
Embun menuangkannya ke dalam gelas, ramuan dengan bau yang sangat tajam menyeruak ke dalam hidung, entah apa isinya. Yang pasti dari baunya saja sudah tidak enak.
"Ayo minum Cecilia."
Gelas yang sudah terisi itu kini disodorkan kearahnya. Mau tidak mau Cecilia mengambilnya.
"Bu ... Kita akan menemui dokter untuk mengecek kesehatan, lebih baik ramuan ini jangan di minum dulu. Aku tidak tahu minuman apa ini." kilah Cecilia dengan tetap memegang gelas berisi cairan hitam ini. "Ini udah kayak air got, bau nya juga." ujarnya dengan jujur.
"Astaga kau ini! Ini ramuan khusus herbal sudah banyak terbukti khasiatnya, bahkan ada yang sudah bertahun tahun langsung hamil setelah minum ramuan ini."
Astaga ... punya mertua kolot banget sih, zaman udah berubah, ya kali gue minum ramuan ini langsung bisa hamil. batin Cecilia.
Irsan mendekati keduanya, dan mengambil gelas dari tangan Cecilia lalu menghirup dalam dalam. "Apa ini Bu? Apa ibu yang membuatnya? Atau ibu membelinya hanya karena melihat iklan?"
"Ibu membelinya secara langsung dari toko herbal, apa salahnya kalau di coba. Lagi pula itu ramuan herbal. Kau fikir ibu sembarangan kalau soal cucu?" ujar Embun tersungut sungut.
"Bukan begitu Bu. Tapi kita tidak tahu kandungan yang ada di dalam ramuan ini,"
Cecilia kembali mengambil gelas dari tangan Irsan, "Udah sih ... Lagian mana mungkin ibu mau macem macem. Kalau ibu mau macem macem ngapain juga ibu repot repot nikahin aku sama kamu, pake drama pula. Iya kan bu?"
Embun mengangguk, bak mendapat sokongan yang paling besar dari menantunya itu. "Tentu saja ... Kau dengar itu Irsan? Untuk apa aku membuat kalian menikah dengan cara begitu kalau ujungnya ibu juga mencelakainya. Kau saja fikirannya selalu salah."
"Tapi Bu---"
"Sayang ... Udahlah, gak apa apa juga. Kita gak bakalan tahu kalau gak di coba ya kan bu? Jadi sekarang Ibu mending coba dulu aja dikit. Nanti kasih tahu aku gimana rasanya." tukas Cecilia dengan menyerahkan gelas yang dia pegang pada Embun.
Ines tertawa terbahak, sedangkan Irsan terlihat melipat bibirnya menahan tawa dengan tingkah laku Cecilia yang memang kadang aneh aneh.
"Astaga kau ini! Mana mungkin Ibu meminumnya, ini ramuan khusus untuk kesuburan. Kau ingin Ibu hamil lagi agar Kau punya adik ipar begitu?" sentak Embun yang juga heran dengan gelengan kepalanya.
Ines kembali tertawa, "Menantu dan mertua sama sama aneh. Kompak kalian ini!"
Irsan tidak lagi bisa menahan tawa, dia akhirnya tertawa walaupun tidak seperti Ines. Sementara Cecilia dan juga Embun hanya saling menatap dan terkekeh.
"Emang Ibu mau punya anak lagi?" tambah Cecilia dengan terus terkekeh.
Tak!
Embun menyentil telinga Cecilia hingga gadis itu terperangah kaget dan hampir menumpahkan isi dalam gelas. "Awwwsss!"
"Sembarangan bicara ... Kalian saja yang memberi ibu banyak Cucu! Ayo cepat di minum, kalau tidak ... Ibu tidak akan pulang." ancam Embun. "Ibu mau tinggal di sini dan mengawasi kalian sampai ramuan ini habis dan kau hamil."
"Ibu Ih ... Udah kayak apa aja, yang ada aku gak hamil hamil kalau ibu tinggal disini. Mana bisa aku mesra mesraan nanti, lagian Ibu mau tidur dimana?" Ujar Cecilia yang selalu bicara blak blakan.
"Ya sudah kalau begitu minum secara rutin! Kalau perlu nanti Ibu kirim lagi kalau botol yang ini sudah habis."
Tidak ada pilihan lain bagi keduanya selain menuruti keinginan sang Ibu, niat baik dari seorang ibu yang ingin membantu usaha putra dan menantunya untuk segera mendapatkan keturunan walau pernikahan mereka bisa dibilang baru sebentar.
Tidak ingin memikirkan lebih jauh lagi, Irsan memilih bersiap siap untuk pergi ke rumah sakit, sementara Cecilia terpaksa meminum ramuan yang sudah berada di dalam gelas.
Rasa pahit seolah menyebar di dalam lidahnya, begitu juga dengan tenggorokannya. Namun melihat Embun yang tersenyum bahagia, membuat Cecilia ikut tersenyum.
"Semoga cepat hamil ya sayang, jangan nakal, jangan minum lagi."
"Makasih ya Bu." Cecilia asal mengangguk saja. masalah itu urusan belakangan. Fikirnya.
Tak lama kemudian, Irsan keluar dengan setelan kemeja juga jubah putih yang menjadi kebanggaannya, wajahnya tampak lebih segar dibandingkan yang laain dengan rambut setengah basahnya.
"Mas dokter suamiku."
"Dia lah putraku!" sela Emnbun yang tidak mau kalah.
Ketiga wanita berbeda generasi tampak kompak memuji Irsan sementara Irsan hanya melihatya bergantian.
"Ada apa dengan kalian hari ini?"
"Mas aku nanti mampir kerumah sakit!" Cecilia yang merasa berhak atas suaminya itu bangkit dan bergelayut manja padanya.
Sementara Embun ikut terkekeh melihat keduanya tampak harmonis ter;lebih Irsan yaang terlihat lebih santai dan banyak senyum dibandingkan sebelumnya. Tapi tidak dengan sepupu mereka yang hanya mendengus pelan.
"Awas saja melupakan janjimu padaku!" imbuhnya dengan kedua mata yang mendelek ke arah Irsan.
Irsan berlalu pergi, menuju rumah sakit tempatnya bekerja, sementara Embun juga berpamitan pulang setelah beberapa saat.
"Kak Ines hari ini gak kerja?" tanya Cecilia yang mulai bosan berada di unit tanpa kemana mana.
"AKu mau ke butik, hari ini ada barang datang yang harus aku cek satu persatu." tukas Ines yang baru saja akan keluar dari sana.
"Aku boleh ikut gak? Aku bosen nih kak?"
"Boleh dong!"
Cecilia bangkit dari duduknya dan bersiap siap keluar mengikuti Ines, mereka berencana untuk pergi ke butik milik Ines.
"Kak ... Tife cowok lo kayak gimana? Jangan bilang kayak di brengsekk Carl." Tukas Cecilia yang lebih suka berbicara tidak formal pada siapapun, termasuk Ines.
Namun Ines berbeda, dia sudah lebih dewasa untuk sekedar membedakan lawan bicaranya. Wanita yang masih lajang itu bisa menempatkan dirinya.
Mereka berdua keluar dari lift dan menuju basement, mengarah pada mobil milik Ines pemberian Irsan tempo hari.
Namun keduanya terkejut karena ada mobil yang melintang menghalangi mobil Ines dan membuatnya tidak bisa keluar.
"Sialan banget! Mobil siapa nih?" tukas Ines.
Cecilia yang kaget karena baru kali ini menengar Ines mengumpat pun terkekeh, "Tumben amat lo kak!"
"Hanya keluar saat kesal aja Ce ... Ini nih serius nih, mobil gue gak bisa keluar kalau gitu."
Cecilia mengedarkan kedua maniknya, mencari seseorang yang kemungkinan pemilik mobil. Namun tidak ada siapa siapa di blok itu.
"Apa kita naik mobilku aja?" ujar Cecilia.
"Gak ... Gue mau tunggu siapa yang parkir mobil sembarangan. Dia fikir ini milik pribadi. Ngeselin banget." kesal Ines.
Cecilia kembali terkekeh, perubahan Ines mulai menyenangkan, ternyata sifatnya tidak jauh berbeda. Gampang merasa kesal dan marah.
"Gue ada ide!"
Ines menoleh ke arah Cecilia. "Apa?"
"Kita kempesin ban mobilnya aja, biar dia tahu rasa, terus kita pergi pake mobil gue!"