I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.290(Ikat Rambut)



...Hola Cecelover. Long time no cuap cuap yeee sama othor. Wkwkw tahu nih si othor so sibuk. BTW Othor tuh sedih tahu, ternyata Nita gak bisa di pindah ke sini ya gaes. Paling othor spill dikit dikitt aja karena ketatnya di sana....


...Dan kalau maksa di pindah takutnya othor kena pelanggaran dan di kira plagiat. So dengan penuh pertimbangan Novel Nita akan tetep di sana, untuk lanjutannya tunggu mood othor bae dulu karena ceritanya othor ini lagi pundung. Wkwkwk...


...atau bisa juga othor lanjutin dengan judul yang berbeda pokoknya othor ingfo juga nanti gimana gimananya....


...Sedih sih tapi gak ada pilihan lain. So jangan ikut ikutan pundung kayak othor yaaa kalian Cecelover. Lope lope badag buat kalian yang udah dukung othor sampe hari ini....


.


.


Saat itu juga Cecilia serta Irsan kembali melajukan mobilnya menuju sebuah tempat yang di duga tempat Toni berada saat ini. Mereka berdua tidak menyia nyiakan waktu dengan jarak yang cukup lumayan jauh, lokasi Toni yang didapatkan dengan susah payah berada di luar kota, dan kota itu hanyalah kota kecil di kaki gunung.


2 jam dalam perjalanan cukup melelahkan, Cecilia dan Irsan akhirnya tiba di sebuah alamat yang sesuai dengan yang diberikan oleh seseorang.


Cecilia terperangah saat melihat rumah kecil yang asri dan di penuhi tanaman jenis bunga, juga berbagai tanaman hias yang sepertinya dirawat dengan baik.


"Ini alamatnya udah bener kan?" celetuknya dengan terus menatap area rumah yang tampak sepi.


"Ya ... Alamat ini sudah sesuai. Ayo kita turun dan pastikan!" ucapnya dengan membuka seat belt miliknya.


Cecilia pun mengangguk, dia mengikuti Irsan yang langsung membuka pintu dan keluar dari mobil.


"Tapi ini sepi banget, apa Nita juga ada di sini?" gumam Cecilia dengan penuh harap.


"Semoga saja!"


Keduanya masuk ke dalam pekarangan, perlahan lahan menuju ke arah pintu masuk dan terdiam sesaat saat ada suara bising dari dalam.


Cecilia maju beberapa langkah untuk memastikan dan siap membuka pintu, namun Irsan mencekal lengannya dan menyuruhnya untuk mundur.


Terlihat pintu yang sedikit terbuka, hingga cahaya bergambar dari sebuah televisi yang menyala itu terlihat. Didepannya sebuah kursi single yang menghadap ke arah Televisi.


"Ayo tunggu apa lagi?" Cecilia kembali maju dan langsung membuka pintu lebar.


"Astaga! Kau ini selalu gegabah, Kau tidak bisa masuk seperti ini."


"Kelamaan sayang, kalau kita ketuk juga gak akan kedengeran karena volume TV keras banget!"


Cecilia langsung melangkah masuk dan mendapati suasana rumah yang penuh dengan pernah pernih yang unik, suasana rumah yang hangat dengan beberapa sofa dan ukiran ukiran kayu.


"Permisi!"


Tidak ada jawaban sama sekali, walaupun televisi menyala dengan keras.


"Hallo ...!" ujar Cecilia lebih keras namun tetap tidak ada sahutan dari mana pun.


Gadis itu pun melangkah menghampiri sofa single yang menghadap ke arah televisi, sepertinya seseorang baru sedang menonton siaran tv tersebut namun nyatanya tidak ada yang duduk di sana.


"Gak ada orang!"


Irsan menyisir ruangan dengan manik tajamnya, mencoba mencari sesuatu yang dia pun tidak tahu apa yang bisa di temukan, keberadaan Toni atau pun harapan Cecilia.


Seorang wanita paruh baya baru saja keluar dari arah dalam, dengan segelas air teh yang hampir saja terjatuh karena kaget melihat dua orang asing didepannya.


"Astaga!"


Begitu juga dengan Cecilia dan Irsan yang juga kaget.


"Maaf atas kelancangan kami yang masuk ke dalam rumah seperti ini!" terang Irsan.


"Kalian siapa?"


"Saya ... Irsan dan ini ...."


Irsan menghela nafas, istrinya memang tidak bisa menahan diri, dia terlalu impulsif dengan keadaan terlebih kali ini begitu penting baginya.


"Nita?"


Cecilia mengangguk, "Nita ... Natalie Grace?"


"Nita siapa itu?"


Irsan segera maju dan menghalau gerak Cecilia yang mulai emosinal karena mencari Nita.


"Maafkan Istriku Nyonya karena membuat anda bingung, kami mencari Toni. Dan seseorang memberikan alamat ini pada kami."


"Toni? Ah ... Toni?"


"Ya ... Anda mengenalnya?"


"Tentu saja aku kenal, apa kalian teman temannya?"


Irsan dan Cecilia hanya mengangguk saja, keduanya lega saat mendengar wanita paruh baya itu mengenal Toni.


"Ini memang rumah mendiang Neneknya, dan aku adalah orang yang dipercaya untuk merawat rumah ini. Tapi sudah setahun ini Mas Toni tidak pernah pulang kemari!" terangnya menohok.


Cecilia dan Irsan tentu saja mencelos, terlebih Cecilia dengan wajahnya yang terlihat jelas sangat kecewa mendengarnya. Lantas kemana Toni.


"Kau yakin?" tanya Irsan.


"Tentu saja, bertahun tahun aku tinggal di sini. Kalau Mas Toni pulang aku pasti orang yang lebih tahu dari siapapun."


"Aku gak percaya, kalau gak di sini kenapa info yang kita dapatkan mengarah ke rumah ini!" Cecilia masuk ie area dalam, lalu ke arah kamar dan berusaha membukanya.


Dengan cepat Irsan menyusulnya dan mencegahnya agar tidak berlaku gegabah dengan masuk tanpa izin. Namun bukan Cecilia namanya jika hanya bisa menurut begitu saja.


"Kita tidak bisa sembarangan seperti ini ini!"


"Aku gak percaya, mana mungkin orang yang kamu suruh itu salah, bukankah dia tahu info ini dari melacak ponselnya? Jadi aku yakin kalau Toni ada di sini!" ujar Cecilia yang merangsek masuk ke dalam kamar.


Namun lagi lagi dia tidak menemukan apapun di dalam sana, kamar bernuansa abu abu dan hanya terdapat saty buah ranjang dan juga meja rias yang kosong tanpa banyak barang.


Cecilia kembali keluar namun dia kembali mundur saat sesuatu yang tidak sengaja dia lihat. Sebuah ikat rambut yang diselipkan pada handle pintu.


"Ini?" lirihnya dengan mengambil tali pengikat rambut berwarna hitam.


"Ayo Cecilia, kau tidak boleh seperti ini. Kita tidak bisa masuk seperti ini di tempat orang lain!" tegas Irsan dengan membawanya keluar.


"Ini! Kamu lihat ini, ini punya Nita ... Iketan rambut ini punya Nita dan kebiasaan dia gak pernah berubah, nyelipin ini di handle pintu!"


"Kau yakin?"


"Sangat yakin! Aku tahu kebiasaan dia itu!" ucapnya dengan berjalan ke arah wanita paruh baya yang sejak tadi hanya mematung saja.


"Nyonya ... Katakan dimana mereka!"


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan!"


"Nyonya tolong jangan bohong lagi, aku udah lama nyariin sahabat aku dan aku yakin dia ada di sini!"


"Aku benar benar tidak mengerti apa yang kau bicarakan Nona! Siapa yang kau maksud. Sudah aku katakan kalau Mas Toni sudah tidak pernah kemari sejak setahun lalu. Dan ikat rambut itu milikku!"


Cecilia menggelengkan kepalanya dengan wajah sendu dan tidak percaya apa yang di katakan wanita paruh baya itu.


"Bohong! Aku tahu mereka ada di sini dan kau yang bantu mereka buat sembunyi!!"