
"Aku maunya ngelamar jadi pacar kamu boleh?"
Irsan harus menelan saliva nya kuat kuat, saat tatapan Cecilia memperlihatkan daya tarik luar biasa. Bukan hanya sikap beraninya saja, gadis itu memang benar benar menarik.
"Hentikan omong kosongmu itu dan pergilah!"
"Kenapa harus pergi? Ini tempat umum, jadi orang bebas keluar masuk."
"Jaga jarak dengan ku!" ucapnya dengan melirik tangan Cecilia yang masih menempel di kemeja yang di pakainya.
"Kasih tanda sejauh mana jarak amanku! Karena aku selalu lupa diri." bisiknya tepat di telinga Cecilia, kedua tangannya bahkan memegang bahu Irsan dengan kaki yang sedikit berjinjit karena tubuh Irsan yang tinggi.
Irsan mendengus, karena dia merasa bulu bulu halus di tengkuknya meremang, dia juga menepis tangan Cecilia dengan kasar. "Cecilia!"
Cecilia membulatkan kedua matanya, dia bukan kaget karena Irsan marah, justru dia kaget saat namanya di sebut.
"Oh my God! Demi celana kotak spongebob, kau ingat namaku." Gadis itu terkekeh, dengan menutup mulutnya sendiri. "Maaf ... Habisnya aku terlalu senang karena ternyata kau mengingatku. Aah senangnya."
"Dasar gila!" Irsan beranjak pergi, jika tidak entah apa yang akan terjadi dengannya, dia benar benar membuatnya berfikir keras.
"Gadis itu cantik tapi menyebalkan!" gumamnya sambil terus berjalan.
Cecilia menatap punggung Irsan dengan tersenyum lebar, lalu menyibak rambutnya ke belakang, "Aku tahu sebenarnya kau mulai tertarik padaku kan."
Gadis yang berada dibelakangnya pun berjalan mendekat, menyondongkan kepalanya unyuk melihat wajah Cecilia. Dia juga ikut mengulum senyuman.
"Kenapa lo senyum senyum!"
"Gue bisa nebak! Kakak suka kan sama Om itu? Tapi dianya tidak."
"Hey ... Jangan ngadi ngadi, lo belum tahu siapa dia, gak lama lagi gue bakal bikin dia jatuh cinta sama gue." Cecilia melangkah pergi dan meninggalkan gadis yang baru saja dia kenal itu sendiri.
"Jatuh cinta atau lo goda kak? Kayaknya lo goda deh." gadis itu terkekeh.
Cecilia membulatkan kedua matanya ke arahnya lalu kembali mengayunkan langkahnya, " Dia bakal jatuh cinta setelah gue goda bego!"
"Gak jadi ... duit gue habis buat bayar make up ini!" Cecilia menunjukan kantong berisi make up yang dia bayar pada akhirnya.
"Itu kan udah lo kasih buat gue kak?" lirih Gadis yang terus mengikuti Cecilia.
Cecilia berdecih, "Gara gara lo! Gue duit gue ilang lagi, dan gara gara lo! Gue ketahuan sama Irsan."
"Yah kak! Padahal kan tadi lo udah kasih ke gue, masa gak jadi sih."
"Kalau lo mau, lo bisa bayar ke gue! Gimana ...?" ujarnya menengadahkan tangan ke arahnya.
"Gue nyuci juga karena gue gak punya duit kak! Mana bisa bayar ke lo kak."
Cecilia mengerdik, "Ya udah, jadi ini barang mau gue pake."
Gadis itu berhenti mengikutinya, dia juga menatap punggung Cecilia, membuat Cecilia tidak tega melihatnya. Dia menoleh ke belakang, lalu mengajaknya.
"Karena lo berhutang sama gue! Mulai hari ini lo kerja sama gue!" ucapnya saat kembali menghampirinya.
"Beneran kak?"
Cecilia mengangguk, dia juga mengeluarkan kartu nama dari dompet barunya dan menyerahkannya pada gadis yang bahkan dia tidak tahu namanya. "Tapi sepulang lo sekolah, gue gak mau punya karyawan yang bego. Lo harus pinter."
Gadis itu mengambil kartu nama dari tangan Cecilia, "Siap kak! Gue bakal sekolah dan kerja di tempat lo. Tapi apa kerjaan gue? Gue pengen ngerubah nasib kayak lo kak."
Cecilia tampak berfikir, "Besok aja gue harus mikirin mau kasih lo kerjaan apa."
"Tapi gue mau kok disuruh lo buat apa aja! Termasuk cara lo dapetin duit dengan gampang." ujarnya dengan penuh keyakinan.
Cecilia menatapnya dengan menelisik, gadis yang bahkan tidak dia kenal itu membuatnya khawatir,
Oh god! Gue yakin kalau dia bisa jadi kayak gue.