Kak ... Kita ketemu siapa?"
"Istrinya Daddy gue." jawabnya datar, tanpa malu apalagi ragu.
"Istri Daddy? Ibu tiri lo?"
"Bukan anjim! Tapi istrinya cemceman gue."
Sila membulatkan kedua matanya, dugaannya memang benar jika Cecilia yang dia lihat di mall itu melirik pria pria dewasa.
"Terus gue?"
"Ya lo ngaku jadi gue! Lo dapet duit, dan gue aman." terangnya jujur.
"Gila lo Kak! Bener bener gila! Lo ngumpanin gue! Gue gak mau!" Sila menghentikan langkahnya.
Cecilia menarik tangannya hingga gadis itu kembali berjalan sejajar disampingnya. "Ya enggak bego! Lo cuma ngangguk ngangguk aja! Dan gue yang urus semuanya."
"Lo? Caranya?"
"Lo lihat nanti. Gue gak bakal bikin lo celaka, justru gue bakal bikin lo kaya.
.
.
Wkwkwkwk ... Ada ada aja tuh kelakukan si Cecil. Jangan lupa like dan komen yaa kalau cerita ini seru menurut kalian.