I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.229(Hari ini atau gak usah)



"Arrghh ... Shittt! Kenapa kalian berdua mengarah pukulan hanya pada hidungku saja. Ooh god..." teriak Carl dengan menutup hidungnya dengan kedua tangan, Dia meringis kesakitan, saat pukulan tidak seberapa justru mendarat pada luka di hidungnya.


"Lo emang pantes dapetin itu!"


"Ce ... Astaga!" Agnia berhambur ke arahnya, langsung menghalangi Cecilia dengan kedua tangannya.


Gadis itu bersiap siap hendak memukul kembali Carl, sementara Carl meringis dengan wajah memerah menahan sakit.


"Kau tidak apa apa Carl?" Zian menepuk punggungnya saat Carl mencondongkan setengah tubuhnya.


"Pukulannya tepat sekali Zian!"


Zian terkekeh mendengarnya, lalu membawanya duduk, dan melambaikan tangan ke arah pelayan "Beri dia es batu!"


"Nia ... ada apa sih? Heran gue sama orang orang, aneh semua. Dan dia tuh biang keroknya." tunjuknya pada Carl.


Agnia mengulas senyuman, "Lo sih bar bar mulu, coba lo gak emosi duluan, semua pasti berjalan dengan lancar."


"Lancar apaan maksudnya?"


Agnia mengerdik, dia lantas masuk dan Cecilia mengikutinya. sementara dua orang dibelakangnya mendorong kursi roda ibu Cecilia.


Rangkaian bunga yang masih tertata rapi dengan dua angsa di tengahnya, tidak lupa dengan bunga mawar dan bunga tulip berbagai warna yang masih terlihat segar. Dan buket bunga yang tinggi yang sejak tadi teepasang di luar kini sudah dipindahkan.


"Nia ...!" panggilnya.


Orang yang namanya dipanggil terkekeh lalu menaik turunkan kedua alis ke arahnya, sejurus kemudian kedua manik hitamnya menunjuk dua tulisan dengan yang tidak asing terpasang diatas bunga.


...Happy Wedding...


"Aaap--- apaan ini?"


"Pernikahan mu gagal total, Irsan tidak mau menikah denganmu!" seru Carl dengan sangat kesal, terlihat tangannya menggenggam kompresan es batu.


Cecilia mengerjap lalu terbelalak sempurna mendengarnya. "Apa maksudnya?"


"Tidak yang pria tidak yang wanita ... Ekspresinya sama saja!" desis Zian menggelengkan kepalanya.


"Hubby ... Ekspresiku juga gitu waktu itu waktu kaget dan gak percaya." Agnia menyikut lengan Zian.


"Mereka lebih parah!" Timpal Carl. "Yang pria lambat, yang wanita bar bar tapi juga lambat dalam berfikir."


Cecilia melepaskan sepatunya dan hendak melemparkannya ke arah Carl namun Agnia berhasil menghalaunya lagi.


"Ce ... Gila lo! Main sambit aja, kena pala orang benjol tuh."


"Habisnya dia tuh ngeselin!"


"Kenapa? Memang begitu kok kenyataannya." Carl kali ini tidak ingin mengalah walau yang dia hadapi adalah seorang wanita.


"Diem lo!" delik Cecilia yang entah kenapa sangat membenci Carl.


"Baby ...?"


Agnia menoleh ke arah suaminya, lantas mengangguk.


"Ayo Ce ... Ikut gue."


Ibu muda yang semakin cantik itu mengulurkan tangan pada Cecilia, gadis itu pun menyambutnya dengan sesekali melirik ke arah Carl dengan sengit.


"Lo harus ketemu Tante Embun. Lo hibur dia ya."


"Hah?"


"Hah huh hah huh mulu deh lo. Udah sini buruan."


Keduanya masuk kedalam salah satu ruangan yang sengaja disiapkan untuk mempelai pengantin pada awamnya, terlihat beberapa meja yang lengkap dengan segala riasan make up, juga manekin dengan gaun putih yang masih menempel. Embun terlihat berdiri menatapinya tanpa jemu, dengan sapu tangan setengah basah dalam genggamannya.


"Tante....?" panggil Agnia pelan.


Embun menoleh, dan membulatkan manik hitam yang terlihat semakin sayu dengan kesedihan.


"Cecilia ...?"


"Ibu...?"


"Cecilia maafkan aku!"


"Ibu kenapa minta maaf?"


"Ibu ...., terlalu bersemangat dalam hal ini, tapi ..." Embun tiba tiba terduduk di kursi, setelah melihat Cecilia, lututnya kembali bergetar lemas.


"Harusnya hari ini adalah hari pernikahanmu, Carl dan tante Embun sudah menyiapkan semuanya Ce ... Tapi lo gak dateng dan Irsan marah."


"Hah? Maksudnya, nikah? Gue?"


"Sekarang Irsan pergi kemana?" tanya Cecilia.


***


Irsan berdiri mematung dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celananya, hampir 30 menit dia hanya terdiam menatapi hamparan air laut. Deburan ombak dan desir angin tidak membuatnya beranjak. Entah apa yang dia fikirkan saat ini, ibunya, Carl, Zian, Agnia, bahkan semua orang yang berada dan merencanakan semuanya terlintas di benaknya. Ucapan mereka satu persatu ditelaahnya, terlebih ucapan sang Ibu.


Irsan menghela nafas panjang, bukan seperti ini yang dia mau, memiliki harapan besar untuk memberikan sebuah pernikahan yang terbaik bagi calon istrinya, pernikahan yang dilakukan hanya satu kali seumur hidup dan yang pasti momen bersejarah yang tidak akan terlupakan. Banyak hal yang dia fikirkan, terutama kebahagiaan Cecilia. Termasuk menunggu ibunya yang sembuh seperti sedia kala.


Irsan tidak akan menyesal walau mengecewakan banyak orang dalam hal ini, prinsip hidupnya terlalu kuat dan tidak akan tergoyahkan karena ancaman orang lain, tapi juga merasa bersalah karena membuat ibunya menangis.


Kau mau menikah setelah aku mati hah.


Ucapan Ibunya yang kembali terngiang ngiang di kepalanya.


Namun dia tersentak kaget ketika tangannya menghangat saat tiba tiba ada tangan yang menelusup masuk kedalam saku dan menggenggam tangannya. Dia menoleh bahkan dengan berusaha mengeluarkan tangannya.


"Kau?"


"Hai!"


"Apa yang kau lakukan? Pakaian ini?" Irsan menatap gadis bertubuh sintal itu dalam bakulan kain pengantin yang sebelumnya sempat dia lihat saat bicara dengan Ibunya tadi,


"Gimana? Cantikkan? aku udah pernah bilang kan kalau ibumu punya selera bagus dalam hal fashion."


"Cecilia?"


"Kenapa tidak mau menikahiku?"


Cecilia tidak sempat berbasa basi lagi, dia langsung pada intinya saja. "Ah aku tahu! Kau tidak suka caranya begini kan?"


Irsan terdiam, melihat wajahnya, justru malah teringat perkataan Zian.


"Apa kau akan mencari pria lain?"


Cecilia menghadap ke arah laut, menarik nafas panjang dengan semakin membusungkan dadanya.


"Gak usah khawatir, soal nyari pria aku jagonya!" jawabnya percaya diri, "Tapi pria sepertimu emang langka."


Irsan mengernyitkan kedua alisnya. Menatap Cecilia yang terlihat semakin cantik dibawah sinar rembulan dengan gaun pengantin yang dia pakai.


"Kamu juga udah bilang setelah semua urusan selesai, kita akan persiapkan pernikahankan?" ujarnya terkekeh.


Irsan mengangguk, baginya hanya Cecilia lah yang mengerti. "Aku tidak pernah mengingkari janji. Kau tahu itu Cecilia."


"Ya aku tahu!"


"Tapi mereka tidak ada yang paham."


Cecilia terkekeh, "Mereka juga gak salah salah amat. Mereka hanya salah orang!"


Irsan hanya berdecak lalu kembali terdiam. Cecilia kembali menoleh ke arahnya. "Mereka juga salah memilih tempat."


Irsan mengangguk, dia merasa lega karena Cecilia memahami dirinya, "Tidak mendadak seperti ini juga."


"Tapi aku mau menikah hari ini, ditempat ini!" tukas Cecilia kemudian. "Kalau gak ya gak usah." lanjutnya dengan menaikkan kedua bahu.


"Astaga!"


"Kenapa? Apa karena belum siap?"


"Tidak! Bukan itu, bukankah kau sendiri yang bilang."


"Kalau gak sekarang ya gak usah!"


"Cecilia...."


"Bajunya udah aku coba, dan udah pas, Aku suka gaun ini!"


"Cecilia....!"


"Aku serius, walau urusanmu masih banyak, masalah kita juga Gak selesai selesai, tapi aku mau menikah denganmu hari ini, kalau gak ya gak usah sekalian."


Setelah mengatakan hal itu dengan datar, Cecilia berbalik dan melangkahkan kedua kakinya.


Tiba tiba dia kembali menolehkan kepalanya ke arah belakang dimana Irsan diam seolah tersengat petir di musim kemarau.


"15 menit lagi pastur sampe kesini! Pergunakanlah waktu kurang dari itu untuk mikir, aku tunggu di dalem."


.


.


Si Tiang listrik blah bloh gak tuh. Wkwkwk.