I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.201(Bikin melting)



Irsan kembali ke unit milik Ines yang kini ditempati oleh Cecilia dengan membawa semua barang-barang yang dibelikan Embun ibunya. Dia melangkahkan kedua kaki dengan mantap namun fikirannya justru melanglang buana, terlebih perkataan ibunya yang hampir tidak dapat dia percaya, yaitu pernikahan.


Hal yang dilakukan dengan persiapan yang matang 2 tahun lalu, sesuatu yang sangat dia nantikan namun berujung pahit. Irsan tidak ingin kejadian itu kembali terulang, bahkan dia terus bertanya apakah Ibunya serius saat mengatakannya tadi atau hanya sekedar pura pura saja karena dia akan kembali ke perusahaan sesuai dengan rencana yang telah di susun oleh Carl.


Sesampainya di unit apartemen, Irsan langsung meletakkan barang barang yang dia bawa di atas sofa, dengan kedua manik hitam legam yang mengedar mencari sosok gadis yang entah akan merespon seperti apa saat tahu apa yang Ibunya katakan tadi.


Dia pun mencarinya di dalam kamar, dan mendapati Cecilia tengah duduk di atas ranjang.


"Kau belum tidur. Bukankah tadi kau bilang kau lelah?"


Gadis yang menoleh kearahnya dengan terkesiap itu pun lantas menggelengkan kepala.


"Kebiasanku belum ilang, aku masih gak bisa tidur kalau gak minum!"


Irsan melangkah mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. "Kau butuh konsultasi?" tanyanya mengelus kepala Cecilia dengan lembut.


"Aku butuh konsultasi secara pribadi denganmu." Cecilia menggeser tubuhnya dan memeluk Irsan dari arah samping. "Kalau ada kamu pasti aku bisa tidur."


Irsan terkekeh, itu tidak akan lama lagi. Fikirnya. Tapi dia tidak ingin membicarakannya dengan Cecilia saat ini. Dia ingin memastikan jika Embun ibunya tidak akan menggagalkan lagi seperti yang terjadi sebelumnya.


"Aku merindukanmu!" Bisik Cecilia.


"Kau ini!" Irsan turut melingkarkan tangan pada pinggang Cecilia dan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher gadisnya itu.


"Ibu menyuruhku membawa semua barang yang dia berikan padamu, aku sudah menyimpannya di luar." gumamnya dengan semakin merekatkan pelukannya.


"Aku gak mau nerima barang sogokan, kau tahu kan aku udah bukan Cecilia yang dulu. Aku mencintaimu tanpa syarat." kekehnya. Bisa bisanya gue makin dalem begini ama nih cowo.


"Aku tahu itu lebih dari siapapun, dan aku sudah pastikan kalau Ibu tidak akan membuat kita kesulitan lagi."


"Ya iya lah ... Dengan kau yang balik ke perusahaan, itu kan?"


"Ya ... Selain itu, ibu juga tidak akan melakukan apa apa lagi. Percayalah Cecilia." ungkap Irsan lagi, kali ini menatap wajah Cecilia dengan begitu dalam. "Percayalah." ungkapnya lagi disertai anggukan lirih.


Cecilia mengangguk sebagai jawaban, kalau dia tentu saja percaya pada Irsan, pria yang semakin dia cintai dari dalam hati, menemukan sosok yang selama ini dia cari hampir semua ada di diri Irsan terkecuali sifat dingin dan acuhnya.


Keduanya kini saling menatap, dua manik saling menelisik sangat dalam, entah siapa yang memulainya. Kini keduanya saling mendekat dengan kedua benda kenyal yang saling memagut. Begitu dalam dan semakin membuai keduanya, kedua manik pun sama sama terpejam. Merasai pagutan yang semakin lama semakin lembut, kali ini sangat berbeda dari terakhir mereka melakukannya.


Takut semuanya hilang kendali, Irsan dengan cepat menghentikan aksinya, dia tidak ingin melewati batas lagi walaupun Cecilia bukanlah gadis polos.


Cecilia terdiam dengan tatapan yang sulit di artikan, degup jantungnya semakin tidak terkendali dengan hasratt yang tertahan.


"Kau gak ingin melakukannya!" lirihnya dengan tatapan menuntut.


Mampus, jiwa binall gue masih keliatan jelas, dan itu enggak banget.


Cukup lama Irsan terdiam menatapnya, lalu tersenyum dengan mengelus pipi gadis yang masih berusaha menguasai diri agar tidak gegabah seperti biasa.


"Akan ada saatnya nanti dimana kau tidak perlu memintanya."


"Hah? Maksudmu ...."


"Aku mencintaimu Cecilia, dan ingin menjaga kehormatanmu sebagai seorang wanita, jadi mulailah menghormati diri sendiri walau seluruh dunia tahu masa lalumu." pungkas Irsan dengan terus mengelus pipi Cecilia.


Hangat, bahkan semakin hangat dirasakannya, dengan tatapan yang meneduhkan menatap dirinya. Cinta, mungkin inilah cinta yang sesungguhnya, yang menghangatkan hati dan mampu menerima apa adanya.


Pandangan Cecilia tiba tiba mengabur, ada setitik bulir tengah menganak disana. Selama 20 tahun ini, baru kali ini Cecilia merasa di hormati sebagai seorang wanita, terlebih dia cukup tahu seburuk apa dirinya.


Malu ... Tentu saja, inilah jua kali pertama Cecilia merasa malu, malu akan sikap dan prilakunya selama ini.


"Hei ... Kenapa menangis?"


Cecilia terkekeh, dengan menyusut air mata. "Kan kamu gitu deh, jarang ngomong tapi sekalinya ngomong bikin melting tahu gak!"


"Kau ini!"


.


.


Maafkan othor yang masih acak acakan up beberapa hari ini, banyak PR yang harus segera di selesaikan. Harap maklum yaa. lope lope badag buat kalian yang udah setia nungguin othor.