
Irene tersenyum, wanita paruh baya itu memang baik hati, tidak salah rencana Cecilia melibatkan Sila, prosesnya memang salah, tapi hasil akhirnya belum tentu juga akan salah.
Sila melirik ke arah Cecilia, namun wajahnya datar, dia benar benar berakting sangat bagus sampai Sila hampir tidak mengenal Cecilia. Tidak ada sedikitpun cela, dia benar benar total.
"Veronica. Boleh tante bertanya lagi?"
Sila mengangguk, "Iya."
"Apa ayahmu benar benar pergi dan tidak bertanggung jawab?"
"Iya."
Irene mengulas senyuman, semua yang dikatakan Cecilia benar. Dia bisa melihat kepolosan dari Sila saat mengungkit keluarganya, dengan kedua mata berkaca kaca dan menahan agar tidak menangis saat teringat sang ayah yang tidak peduli lagi padanya serta kedua adiknya yang masih kecil kecil.
Pelayan datang dan menyajikan makanan diatas meja, bermacam macam hidangan yang bagi Sila sangatlah mewah. Terlihat dia meremas ujung pakaiannya dan Cecilia melihat hal itu dan mengulum senyuman.
"Makan Veronica, tante Irene memesan banyak untukmu. Iya kan tante?" Cecilia mengerling dengan tersenyum ke arah Irene.
"Tentu ... Jangan sungkan ya! Ayo makan yang banyak, setelah ini. Mungkin kita akan sering bertemu." sahut Irene dengan lembut.
Apa dia bosnya kak Cecil, dan lagi cari tahu hidup gue yang susah itu sebelum nerima gue kerja, tapi kak Cecil bilang dia kerja mandiri, dia bosnya sendiri. Jadi siapa ibu Irene ini? Apa dia ger mo? Ah iya, mungkin dia ger mo. Sila bermonolog sendiri, dengan ragu mengambil sendok juga garpu. Gue harus bisa, ini demi keluarga gue.
"Veronika? Apa kamu ingin bekerja dan berhenti dari sekolah?"
"Tidak!"
"Bagus, apapun yang terjadi di hidupmu. Jangan pernah tinggalkan sekolah, karena itu sangat penting dan akan merubah masa depanmu." tukas Irene dengan mengelus tangannya dengan lembut. "Aku akan membantumu dan berharap kehidupan yang lebih baik selagi kamu berusaha ya. Jadi mulai sekarang jangan sungkan padaku." ujarnya lagi.
Sila mengangguk, memegang janji Irene yang akan membantunya. Fikirannya masih tentang Irene yang akan menjadi Ger mo untuknya, dan dia tidak peduli jenis bantuan yang akan di berikan Irene itu berada di jalan benar atau salah, asalkan menghasilkan uang.
Setelah makan malam spesial menurut Sila itu, Irene pamit pergi terlebih dahulu. Karena terbatas waktu dan takut ketahuan oleh Reno. Namun sebelum pergi dia menitipkan sesuatu pada Cecilia juga tentu saja bayaran yang tinggi atas kerja kerasnya selama beberapa hari ini.
Cecilia mengantarkan Irene keluar ruangan dan kembali duduk dihadapan Sila yang menatapnya tajam.
"Lo nipu gue kak!" sentaknya mengagetkan Cecilia yang baru saja akan duduk.
"Nipu apaan? Ngaco lo!" ujarnya dengan menghempaskan bokongnya di kursi.
"Lo katanya ketemu istri Daddy lo! Tapi ternyata dia baik dan gak marah marahin gue, sebenarnya gimana sih! Gue bener bener gak ngerti, terus kenapa dia tahu kondisi keluarga gue. Dia itu ger mo kan?"
Cecilia tertawa hingga terpingkal. "Jadi lo berfikir dia yang bakal jual lo dan kasih lo duit banyak?"
Cecilia kembali tertawa, bahkan sampai kedua matanya basah.
"Ya terserah lo aja. Yang pasti lo gak bakal nyesel. Nih buat lo." Cecilia menyerahkan amplop yang dititipkan Irene untuk Sila.
Sila menatap amplop yang diletakkan di atas meja, tangannya mengepal dibawah meja. Dia enggan menerimanya apalagi mengambilnya, hanya menatapnya saja.
"Ayo buka! Lo bakal seneng kalau lo lihat apa yang ada di dalemnya, gue udah bilang lo gak bakal nyesel, kedepannya lo gak harus khawatir masalah duit lagi. Lo masih bisa lanjutin sekolah dan bantuin ibu lo." terang Cecilia, dia kembali menyuap makanan yang masih tersisa banyak. "Oh satu lagi. Lo boleh bawa makanan ini buat keluarga lo di rumah. Ok!"
"Tante Irene itu Ger mo kan?"
Cecilia menggelengkan kepalanya, "Bukanlah, ngaco lo! Dia istri daddy gue. Gue kan udah bilang sama lo kalau dia itu istrinya daddy gue."
"Jadi lo manfaatin dia?"
"Iya ... Karena gue tahu Tante Irene baik! Ini juga gue lakuin buat lo!"
"Lo udah tahu tante Irene baik tapi lo manfaatin dia, lo ada maen sama suaminya."
Cecilia tertawa kecil, dia menopang dagu dengan satu tangannya, "Yang baik itu Irene, bukan Reno. Yang gue manfaatin itu Reno, gue cuma manfaatin kebaikan Irene buat bantuin lo. Paham lo! Biar lo bisa keluar dari kemiskinan lo! Biar lo dan adik adik lo hidup dengan layak, lo buktiin sama bokap lo yang kabur dan gak tanggung jawab itu kalau lo mampu."
"Lo sengaja kan ngejual kondisi keluarga gue Kak? Lo bilang lo mau bantuin. Kasih gue kerjaan, tapi lo justru ngejual kemiskinan gue. Hah?" Tak disangka Sila benar benar marah saat kemiskinan keluarganya lagi lagi di ungkit. "Gue gak mau di kasihani sama siapapun, termasuk Tante Irene, kalau dia kasih gue duit karena kasian, gue gak mau! Lebih baik gue jual diri aja. Dan lo! Lo gak tau apa apa tentang keluarga gue, jadi lo gak ada hak buat ngomong masalah kehidupan keluarga gue. Mau miskin atau enggak! Lo gak ada hak ikut campur."
"Bego banget lo! Lo fikir mudah hidup setelah lo jual diri? Lo fikir semudah itu?"
"Terserah! Tapi gue bakal ngomong sama Tante Irene semuanya, gue bakal jujur dan bilang siapa lo sebenarnya. Siapa gue. Gue gak mau jadi penipu." ujarnya bangkit dari kursi, melenggang pergi menuju pintu keluar.
"Hidup emang pilihan, terserah lo milih yang mana, gue gak akan maksa." Cecilia menghela nafas panjang, "Gue udah biasa ketahuan sama istri daddy daddy gue, paling mereka bakal cari gue, gue cuma kena damprat dan disuruh pergi! Tapi setelah itu ...!" Cecilia bangkit dari duduknya menatap punggung Sila yang langkahnya terhenti, "Gue yang bakal cari lo. Gue gak segan minta lo ganti rugi bahkan sepuluh kali lipat. Lo bakal kehilangan kesempatan hidup lebih baik."
Sila membalikkan tubuhnya, dia menatap sinis ke arah Cecilia yang mengulas senyum. "Lo emang licik!"
"Ya gue emang licik! Lo fikir hidup ini semudah lo ngedipin mata, menurut lo! Kerjaan gue selama ini yang bikin gue kayak gini itu apa? Lo fikir sekali lagi, kalau gue gak licik! Gue gak bakal bisa bertahan di dunia ini. Gue pasti udah mati karena kemiskinan! Ngerti lo!"
.
.
Kenapa lo Ce ... Sensi amat lo! Wkwkwk,
Hari ini othor bakal 3 chap lagi, inget like dan komen jangan pelit ya hihihi.