
Cecilia mengangguk lirih pada Ines yang terus menatap kearahnya selama dia bicara, ada benarnya juga apa yang dikatakan Cecilia padanya, jika irsan tidak pandai dalam berkata-kata terlebih mengungkapkan apa yang dia rasakan. Sementara Pria yang sedang diperbincangkan itu mengulas senyuman di balik pintu kamar dengan semua yang dia dengar. Dia bersandar di samping pintu kamar yang sedikit terbuka hingga suara Cecilia yang berubah menjadi seorang penasehat terdengar jelas.
Nasihatnya pada Ines yang justru jauh lebih dewasa darinya, tapi sekali lagi kedewasaan seseorang tidak terlihat dari umur saja, atau pemikiran-pemikiran yang muncul tiba-tiba pada Cecilia yang berubah menjadi lebih baik.
"Kalau nggak gini deh, gue tahu lo sering banget kan gagal kencan apalagi kalau ikut kencan online. Cobe deh lo minta pendapatnya saat lo mau ketemu temen kencan lo. Biasanya mereka punya skill tersenyembunyi yang bisa mengenali kau mereka sendiri." tukas Cecilia. "Biar lo gak zonk mulu tiap kencan ya kan, satu yang harus lo tahu Kak jangan jadi gampangan karena kita terlalu gagal." tambahnya lagi bak seorang monivator.
"Iya kan ini gagal gasa gara dia juga. Memang benar kencan gue selalu gagal dan gagal dan semua kencan gue Ihsan yang gagalin, entah dia yang ngerusakin acara gue atau entah dia yang bikin pria itu mundur saat kencan di hari pertama, menyebalkan!" ucap Ines yang lagi-lagi bicara dengan bahasa yang tidak formal karena bicara dengan Cecilia yang juga apa adanya.
"Ya kayak yang gue bilang tadi Kak. Dia itu sebenarnya keberatan sama pilihan lo yang asal itu.
Tiba-tiba pintu terbuka, Irsan masuk setelah mendengar kedua wanita itu membicarakan dirinya.
"Itu memang benar ini semua pilihanmu tidaklah masuk Kriteria seorang pria yang wajib kau kencani!"
"Memangnya kau tahu kriteria pria yang wajib aku kencani. Tidak kan. Kau hanya bisa merusaknya tanpa bisa memberi solusi." timpal Ines yang mendadak kembali kesal pada sepupunya itu.
Ihsan menghela napas, perubahan ini terlihat begitu kentara dengan sifat Ines yang kekanak-kanakan. Dia mungkin terlalu kecewa karena selalu gagal dalam berkencan.
"Dengar Ines, pria yang baik tidak akan mencari wanita kencan di jejaring sosial. Paham? Terlebih lagi seorang pria sejati tidak akan mudah memutuskan wanita sebagai teman hidup, mereka tahu mana yang bisa dijadikan istri atau hanya sesaat saja. Mengerti?" terangnya.
Cecilia ikut mengangguk setuju. sepasang suami Istri kini berubah menjadi penasihan percintaan, padahal perjalanan mereka rumit.
"Jodoh itu bisa bertemu di mana saja, tidak harus dicari. Aku saja tidak mencarinya selama ini, tapi jodoh datang sendiri dan tanpa bisa diduga." Irsan kembali berucap.
Cecilia tersenyum mendengarnya, dengan memicingkan mata genit kearar Irsan namun tidak dengan Ines yang mendengus saat melihat keduanya. "Itu kan kalian. Berbeda denganku!"
"Kau ini kenapa seperti anak-anak begini?"
"Ya nggak apa-apa sih!"
"Memengnya kenapa dengan dunia online, banyak kok yang berjodoh dan ketemu jodohnya di sana."
Cecilia tidak memiliki prinsip, sebentar sebentar memihak Ines, sebentar lagi memihak Irsan. "Kalau pun belum ketemu jodohnya yang sesuai anggap aja kalau kencan online itu sebagai pengalaman aja.
"Tidak. Jangan membuat aneh-aneh atau mengajarinya yang tidak tidak Cecilia."
"Iya Iya aku tahu ... aku juga gak mau dan gak akan mau mengajari hal yang buruk kok.
" Kalau begitu Kau pilihkan saja teman kencan untukku, yang sesuai dengan kriteriamu. " ujarnya dengan penuh penekanan.
Irsan berdecak. "Ayo kita pulang saja. Biarkan dia yang tidak pernah pahami."
"Kalian enak saja senang-senang berdua sementara aku ...!"
" Ah Sudahlah mungkin jodoh Kak Ines sedang dijaga oleh orang lain." goda Cecilia yang membuat mendengus nanti. "Aku ajarkan caranya bagaimana untuk mendapatkan laki-laki yang baik seperti kakak sepupumu itu." bisik bisik Cecilia pada telinga Ines.
"Fokus aja Kak." ujar Cecilia lagi yang bangkit Dari Ranjang menghampiri Irsan lalu melingkarkan tangannya di pinggang. "Ya kan sayang. Butuh keberanian untuk mendapatkan sesuatu yang terlihat baik, Jodoh yang baik itu nggak akan datang kalau kita nggak berusaha sayang. Seperti aku yang berusaha mendapatkanmu dengan segala macam cara termasuk cara-cara licik."
Ines tertawa mendengar celotehan Cecilia.
"Itu Istrimu saja mengakui kalau dia melakukan hal-hal licik untuk mendapatkanmu!"
"Kenapa jadi membahas aku," Irsan mendadak lesu melawan semua wanita. "Tidak boleh apalagi Carl si brengsekk itu."
"Iya aku tidak akan lagi berhubungan dengannya dia payah karena tidak bisa melawanmu. Padahal dia terkenal sekali sangat wibawa dan juga tampan tapi kau lebih menakutkan darinya."
"Tertentu saja suamiku emang yang terbaik dari yang terbaik, bahkan seorang Casanova saja lewat!"
"Oke cukup, kita pulang ... !"
"Aku pulang dulu ya, nanti aku kasih tahu trik-triknya sama kakak oke." Cecilia melambaikan tangan kearahnya.
Keduanya keluar dari unit dengan berpegangan tangan dan menggenggam satu sama lain.
" Ingat aku tidak mengizinkan kamu untuk memberitahu hal-hal yang buruk pada ines."
" Dia terlihat dewasa tapi sebenarnya dia tidak lebih dewasa darimu, hanya karena kencan selalu gagal dia menerima semua pria yang mendekatinya. Padahal mereka mendekatinya hanya karena ingin mengambil keuntungannya saja,
"Ya emangnya salah?"
"Bukan begitu sayang, harusnya kau paham,"
"Sifatmu selalu begitu, Kan wanita pengennya dipuja dipuji di manja apa gitu." Terang cecilia lagi.., terlebih adalah para pria yang selalu pikiran buruk yang memanfaatkan Kami para wanita,"
"Ya kamu tahu aku tidak begitu."
" Ya aku juga tahu kamu tidak begitu!"
Mereka berdua saling ribut sama pendapatnya tentang gender pria dan wanita, saling mempertahankan pendapatnya masing-masing.
"Ya Kamu kenapa bilang pria itu berarti semua pria termasuk aku."
"Ya Aku kan nggak bilang begitu, Kamu juga bilang wanita itu berarti semua wanita termasuk aku!" tukas Cecilia tanpa menghentikan langkahnya.
" Sudahlah Kenapa kita jadi ribut begini!"
"Itu gara-gara kau yang memulainya, kalau gak nyebut wanita itu ya kenapa emangnya."
"Kenapa kita ribut itu gara-gara kamu saja!"
Keduanya masih saling ribut terus berdebat sampai mereka tiba di unit mereka sendiri.
"Tahukan aku tidak suka di bandingkan!" Irsan masuk dan langsung menjatuhkan dirinya di sofa.
"Siapa juga, aku hanya bicara secara garis besar Kalau pria itu memang berpikiran seperti itu kepada wanita!" "Tapi tidak semua, kan ... Contohnya aku, Aku tidak macam.macam.
"Y ... ya Itu kan kamu, aku juga tidak bilang itu kamu!"
"Ah sudahlah aku tidak mau berdebat denganmu." Cecilua masuk ke dalam kamar.
Pria berusia 40 tahun itu menghela nafas. Bangkit dari duduknya dan menyusul Cecilia.
" Lebih baik kita bicarakan masa depan!"
Cecili yang tengah membersihkan wajahnya dengan toner itu menoleh.
"Masa depan apa?"
"Tentu saja masa depan kita Cecilia Kamu bodoh sekali."
"Nah tuh, kan kamu yang mulai mencari keributan di rumah tangga yang baru seumur jagung ini!" Ketus Cecilia.
"Astaga ...! Kenapa aku salah terus."