I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.199( Tambah Masalah)



"Cecilia?"


"Apa bu. Ibu masih mau menyangkal dan bikin alasan baru? Ku fikir ibu akan akan berusaha paham dengan apa yang aku katakan setelah kita menghabiskan waktu seharian, tapi ternyata aku salah. Ekspektasiku terlalu tinggi karena berharap Ibu ngerti keadaan aku. Tapi sekarang aku gak minta Ibu keadaanku dan nerima aku, tapi aku minta Ibu bisa ngerti keadaan anak ibu sendiri. Kasihan dia. Gak cuma waktunya aja yang makin tersita bu. Ibu fikir jadi Dokter itu gak capek? Walau aku yakin dia mampu ngerjain dua pekerjakan sekaligus, tapi akan banyak pengorbanan yang akan dia lakukan. Gak cuma konsentrasinya aja yang akan terpecah, kesehatannya, fikirannya juga, apa Ibu pernah berpikir ke sana? Enggak kan ... Ibu hanya mikirin kebahagiaan dan tujuan yang ingin ibu capai sendiri. Apa Ibu akan puas setelah itu?"


Embun lagi lagi masih terdiam, namun sorot matanya semakin berkaca-kaca, dia juga tidak bisa menjelaskan apa apa karena Cecilia terus bicara tanpa henti, mencecarnya dengan penuh kekesalan.


"Aku pikir Ibu itu seorang ibu yang benar-benar menyesal dan ingin melihat anaknya bahagia tanpa syarat apapun. Tapi lagi lagi aku salah, aku kembalikan barang ini karena aku gak mau menukar apapun dengan kesulitan yang nantinya akan dialami oleh Irsan." Ungkapnya lagi.


Setelah merasa cukup puas dengan apa yang dia ucapkan. Cecilia membalikkan tubuhnya dan berlalu keluar dari unit. Tentu saja dengan perasaan kesal yang semakin menggebu-gebu.


"Gue heran, dia sama sekali gak ngerasa nyesel dan mikirin anaknya." Gumam Cecilia pelan.


Sementara Nita terlihat sedang berdua dengan Carl, mereka berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri. Cukup lama Cecilia terdiam dan melihat keduanya yang semakin terasa aneh menurutnya. Raut wajah Nita yang tampak berseri saat melihatnya, tertawa saat Carl bicara sangat berbeda dimatanya.


"Mereka kayaknya deket deh! Tapi si Nita bilang gak terlalu deket. Fixs ... Dia ngarep sama tuh manusia!" Dengusnya kemudian dengan tatapan yang semakin tajam. Kecurigaannya sangat kuat melihat kedekatan mereka, walaupun dia juga percaya akan perkataan yang diucapkan sahabatnya itu.


Nita menoleh ke arahnya, lalu melangkah mendekatinya.


"Udah kelar?" tanyanya pada Cecilia yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Cecilia tidak langsung menjawab pertanyaannya, namun tatapannya beralih pada Carl yang juga berjalan ke arahnya.


"Nita bilang kau mengembalikan semua barang yang diberikan oleh Tante Embun. Apa itu benar?"


"Bukan urusanmu!" sahut Cecilia dengan kesal.


"Ce ... Apaan sih lo!"


"Diem lo. Gak usah ikut-ikutan!"


Nita menatapnya dengan kedua pupil tajam. Hitam legam bercahaya, dan merasa heran sendiri dengan sikap Cecilia padanya.


"Kenapa sih lo?"


"Cecilia. Temanmu hanya bertanya, dia khawatir padamu." tukas Carl yang menyela, dia tidak tahu seperti apa Cecilia jika marah.


"Semua ulahmu kan. Iya kan ... Semua ini asalnya dari kau. Kau yang bikin semuanya kacau, agar apa? Agar semua tujuan kalian tercapai kan? Sekarang aku tanya. Apa tujuanmu? Atau jangan jangan kau sengaja membuat Tante Embun seolah bersikap baik padaku agar Irsan mau kembali, karena itulah satu satunya jalan? Lucu sekali anda ini."


"Tunggu Cecilia ... !"


BUGH!


Cecilia mendaratkan pukulan tepat pada wajahnya, selain kesal karena masalah Irsan yang dia buat, entah kenapa dia juga kesal karena sahabatnya yang terlalu gampang dibuatnya percaya.


"Aku bisa jelaskan semuanya!" Sahut Carl yang buru buru menyela walau tidak kuasa dan meringis juga.


Kalau tidak disela dengan cepat, bisa dibayangkan sampai kapan Cecilia terus bicara dan lebih parahnya lagi dia akan terus memukulnya.


"Bicara apa. Jelaskan apa? Semua sudah jelas,"


"Ce ... Dengerin dulu penjelasannya!" sentak Nita yang menghalangi Carl dengan tubuh kecilnya.


"Minggir lo!"


"Enggak Ce ... Lo salah faham kali ini. Lo bakal nyesel nanti kalau lo tahu apa yang terjadi." ujar Nita dengan terus menghalanginya untuk kembali menyerang Carl.


"Gue gak salah! Gue juga gak bakal nyesel ... Minggir lo, gak usah belain dia!"


"Ce ... Lo marah gara gara masalah lo atau apa sih sebenernya?" Nita kali ini menatap dengan penuh curiga, pasalnya kekesalan dan kemarahan Cecilia sudah melebihi batas. "Lo gak marah karena gue dan Om Carl ....!"


Ucapan Nita terakhir membuat Cecilia terdiam, lalu menatap keduanya secara bergantian. "Brengsekk lo berdua!"


Cecilia melengos namun tidak lupa menarik tangan sahabatnya itu dan membawanya pergi.


Nita mengikutinya tanpa banyak protes, dugaannya benar karena kemarahan Cecilia pada Carl bukan hanya tentang masalahnya saja. Sementara Carl berdiri menatap keduanya yang berjalan semakin jauh.


"Ce ... Gue udah bilang kalau gue dan Om Carl itu gak ada hubungan apa apa! Ya walaupun gue ngarep dikit sama dia." Terang Nita saat keduanya masuk kedalam lift.


Cecilia menoleh dengan tatapan tajam lalu mendengus.


"Ce ... Gue dengerin lo kok! Gue gak bakal macem macem sama dia. Dia cuma bersikap baik karena tahu kalau gue sahabat lo. Kenapa lo harus mukul dia sih. Lo tahu gak kemaren dia juga di pukul sama cowok lo."


"Berisik lo!" Sentak Cecilia kemudian. "Lo fikir gue bego Nit. Lo kenapa tahu dia di pukul kemaren, kenapa lo segala tahu tentang dia kalau lo sama dia gak deket. Gue tegesin sama lo sekali lagi, kalau lo ngeyel dan terus kayak gitu ... Lo maen maen dan ketahuan daddy lo! Gue gak bakal bantuin lo!" Seru Cecilia saat lift terbuka dan dia segera melangkah keluar.


Nita menghela nafas, mengikuti langkah Cecilia dari belakang, dia tahu sahabatnya itu tidak mudah dibohongi.


"Tapi gimana kalau gue nyatanya emang ngarep Ce ... Lo tahu gimana kan rasanya!"


"Terserah lo! Gue udah pusing sama masalah gue, dan lo masih ngeyel aja, jadi kalau ada apa apa sama lo, siapa yang bakal bantuin lo kalau bukan gue Nit? Gue kayak gini karena gue khawatir, Carl itu seorang player. Gue cuma gak mau lo kenapa napa apalagi sampe kejadian kayak dulu. Gue bisa lihat dari tatapan lo ke dia kayak gimana!"


"Jadi lo gak mau dukung gue lagi Ce ... Oke Fixs ... Gue bisa pergi, lagian kayaknya sekarang lo gak butuh gue, lo udah punya Irsan sekarang." Nita menghentikan langkahnya dan tidak lagi mengikuti sahabatnya itu.


Cecilia berbalik ke arahnya, "Jangan salah faham Nit ... Gue pasti support apapun itu, tapi jangan bego. Berapa kali gue bilang kalau lo masih posisi terikat kontrak,"


"Gue gak peduli! Lo aja bisa, kenapa gue enggak ... Kita lebih baik jalan masing masing aja Cecilia. Gue fikir kita udah gak sejalan lagi sekarang." Nita menyusut air matanya, lalu dia bergegas pergi dan kembali ke arah dimana lift berada.


"Nitaaaa!"