I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab. 60(Kenapa lagi dia)



"Benarkah?"


"Hhmmm!" Ucapnya kembali menyambar bibir sen sual Cecilia dengan kedua tangan semakin merekat dipinggangnya.


"Nakal!"


Irsan menyunggingkan bibirnya, "Hey Nona! Kau tidak ingat siapa yang membuatku begini?"


"Aku?"


Irsan mengangguk, menyempilkan anak rambut di sela telinga Cecilia. "Kegilaan mu membuatku gila."


"Bagus dong sesekali jadi orang gila. Hidup akan membosankan kalau hanya jadi orang waras. Bener kan?"


Irsan mendorong tubuh Cecilia agar dia bisa lebih leluasa duduk karena sesuatu di balik celananya semakin menegang dan menyesakkan.


"Ya terserah kau saja!"


Cecilia terkekeh, menatap ke arah sela paha Irsan yang terlihat menonjol. "Kau mau kita ke tempat lain?"


"Jangan gila Cecilia! Aku sedang kerja."


"Jadi kalau pulang kerja?" Cecilia tertawa seraya bangkit dan duduk di kursi yang sebelumnya dia duduki.


Irsan mendengus kasar, membenarkan celananya serta posisi duduknya. "Benar benar sudah gila!" rutuknya pada diri sendiri.


"Jadi kau setuju kalau aku akan membuat hubungan kalian hancur?" kata Cecilia tiba tiba dengan kedua tangan menopang dagu.


"Terserah! Aku sudah bilang padamu untuk mencobanya. Itu juga kalau kau bisa." Irsan mengerdik, sekarang dia lebih santai dari sebelumnya, untuk apa berfikiran berlebihan.


"Apa perlu aku jadi pria brengsekk agar bisa dekat denganmu?" desisnya pelan.


"Hah? Kau bicara apa?"


"Tidak! Tidak apa apa, aku sedang menghapal resep obat."


"Oh...!" Cecilia hanya beroh ria.


Tak lama ponsel Irsan berdering, dia melihat layar ponsel lalu melirik Cecilia sekilas.


'Ya?'


'Oke! Terima kasih.'


Hanya singkat dan padat tanpa kejelasan, Cecilia yang sudah curiga pun bertanya. "Apa apa?"


"Bukan apa apa!"


"Apa itu telepon dari polisi?"


Irsan mengernyit, "Polisi. Memangnya kenapa polisi menelefonku?"


"Katakan padaku. Apa kau yang melaporkan Dirga?"


Irsan menatapnya lalu mengangkat tipis bibirnya ke atas lalu merekatkan kedua tangannya ke depan seraya memajukan tubuhnya. "Apa kau sangat peduli padanya?"


Cecilia gelagapan, dia tidak bisa menjawabnya. Dia tidak peduli tapi dia juga tidak bisa diam saja seolah tidak peduli pada Dirga. "Sedikit!"


"Kau masih punya perasaan pada pria brengsekk itu?"


"Aku yang membuatnya jadi pria brengsekk!" jawabnya menohok.


"Oh ya! Jadi selama ini dia baik di matamu? Pria kasar dan juga pemakai serta pengedar narkoba?" ucapnya menohok. Tentu saja Irsan kesal karena Cecilia mengakui kalau dia peduli walau sedikit.


Jadi benar dugaan gue, kalau Irsan yang laporin Dirga ke polisi.


Cecilia menelan saliva, rasanya dia salah ucap pada pria yang mudah sekali tersulut itu. Memang pada dasarnya dia peduli pada Dirga walau tidak sebesar dulu. Bagaimana pun juga tindakan Dirga kepadanya, dia sendiri merasa, perubahaan Dirga disebabkan olehnya juga.


"Benarkan? Padahal sudah jelas jelas dia merusakmu, berbuat kasar bahkan berani menyiksamu. Apa kau masih peduli pada orang seperti itu?"


"Woh ... Kau tidak hanya sedikit peduli tapi juga masih membela pria itu. Luar biasa."


"Salah lagi gue ngomong!" Cecilia bergumam dengan menepuk bibirnya sendiri.


Dia membalikkan tubuhnya agar bisa menghela nafas panjang dan tidak lagi salah ucap karena Irsan benar benar sangat pemarah walaupun hanya dari ucapan.


"Apa kau selalu begitu pada semua pria Cecilia? Tapi padaku kau hanya bermain main. Hah?"


"Enggak! Udah deh ... Ngapain sih terus aja marah marah."


"Siapa yang lebih dulu memancing kemarahanku."


Cecilia bangkit lagi dari duduknya, lalu membelakangi Irsan. "Ya ... Ya, baiklah! Aku yang salah, aku yang memancing kemarahan dan aku juga yang memancing kekesalanmu. Maaf!"


"Bicara yang benar! Kau bahkan tidak melihat ke arahku saat bicara. Kau sendiri kesal karena melihatku kesal kan?"


"Astaga naga! Jadi aku harus bilang gimana?"


"Kau tidak terima kalau aku melaporkan Dirga pada polisi, kau juga masih sedikit peduli padanya, lalu sekarang kau kesal padaku karena itu?" tukas Irsan, sikapnya membuat orang selalu bingung.


"Sebenernya kau ini kenapa?" Cecilia akhirnya tidak tahan lagi. "Dikit dikit marah, dikit dikit marah ... aku jujur marah, gak jujur marah. Heran! Dah lah aku pergi aja, tadinya aku kemari untuk minta maaf, juga bertanya kenapa kau melakukan hal itu."


"Jadi kau kemari hanya untuk mencari tahu tentang Dirga? Benar benar ...!" Tukas Irsan dengan kesal, mengingat mereka baru saja berciumaan.


"Kita bahkan berciumaan! Apa kau juga melakukan hal itu hanya karena mencari informasi tentang pacar brengsekk mu itu Cecilia?"


Cecilia menghela nafas, sikap Irsan lama lama seperti anak kecil yang bahkan tidak bisa membedakan antara ciumaan yang memakai perasaan dan ciumaan yang hanya alasan belaka.


"Apa kau sedang cemburu tuan dokter yang terhormat?"


Irsan mengibaskan tangannya ke udara sambil berdecih. "Tidak!"


"Kalau begitu! Apa yang kau mau, aku pusing karena kau mengatakan hal hal yang enggak enggak," Cecilia melangkah ke arah pintu dan membukanya, "Aku pergi saja kalau begitu."


Pintu sudah dia buka, namun langkahnya sengaja pendek pendek dan berharap Irsan mencegahnya, namun pria itu tidak melakukan apa apa karena dia juga kesal pada nya.


"Sialan tuh si tiang listrik! Ada aja yang dia jadikan masalah. Mana dia gak nyusul gue lagi." ucapnya tanpa menghentikan langkahnya.


Sementara Irsan menghela nafasnya berat. dia juga tidak mengerti kenapa dirinya benar benar kesal saat mendengar Cecilia yang nyatanya masih peduli pada Dirga.


Tiba tiba pintu terbuka, dokter Irsan yang tengah asik melamun itu tersentak kaget. "Hah!"


"Aku belum bicara apa apa! Oh iya, bagaimana kelanjutannya, hubunganmu dan kekasihmu itu? Dia sengaja kemari untuk menemuimu karena merasa bersalah padamu, sepertinya kau sudah jatuh hati padanya, apalagi istriku bilang kau melakukan kesalahan terhadapnya, apa itu benar?" Tukas Dokter Aji yang menarik kursi lalu duduk.


Irsan hanya mendengus kesal, "Sudahlah kau tidak perlu ikut camput urusanku! Sana pergi ke ruangan praktekmu, aku akan praktek sebentar lagi.


"Kau ini kenapa? Dahi berkerut dengan wajah masam. Jangan jangan dia menolakmu yaa."


"Suami istri sama saja! Sudah sana urus pasienmu!" Irsan semakin kesal saja, dia bangkit dan berlalu pergi meninggalkan dokter Aji yang terperangah melihatnya.


"Heh ... Kau ini kenapa sebenarnya? Kau sedang datang bulan? Aku kan hanya bertanya." serunya saat Irsan membanting pintu dan keluar. "Benar benar pria pemarah! Gadis itu pasti sebabnya. Hm ... Menarik juga! Dasar pemarah!"


Irsan melangkah ke station nurse, dan mencari suster yang hari ini dijadwalkan menjadi susternya saat praktek.


"Aku harus pergi, tolong mundurkan jadwal praktek ku dua jam." ucapnya sambil berlalu.


"Tapi dok! Pas---" Ucap Suster yang menghentikan ucapannya karena melihat wajah Irsan yang sangat serius.


"Kenapa lagi dia?"


.


Doyan banget sih tuh tiang listrik marah marah. Wkwkwk.


Hari ini othor bakal up 3 chap, semoga gak kena review yaa dan lancar. Jangan lupa like dan komen yang banyak oke cecelover.


Dan hari senin nih, Vote juga boleh banget.