I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab. 187(Oke! + quis ngaco)



Sampai malam itu pun terjadi, dimana Embun mengatakan semuanya pada Irsan dengan sangat marah. Mana ada seorang ibu yang akan diam saja mengetahui anak satu satunya memilih berhubungan dengan seorang wanita yang tidak baik, kehidupan yang kacau dan berasal dari keluarga carut marut. Jelas dia tidak akan menerimanya apalagi mengikuti saran dari Carl.


Dan semua ucapan Carl terbukti nyata, Irsan jelas menolak permintaan ibunya apapun yang terjadi, dia tetap memilih gadis pilihan dirinya sendiri dengan segala resiko yang akan terjadi di kemudian hari.


Sampai satu satu nya jalan yaitu mengikuti saran Carl, menerima segala keputusan Irsan jelas akan memperbaiki hubungannya diantara mereka. Mengalah dan mencoba berdamai dengan keadaan. Bukan hal mudah, jika Embun harus menyesampingkan ego di dalam dirinya untuk hal itu. Namun sekali lagi, dia tidak diberi pilihan lain.


Carl menekan bahkan mengancamnya dengan sangat halus sampai Embun memang harus melakukannya.


"Kau yakin Irsan akan menerimanya setelah apa yang terjadi?"


"Tante tenang saja, cukup lakukan itu saja." Carl tersenyum dengan beberapa berkas ditangannya yang baru saja di tanda tangani oleh Embun. "Aku sudah bilang ini akan lebih mudah dilakukan ketimbang Tante terus memaksakan diri menekannya, itu tidak akan berhasil. Irsan juga tidak akan memiliki pilihan lain, dia akan kembali ke perusahaan secepatnya. Tentu saja."


Embun menghela nafas dengan berat, rasanya sulit sekali untuk mengalah. Tapi sekali lagi, dia tidak memiliki pilihan lain jika ingin putra nya kembali.


Carl terkekeh setelah semua yang dia lakukan, saatnya kembali beraksi dengan menemui Irsan, namun terlambat karena Irsan sudah lebih dulu menemuinya bahkan berkali kali memukulnya.


Flashback Off


Carl mengusap usap pelipisnya yang terluka saat menceritakan kembali membayangkan apa yang terjadi sebelumnya. Sementara Irsan tengah memeriksa berkas berkas dari tangan Carl.


"Apa ini?"


"Kau jelas tidak akan mengerti kalau kau tidak ada di sana, nasib perusahaan ibumu kini berada di tanganmu. Alasan aku melakukan hal ini salah satunya untuk menyelamatkan perusahaan itu, Zian sudah bersedia memberi sokongan, namun dia ingin kau sendiri yang menghandlenya."


"Brengsekk! Kalian bersekongkol."


Carl terkekeh, "Sekongkol demi kebaikan tidak akan merugikan bukan? Justru itu akan menyelamatkan semuanya. Bukan hanya hubunganmu saja. Fikirkan perusahaan yang dibangun kakekmu Irsan, jangan bersikap egois saat perusahaan membutuhkanmu."


Irsan menghela nafas, menyimpan berkas berkas laporan tentang perusahaan ke atas meja.


"Ibu mu belum tahu kondisi yang sebenarnya di perusahaan, aku mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya. Sebagai seseorang yang bekerja di sana aku bisa saja memilih mengatakannya langsung, tapi sebagai seorang sahabat dari anaknya, terlebih ibumu sudah tua, aku tidak ingin membuatnya semakin tertekan. Mengurus anaknya yang keras kepala saja membuatku pusing."


"Kau!"


Carl terkekeh melihat Irsan kembali marah. Dia menghempaskan punggung di sofa. "Banyak hal menguntungkan kalau kau mau bergerak dari sekarang, semua orang akan berbahagia."


"Kau fikir semudah itu Carl? Kau memaksakan kehendak, ibu maupun aku juga Cecilia akan melakukannya dengan terpaksa dan dibawah tekanan. Tidak ada ketulusan dalam hal ini."


Carl kali ini tertawa. "Kau masih belum mengerti apa apa rupanya, dasar payah. Kau tidak tahu apa apa Irsan, dasar tiang listrik!"


"Heh ... semakin kurang ajar kau ini!"


"Ya itu memang panggilanmu selama ini bukan? Sampau kau berubah dengan sendirinya karena apa? Ini Irsan ... Kau payah sekali mengenai hal ini!" terangnya dengan menunjuk dadanya sendiri. "Hati ... Libatkan hati dalam melakukannya, kau fikir kau langsung jatuh cinta pada saat gadis mu itu lewat di depanmu? Mengganggumu dan terus menggodamu?"


Irsan terbeliak mendengarnya, selama ini dia tidak pernah bercerita pada siapapun berkaitan dengan hubungannya dengan Cecilia, bagaimana awal pertemuan bahkan kebencian yang amat sangat terhadapnya kala itu. "Dari mana kau tahu hal itu?"


Gelak tawa Carl semakin membahana, dia sampai menutup mulut karena oramg orang mulai memperhatikannya. "Aku tahu dari mana itu tidaklah penting."


"Kau memang brengsekk Carl, gunakan keahlianmu dengan cara benar."


"Hey janga menuduhku, aku sudah benar, tapi aku memiliki informan terpercaya dan terjamin 100%." jawabnya dengan ibu jari yang dia acungkan.


Irsan berdecak dengan tatapan tajam yang tidak berubah sedikitpun. "Oke!"


"Apanya yang oke? Katakan dengan jelas."


Trak!


Irsan bangkit dan melemparkan kunci mobil yang berada di atas meja ke arah Carl. "Brengsekk!"


"Sampai bertemu di kantor." serunya dari kejauhan.


Cark membereskan berkas berkas yang berada di atas meja, juga mengambil kunci mobil yang terlempar diatas lantai. Dia lantas menatap punggung Irsan yang semakin menjauh itu.


"Ini sangat mudah, biarkan gadismu yang menyelesaikan bagian terakhirnya Irsan, kau akan mengerti nanti. Aku yakin ini akan happy ending." gumamnya dengan menghembuskan nafas. "Dan jika sudah selesai, saatnya aku memikirkan diriku sendiri."


***


Irsan tiba di rumah sakit, dia langsung bergegas masuk kedalam ruangan prakteknya.


Bruk!


Membantingkan beban tubuhnya begitu saja di kursi, lalu memejamkan kedua matanya. Ucapan Carl juga perubahan ibunya masih terus membayang di benaknya. Bagaimana mereka bisa melakukannya dengan baik, terlebih sikap ibunya.


Pria berusia 40 tahun itu menghela nafas, "Aku tidak punya pilihan lain selain melakukannya."


Drett


Drett


Ponsel miliknya kini berdering, seseorang yang menghubunginya membuatnya berdecak kesal. Dia mengangkat sambungan telepon itu dengan cepat.


'Apa? Kau mau menekanku juga?'


Suara tawa di ujung sana terdengar, 'Segera ambil keputusan atau perusahaanmu vailit dan aku akan melakukan marger. Kau bisa kehilangan semuanya dalam sekejap saja Irsan!"


'Lakukan apa maumu! Kau fikir aku peduli? Jangan mengancamku! Aku juga bisa melakukannya tanpa bantuanmu.'


Suara bariton itu kembali keluar dengan tawanya. 'Oke kalau itu maumu, jangan salahkan aku kalau semuanya sudah tidak bisa diselamatkan lagi.'


'Kau sama saja dengannya, sama sama brengsekk! Kau fikir aku tidak mampu?'


'Justru itu kembalilah, buktikan ucapanmu dan kendalikan semuanya, kau saja bisa membuat orang menjadi sembuh bukan? Kau juga pasti bisa melakukannya agar semua orang yang kau cintai bahagia!'


'Fuccckkk!'


'Heh ... Kau sudah berani mengumpat sekarang Dokter Irsan?'


Irsan menutup sambungan telepon secara sepihak, lalu meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja. Kejadian ini memang menguntungkan bagi semua pihak, bukan hanya hubungannya dengan Cecilia dan ibunya saja yang akan kembali membaik, tapi juga perusahaan yang akan terselamatkan, terlepas dari tulus atau tidaknya Embun dan Irsan yang melakukannya.


"Brengsekk kau Zian! Kau dan Carl sama saja, hubunganku dengan Cecilia menjadi alasan agar aku bisa kembali. Benar benar licik kalian!"


.


.


Wah ... Simbiosis mutualisme ternyata kan. Wkwkwk ... Zian udah mulai turun tangan nih, kenapa si Irsan melehoy amat gk bisa ngapa ngapain sih. Kesel deh othor. Gak kayak di novel lain, yang harusnya punya power dong. Kan lo bang MC utama di novel ini. Payah lo. Wkwkwk.


Alasannya karena dari awal othor emang bikin karakter dia gak peka, gak peduli, lempeng dan bodo amat, jadi mau ada perang duniapun gak akan ngaruh apa apa. Hidupnya serba gak peduli masalah orang lain, lempeng beud. Kecuali apa hayo? Ya neng Cece lah jawabannya, so jangan pada komen kenapa sih Irsan bla bla bla ... Atau nih dokter apa Ceo sebenarnya? Gak jelas banget nih novel. Wkwkwk... Ingetlah Abang dr. Teuku Adifitrian, Sp.BP-RE. Alias Tompi yang seorang dokter bedah yang jadi penyanyi.


##Pertanyaanya apa Tompi operasi sambil nembang lagu?


Jawaban terbaik akan othor kasih pulsa 10rb. wkwkwkwk. (Kecil beud) gpp ini seru seruan aja dan gak ada hubungannya sama isi novel juga kan.


Othor naon sih malah capruk. Wkwkwk. Yok Cecelover jawab yaa. Kwkwkwk