I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.93(Gimana Ce?)



"Bacot lo Nit!"


Mobil melaju dengan sangat kencang, bahkan Cecilia menyetel musik sangat keras agar tidak lagi mendengar ocehan Nita. Sahabatnya yang lebih blak blakan darinya, terkadang ucapannya terlalu frontal dan menyakitkan. Namun hanya dia yang selalu ada di sisinya. Mereka sudah seperti saudara kandung yang saling menjaga satu sama lain walau pun saat ini keduanya tidak setiap hari bisa bertemu.


Cecilia melajukan mobil ke arah sebuah kafe yang tidak biasanya mereka kunjungi, sesuai informasi yang di dapan dari Ines, disana Satya sering terlihat, karena jarak kantor dimana dia bekerja sangat dekat. Informasi minim yang sedikit menyulitkannya.


"Ce ... Ngapain ke mari? Ini sih tempat sultan semua. Lo banyak duit ya." Nita celingak celinguk ke kiri dan ke kanan melihat kafe yang terbilang mewah dengan tempat golf di belakangnya.


"Kita mau ketemu orang!"


"Hah ... Serius lo. Ditempat ini. Siapa? Reno ...?"


Gadis berambut panjang yang kini di curly itu menggeleng, "Satya."


"Eeh sialan ... Gue fikir lo dengerin apa kata gue. Nekad lo ya."


"Ines itu sepupu nya Irsan, jadi dia juga sepupu gue dong Nit, gue udah bilang mau nolongin dia. Jadi lo harus bantu oke." ujar Cecilia yang kemudian memarkirkan mobilnya.


Kedua masuk kedalam, mencari tempat duduk yang strategis agar mudah melihat Satya jika dia datang. Mereka juga memesan makanaan yang harganya membuat Nita berdecak.


"Ini sih ngerampok namanya. Padahal sama aja nih menu dengan kafe langganan kita," ujarnya menunjuk piring miliknya.


"Udah deh ngoceh mulu kayak lo yang bayar! Mingkem terus makan." sentak Cecilia.


Nita hanya mendengus dia kemudian melahap makanannya dengan sesekali menyisir lapangan golf mencari Satya.


"Itu bukan? Mana gue lupa lagi muka dia." Nita menunjuk seorang pria yang tengah bermain golf dengan dagunya.


Cecilia menggelengkan kepalanya, lalu terkekeh. "Bukan bego! Itu sih mirip sama daddy lo."


Hampir satu jam mereka menunggu namun tidak juga melihat Satya masuk, hidangan menu yang dipesannya pun telah tandas semua.


"Gimana Ce?"


Cecilia mengerdik, dia juga bingung sendiri jadinya.


"Apa kita ke kantornya aja ya?"


"Bego! Makin nekad lo. Alesannya apa. Kita gak tahu dia bagian apa. Gimana kalau dia CEO atau bahkan yang punya. Mampus kita Ce." Nita menyandarkan punggung di sofa. "Gak sekalian aja lo dateng ke rumahnya!"


"Ide bagus. Tapi Dirga gak ada dan gak bisa bantuin gue nyari rumah tuh orang." jawabnya acuh. Dia bangkit dari duduknya dan menyambar tasnya. "Gue ke toilet dulu deh."


Cecilia pergi menuju toilet, sementara Nita memainkan ponsel dan berselancar di dunia maya sambil melihat lihat ke arah hamparan hijau lapangan golf. Kedua matanya membola sempurna, lalu menyipit juga untuk memastikan apa yang dia lihat.


"Itu ... Dia...!"


Nita bangkit dan menyambar tasnya, berjalan ke arah tempat golf agar bisa melihat dengan jelas. "Bener, itu dia."


Cecilia kembali ke tempat duduknya namun tidak melihat Nita sahabatnya lagi di sana. Dia mencarinya namun tidak ada.


"Apa si Nita ke toilet juga. Atau pulang duluan? Heboh tuh anak gak ngabarin gue."


Tiba tiba tangannya di tarik ke belakang, dia berjingkat dengan kaget dan refleks menepiskannya dengan berteriak.


"Heh!"


"Apaan sih!"


Cecilia dibawa ke tempat golf dan bersembunyi dibalik sebuah tembok pilar. Nita menyembulkan kepalanya.


"Lo lihat ke sana Ce ... Awas kalau lo kaget."


Cecilia mengikuti arahan Nita dengan ikut menyembulkan kepalanya, dia tersentak kaget melihatnya dan menoleh menatap sahabatnya.


Nita mengangguk, memastikan apa yang Cecilia lihat itu benar adanya. Sementara Cecilia melihatnya lagi dengan alis berkerut.


"Dia bilang dia ke rumah sakit Nit. Kok dia ada di sini?"


"Ya mana gue tahu. Gue kan bukan babysitter dia. Gue yang harusnya tanya ke lo bego, ngapain dia di sini." seloroh Nita menyandarkan punggung di pilar itu.


"Gue juga gak tahu! Biasanya kan dokter standby aja gitu di rumah sakit. Tapi dia bisa keluyuran gitu." Cecilia melangkah hendak menghampirinya.


"Eeeh lo mau kemana. Jangan bego deh!" Nita menarik lengannya agar dia kembali bersembunyi.


"Gue mau kesana lah dan nanyain kenapa dia ada di sini?"


"Lo bego apa gimana? Nanti yang ada dia nanya lo ngapain ada di sini. Lo bilang katanya dia ngelarang lo lakuin apa apa sama Satya."


Cecilia terdiam, benar apa yang dikatakan sahabatnya itu, dia tidak boleh gegabah dan membuat Irsan kembali marah karena dia dan juga Ines sudah berjanji tidak akan memberi tahunya.


Sementara Irsan tengah duduk di kursi dengan seorang pria, pakaiannya juga bukan pakaian setelan kemeja, melainkan memakai polo t-tsirt bermerek berwarna putih. Begitu juga dengan rekannya yang hanya mengenakan celana pendek.


Tidak ada yang bisa mereka dengar dari pembicaraan Irsan dan pria di sampingnya, sampai pria itu berdiri mengambil tongkat golf dan meninggalkan Irsan. Irsan merogoh ponsel dan menempelkannya di telinga.


Cecilia dan Nita saling menatap lalu kembali bersembunyi saat Irsan bangkit dan melambaikan tangannya pada seseorang.


Seorang pria berjalan ke arahnya, tampak berbeda dengannya, pria itu memakai setelan jas lengkap dan juga kaca mata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya. Tampak menawan dan juga tampan.


"Sugar Daddy banget!" gumam Nita dengan terus mengikuti langkahnya. "Siapa Ce?"


"Gue gak tahu Nit. Gue kan belum pernah dikenalin sama siapa siapa, yang gue tahu cuma dokter Aji doang. Itu juga gak sengaja gue yang kenalan sendiri saat cosplay jadi suster." jawab Cecilia dengan suara setengah berbisik.


"Apa dia?" Nita menoleh ke arah Cecilia. Begitu juga dengan Cecilia, "Jangan jangan dia yang hapus video Satya yang viral itu?"


"Gak mungkin Nit, apa untungnya buat dia, dia gak keliatan jelas di video itu, yang jelas di sorot cuma Satya dan Istrinya juga gue."


"Ya kalau diselidiki deterzen kita kan bahaya dodol! Reputasi dia sebagai dokter, gimana sih lo."


Saat keduanya terus berdebat dengan segala macam alasan siapa penghapus video dan tujuannya. Berbagai spekulasi yang membandingkan antara Irsan dan juga Satya.


"Tuh kan jadi ngilang! Lo sih bacot mulu." Gerutu Cecilia saat melihat Irsan dan pria berkaca mata itu sudah tidak ada.


"Yey ... Nyalahin gue! Emang lo gak bacot sama kayak gue. Ya mana gue tahu kalau mereka pergi."


Keduanya keluar dari balik pilar dan berjalan mendekat dengan kedua mata menyapu seluruh tempat mencari Irsan dan juga pria yang perlente itu.


"Cari siapa ya?"


.