I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab. 239(Ngaca 70 kali)



Mobil yang dikendarai Irsan menepi disebuah mini market, Irsan melepaskan seat belt yang melingkari tubuhnya. "Ayo turun, aku rasa bahan persediaan makanan di apartemen hanya sisa sedikit."


"Hah ... Ah .. Iya!" Cecilia mengangguk lantas mengikuti jejaknya yang sudah keluar dari mobil.


Mereka berdua masuk ke dalam minimarket, dengan cekatan Irsan mengambil troly dan mulai memasukkan bahan bahan yang dibutuhkan, sementara Cecilia hanya mengikutinya bak seorang anak itik. Kedua alisnya mengkerut saat Irsan melangkah ke arah perdagingan, memilih serta mengambil ikan ikan segar dan juga daging tanpa ragu.


Jelas itu pekerjaan mudah, pekerjaan yang sangat umumndilakukan oleh seorang wanita. Banyaknya kaum hawa ditempat itu yang menoleh pada sosok tinggi tegap dengan rahang kuat dan mata elang miliknya membuat tingkat kebanggaan Cecilia semakin tinggi, merasa bangga bukan hanya karena Irsan yang baik hati dan setia, tapi juga sangat perhatian dalam hal hal sepele.


Lamat lamat Cecilia memperhatikan gerak geriknya, diberbagai sisi yang tampak sempurna. Berdecak kagum saat Irsan meliriknya lalu tersenyum.


"Astaga ... Laki gue!"


Tidak ada kebahagian yang melebihi kebahagiaannya saat ini, bersama seseorang yang tidak hanya menerima apa adanya dengan segala kekurangannya, bahkan mampu membulak balikkan dunianya. Dunia gelap nan kelam yang tiba tiba bersinar benderang.


Cecilia memeluknya dari belakang, ingin menyudahi khayalan khayalan para kaum wanita yang melirik suaminya tanpa kedip. Memangkas bayangan bayangan dalam fikiran mereka tentang pria miliknya.


"Sayang ... Gimana kalau kita kesana, aku ingin beli cemilan!" Cecilia sengaja mengeraskan suara, bahkan kalau perlu memakai mikrofon agar mereka langsung menuju gendang telinga mereka kalau Irsan miliknya seorang.


Irsan menoleh, lantas menoleh pada orang orang yang sengaja menoleh kepadanya dengan tersenyum.


"Cemilan?" tanya nya dengan memasukkan daging tanpa peduli disampingnya seorang yang sejak tadi menatapnya.


Cecilia mengangguk, masih merekatkan tangan pada pinggangnya, "Yang manis sih,"


"Tidak bisakah kau hanya melihatku saja. Aku bisa sangat manis." ujar Irsan dengan menatapnya.


Cecilia ingin tergelak, Irsan memang bersikap lebih manis akhir akhir ini, terlebih sekarang.


"Juga tidak menyebabkan diabetes." lanjut Irsan yang mencuci tangan pada wastafel yang telah tersedia di sana.


"Aaaahhh ... Manisnya suamiku!"


Irsan menarik tangan Cecilia, sementara satu tangannya mendorong troly untuk menuju ke rak rak cemilan. "Ayo pergi."


Astaga ... kenapa aku seperti melihat drama korea, mereka sangat manis.


Oh ya ampun, dimana aku bisa menemukan pria seperti itu.


Cecilia terkekeh saat telinganya dengan jelas mendengar gumaman gumaman mereka saat melihat ke arahnya dan juga Irsan, merekatkan tangan pada jemari Irsan yang berurat.


"Udah ah belanjanya, makin lama nanti makin keenakan mereka!" cicit Cecilia kemudian.


"Bukankah kau ingin cemilan tadi?"


"Ya tadi, tapi sekarang enggak, ayo kita pulang." Ajak Cecilia yang menarik tangan Irsan unyuk segera menuju kasir.


Nyatanya memang bukan tanpa alasan jika Irsan yang notabene pendiam itu lebih memilih bersikap datar dan dingin, selain karakter dirinya, faktor umumnya juga berpengaruh, dengan banyaknya mata yang menatapnya nakal bukan hanya dari pengunjung saja, namun juga dari penjaga kasir.


Alih alih menghitung belanjaannya, justru dia terus menatap Irsan yang tengah mengeluarkan barang barang belanjaannya dari troly.


"Wei mbak ... Ayo itung, mau nunggu perih tuh mata karena lihatin suami orang?" dengus Cecilia yang pada akhirnya tidak kuasa menahan emosinya lagi.


Kasir itu mengangguk, kedua tangannya mulai berkutat dengan pekerjaannya. Irsan menoleh lantas mengulas senyuman pada sang Istri yang mendengus.


"Lain kali biar aku aja yang belanja! Se n di ri!" ujarnya penuh penekanan emosi.


Irsan yang hanya mengulas senyuman itu mengeluarkan kartu hitam miliknya dari dalam saku. "Kalau begitu kau yang selesaikan, aku tunggu di mobil saja." ujarnya yang menyerahkan kartu pada Cecilia.


"Heh?" Kasir dengan nada kecewanya hanya bisa mengikuti sosok pria tampan yang berjalan keluar.


"Mbak suka cowok tipe tipe begitu ya?" tanya Cecilia kemudian.


"Aaah ... Maaf mbak!"


"Biar gue kasih tahu Mbak kalau pengen dapetin cowo kayak dia."


"Apa Mbak?" Tanya nya ragu, dengan menyerahkan kembali kartu hitam milik Irsan setelah selesai transaksi pembayaran.


Cecilia mengambil barang belanjaan, tidak lupa dengan kartu hitam milik suaminya.


"Ngaca 70 kali!" dengusnya lalu melangkah keluar. "Enak aja pengen cowo kayak laki gue," gumamnya saat keluar dari mini market.


Brak!


Gadis 20 tahun itu menyimpan belanjaannya begitu saja di bagasi saat Irsan terlihat berdiri disamping bagasi menunggunya.


"Kamu nanti gak usah belanja lagi di mini market ini! Aku gak suka." ujarnya melengos masuk kedalam mobil lebih dulu.


Tak lama Irsan menyusulnya masuk, melihat sang Istri yang mengkerutkan kedua dahinya dengan wajah yang di tekuk kesal.


"Hm ... Jelas gak suka lah! Ngapain coba, mereka mau goda godain kamu?"


"Tidak apa apa, berarti penglihatan mereka bekerja dengan baik! Dan aku tidak bisa melarang mereka untuk melihat objek mereka, aku sendiri hanya akan melihatmu. Jadi tidak perlu khawatir." terang Irsan yang kemudian mulai melajukan mobilnya. "Aku tidak bisa digoda hanya karena tatapan nakal mereka yang tidak jelas saja." gumamnya lagi dengan mengulum bibir.


Cecilia menoleh kearahnya dengan mengernyit, lalu tersenyum seolah baru sadar. "Ah ... Iya, aku saja yang menggodamu habis habisan baru direspon itu lama banget."


Irsan mengangguk anggukkan kepalanya, seolah ikut setuju dengan ucapan Cecilia.


"Jadi apa yang kau khawatirkan lagi?"


Cecilia melingkarkan tangan, lantas bergelayut manja pada lengannya. "Aaahhh ... Mas dokter sayangku."


"Jadi kau masih ingin bersikap gegabah?"


Cecilia menggelengkan kepalanya, "Aku cemburu sayang ...!"


"Kau ini."


Mobil akhirnya masuk ke dalam basement apartemen, keduanya keluar dari mobil dengan masing masing belanjaan ditangannya, Cecilia kembali bersenanding riang, tidak ada lagi alasannya untuk cemburu karena Irsan tidak mudah diperdaya apalagi tergoda.


"Aku akan memasak makan malam kita!" desis Cecilia saat masuk ke dalam kotak besi.


"Kau bisa memasak?"


Cecilia terkekeh, "Enggak!"


"Kalau begitu tidak perlu, lakukan yang bisa kau lakukan saja, jangan terlalu memaksakan diri sendiri." ujar Irsan.


Cecilia memicingkan kedua matanya, dengan senyuman melengkung khas ke arahnya. "Kau yakin?"


Ting


Lift terbuka, mereka berjalan ke arah apartemen yang kini di tinggali Cecilia. "Ya ... Kamu tidak perlu memaksakan diri kalau kamu tidak bisa memasak."


"Ya ... Tapi aku juga punya keahlian lain!"


"Selain menggodaku. Apa lagi?"


Cecilia terkekeh, membuka pintu unitnya lalu masuk.


"Apa sekarang kita tinggal di sini lagi? Ini sangat membingungkan." Irsan menyimpan barang belanjaan diatas meja.


Cecilia memeluknya lagi dari belakang, "Selain membingungkan apa lagi. Pernikahan ini emang mendadak banget sekaligus sangat menyenangkan."


"Benarkah? Kau senang?" Irsan membalikkan tubuhnya dan mengangkatnya ke atas meja makan.


"Hm ... Aku senang bisa jadi Dini." Kedua tangannya siap melingkar di leher Irsan.


"Dini?"


"Ya ... Istilah yang biasa aku dan Nita omongin. Dini itu dinikahi." Cecilia terkekeh, wajahnya jelas terlihat berseri bahagia.


"I love you so much Cecilia." desis Irsan yang menarik dagu istrinya dan meyambar lembut bibirnya yang tipis.


Keduanya saling berpagutan, dengan tangan Cecilia yang melingkari leher tegap Irsan, begitu juga Irsan yang merekatkan tangan di pinggangnya. Kedua lidah itu kembali saling membelit satu sama lain, saling merasai dengan penuh penghayatan begitu dalam.


Kedua mata terpejam indah, saat suara decakaan demi decakaan mulai terdengar, saling menari nari didalam sana. Dengan satu tarikan saja, Irsan mengangkat tubuh Cecilia dengan kedua kaki yang membelit di pinggangnya. Pria itu mendorong pintu kamar menggunakan tapak sepatu yang dikenakannya tanpa melepaskan pagutannya.


Eeeummmpphh


Cecilia melenguh, saat Irsan membaringkan tubuhnya diatas ranjang dengan terus bertautan, begitu lembut sampai tanpa dia sadar jika sudah terbaring dikasur empuk.


"I love you so much Cecilia."


.


.Cie cie ... Nungguin yaa, wkwkw Othor mah gangung terus ih.


Wkwkw sabar yaa sabar, soalnya mereka melakukannya dengan sadar, tanpa paksaan, dan udah pasti ada prosesnya, gak langsung bress aja kek biasanya. Kwkwk.


Sekali lagi judul tentang Nita judulnya Jerat ranjang sang sugar baby, udah jelas akan up tiap hari walau jadwal jam nya masih berantakan yaa.


Judul,


...Jerat ranjang sang sugar Baby....