
Sudah hampir setengah jam Cecilia duduk dengan piring berisi spagetti yang masih utuh, sesekali dia menatap pintu kamar berwarna coklat yang tidak terbuka lagi.
"Bego banget! Terus ngapain gue di mari lama lama."
Akhirnya gadis itu memilih beranjak dari duduknya, berjalan mondar mandir mencari cara agar mendapat perhatian Irsan lagi. "Mikir Ce mikir."
Dia juga berjalan ke arah kamar Irsan dan juga menempelkan telinganya di pintu. Hening,
"Apa dia tidur? Iih bener bener tuh tiang listrik!" gumamnya lalu berbalik.
Ceklek
Tiba tiba saja pintu kamar terbuka, Irsan menatapnya tajam dan membuat gadis itu terhenyak kaget. Dia menggaruk kepalanya dengan menampilkan gigi berderet putih miliknya. "Aku kira Dokter Irsan pingsan, tadinya aku mau masuk dan kasih nafas buatan."
Irsan menggelengkan kepalanya, berjalan keluar kamar dan melihat makanan yang bahkan tidak tersentuh. Dia menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam.
"Apa perlu makanan ini aku buang? Sepertinya ini hanya alasan saja agar kau bisa kemari dan menggangguku."
"Kalau iya kenapa? Aku memang ingin bertemu denganmu," Cecilia berjalan ke arahnya lalu mencondongkan tubuhnya. "Aku serius ingin melihatmu." ucapnya setengah berbisik.
Irsan tentu saja heran, dia baru bertemu dengan gadis yang bicara blak blakan dan seberani Cecilia, yang berbicara hal hal risih dengan mudah. Pria itu hanya menatapnya saja, dan Cecilia tanpa ragu juga menatapnya.
Irsan mengerjapkan kedua matanya lebih dulu, Cecilia memang mempesona, tapi gadis itu juga berbahaya. "Pulanglah ke unitmu sendiri!" ujarnya melangkahkan kedua kaki ke arah pintu dan membukanya.
Susah banget nih si tiang listrik bener bener kacau.
Dengan langkah gontai Cecilia akhirnya menyerah, pertahanan Irsan tidak goyah sedikitpun kalau hanya di goda sedemikian rupa. Dia benar benar berbeda dengan pria hidung belang yang kerap ditemuinya.
Cecilia melewati Irsan begitu saja, namun dengan sengaja dia menyentuhkan punggung tangannya ke tangan Irsan dengan lembut.
"Jangan kangen aku ya nanti!" bisiknya saat dia keluar.
Irsan benar benar menutup pintu bahkan saat Cecilia baru saja menginjak lantai luar. Membuatnya dongkol serta berdecak.
"Gue harus ubah strategi! Gak bisa dibiarin ini. Gelar bersertifikat gue tercoreng kalau gue gak bisa dapetin dia." gumamnya melangkah pergi.
Cecilia masuk kedalam lift menuju unitnya sendiri, sementara Irsan menghela nafas berkali kali seusai gadis itu pergi.
Irsan mencari ponselnya yang entah dia letakkan dimana, selama Cecilia berada di sana. Dia hanya berdiam diri dikamar, terduduk dengan menatap pintu kamar. Dia juga tidak bisa melakukan apa apa sementara ada gadis di rumahnya yang bisa membuatnya gila lama lama.
"Ah ini dia!" gumamnya saat menemukan ponselnya berada di samping bantal.
Irsan menghubungi seseorang, setelahjya dia keluar dari unitnya.
"Kau bisa bantu jauhkan dia dariku?" tanya Irsan yang baru saja masuk.
Wanita yang baru saja membuka pintu itu mengernyit, "Kenapa kau ini? Sudah datang mendadak dan mengagetkanku. Sekarang meminta bantuanku. Siapa yang harus aku jauhkan darimu! Aku bahkan tidak tahu apa apa." selorohnya dengan memasangkan tali dijubah tidurnya.
Irsan berjalan masuk, dia menghempaskan bokongnya di sofa dan menatap wanita berambut panjang yang masih mengernyit dengan tatapan heran padanya.
"Seorang wanita yang tadi kita lihat saat di restoran jepang." terangnya.
Wanita itu semakin mengernyit mendapat sedikit informasi dari sepupunya itu, "Wanita di restoran jepang itu banyak, bahkan pelayannnya saja wanita. Kau ini kenapa tidak jelas sekali! Tinggal katakan siapa dia, kepalaku pusing dan aku malas berfikir apalagi bermain teka teki."
Irsan menghela nafas, meminta bantuannya jelas tidak akan semudah memberi obat resep pada pasiennya, mereka hanya menurut tanpa bertanya apa apa.
"Namanya Cecilia, dia sangat menggangguku! Setiap bertemu membuatku pusing." ujarnya memijit kepalanya yang sedikit sakit, "Dia tinggal di lantai ini juga, sama denganmu! Aku ingin kau membantuku membuatnya menjauh dan tidak menggangguku." imbuhnya lagi.
"Hm ... Begitu! Apa dia sebegitunya menyukaimu, sampai terus mengganggumu setiap bertemu. Atau kau sendiri yang takut jatuh cinta padanya? Karena kau tidak bisa move on dari wanita itu!"
Irsan menghela nafas, benar benar tidak semudah dibayangkannya. "Nes, aku kemari bukan untuk mendengar ocehanmu! Aku meminta bantuanmu. Dan stop membicarakannya."
Vannes mendengus kesal, dia ikut duduk di sofa dengan menopang satu kakinya ke atas, "Lalu aku harus melakukan apa? Apa aku harus terus berpura pura sebagai kekasihmu saat ada wanita lain yang ingin mendekatimu? Oh ayolah, kapan aku bisa bertemu dengan seorang pria kalau aku terus mengaku pacarmu."
"Sekali ini saja, aku benar benar muak dengannya yang terus menggoda terang terangan, bahkan dia nekad sekali." ujarnya dengan tiba tiba mengingat kejadian dimana Cecilia keluar dari lift dengan cara merobek dressnya sendiri dan mengaku dia dilecehkan olehnya.
"Sekali saja! Kau fikir aku tidak punya pekerjaan, kenapa aku harus terus membantumu. Aku sibuk tahu!"
Irsan tidak menjawab, fikirannya masih sibuk pada kejadian kejadian yang membuatnya muak. Kembali ingat saat Cecilia memutar video menjijikan disaat dia sedang menerima telepon seorang teman, dan terakhir bibirnya terangkat tipis saat mengingat ciuman panas di koridor apartemen, sangat nekad tapi juga membuat bulu bulu halus di tengkuknya meremang sekarang.
"Heh ...malah bengong!" Vannes menepuk bahu Irsan hingga dia tersentak kaget. "Jangan bilang kau memikirkan wanita itu! Kau pasti memikirkannya." tuduhnya dengan jari telunjuk yang menunjuk Irsan.
Irsan mendengus, "Mana mungkin aku memikirkan gadis gila itu! Dia itu seorang jalaang kecil. Dan kau harua memarahinya saat bertemu. Suruh dia menjauhiku dan berhenti menggangguku."
Vannes mengangguk anggukan kepalanya, "Bayaran ku apa?"
Irsan kembali menghela nafas, meminta bantuan Vannes memang merogoh kocek cukup besar, sepupunya itu sangat perhitungan. Tapi Irsan juga hanya bisa mengandalkannya kalau soal perempuan.
"Aku ingin mobil yang kau pakai!" Celetuk Vannes dengan kedua alis turun naik.
"Kau!!! Perhitungan sekali, aku benar benar bisa bangkrut olehmu."
Vannes bangkit dari duduknya, "Ya sudah kalau tidak mau! Ini bakal jadi bantuanku yang terakhir. Aku selalu gagal berkencan karena membantumu."
"Ok baiklah Vannes! Kau boleh ambil mobilku kalau kau berhasil menyingkirkannya!"